PALU — Perguruan tinggi di Sulawesi Tengah memperkuat perannya dalam penanggulangan Tuberkulosis (TB) melalui Gerakan Berani Magaya atau Berantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga (MAGAYA). Gerakan yang diluncurkan pada puncak Dies Natalis ke-9 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako (Untad), Sabtu (22/8/2026), tersebut melibatkan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Sulawesi Tengah.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mengapresiasi inisiatif tersebut sebagai bentuk nyata perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kesehatan masyarakat. Menurutnya, kampus tidak cukup hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kehebatan kampus harus ditunjukkan seberapa besar manfaat kampus terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya,” ujar Fauzan.
Gerakan Berani Magaya lahir dari kepedulian terhadap masih tingginya penemuan kasus TB di Sulawesi Tengah, khususnya di Kota Palu. Melalui gerakan ini, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dilibatkan untuk mendampingi pasien TB dan keluarganya selama enam bulan.
Pendampingan mencakup edukasi dan peningkatan literasi TB, pemberian motivasi kepada keluarga, deteksi dini kendala pengobatan, pemantauan kepatuhan minum obat, hingga pengumpulan data melalui sistem surveilans digital. Program perdana melibatkan 1.073 mahasiswa, 155 dosen, dan delapan program studi, dengan dukungan seluruh puskesmas di Kota Palu serta sejumlah puskesmas di Poso, Tolitoli, dan Banggai.
Menariknya, gerakan tersebut tidak berdiri sebagai kegiatan pengabdian semata. Aktivitas mahasiswa diintegrasikan dengan pembelajaran melalui mata kuliah Surveilans sebanyak 3 SKS dan Teknologi Kesehatan Digital sebanyak 2 SKS. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai TB di ruang kelas, tetapi juga menerapkan pengetahuan tersebut langsung di tengah masyarakat.
Pelaksanaan pendampingan didukung aplikasi Berani Magaya, notifikasi SMS dan WhatsApp, logbook harian, serta supervisi dosen dan tenaga kesehatan. Model ini diharapkan sekaligus menghasilkan data surveilans yang dapat mendukung upaya penanggulangan TB secara lebih terarah.
Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa upaya pemberantasan TB harus berfokus pada infeksinya, bukan menjauhi penderitanya. Dukungan keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting agar pasien disiplin menjalani pengobatan hingga sembuh.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri RI Akhmad Wiyagus menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, fasilitas kesehatan, dan masyarakat dalam memperluas deteksi kasus TB. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mengatasi kesenjangan penemuan kasus di masyarakat.
Rektor Untad Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., menyatakan bahwa Gerakan Berani Magaya merupakan bagian dari komitmen Untad sebagai Kampus Berdampak dalam mendukung program pemerintah dan mewujudkan masyarakat yang sehat.
Melalui gerakan ini, kampus menunjukkan bahwa pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas. Mahasiswa turun langsung menjadi bagian dari solusi, dosen memberikan pendampingan, fasilitas kesehatan memperkuat layanan, dan pemerintah memastikan gerakan berjalan dalam ekosistem yang lebih luas.
Dari kampus, gerakan ini dimulai. Dari kolaborasi, dampaknya diperluas. Dan dari kepedulian bersama, upaya menuju Indonesia bebas TB terus diperkuat.






