UNDIP, Semarang (12/9) – Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menyelenggarakan The 11th International Conference on Indonesian Social and Political Enquiries (ICISPE) pada 11–12 September 2026. Konferensi internasional ini mempertemukan akademisi dan peneliti dari Indonesia dan berbagai negara untuk membahas persoalan sosial-politik kontemporer, khususnya isu tata kelola lingkungan, perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan.
Penyelenggaraan ICISPE menjadi bagian dari upaya UNDIP memperkuat produktivitas riset, publikasi ilmiah, inovasi, serta jejaring kerja sama akademik internasional. Bagi FISIP UNDIP, konferensi ini sekaligus menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat reputasi akademik menuju posisi yang lebih kompetitif di tingkat global.
Dekan FISIP UNDIP, Prof. Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin., mengatakan pemilihan isu lingkungan dalam ICISPE tidak terlepas dari pentingnya persoalan tersebut dalam tata kelola pemerintahan saat ini. “Ini adalah seminar internasional, jaringan kami sudah sangat luas. Selain narasumber dari dalam, ada juga dari beberapa negara,” kata Teguh, Jumat (11/9/2026).
Menurut Teguh, governance memiliki cakupan yang luas, termasuk bagaimana pemerintah merumuskan kebijakan dalam menghadapi persoalan lingkungan dan perubahan iklim. Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam konferensi adalah environmental digital governance. Ia menjelaskan, tata kelola pemerintahan dan lingkungan tidak lagi dapat dilakukan secara konvensional, tetapi perlu memanfaatkan perkembangan teknologi digital.
“Tidak hanya sekadar FISIP di tingkat nasional, tapi juga di tingkat internasional. Mengangkat tema mengenai tata kelola lingkungan, bagaimana government policy dan ini sebetulnya bagian dari proses itu,” ujarnya.
Teguh menambahkan bahwa ICISPE juga menjadi bagian dari upaya FISIP UNDIP meningkatkan reputasi akademik di tingkat global. FISIP UNDIP saat ini telah masuk dalam kelompok 500 besar dunia dan menargetkan dapat menembus 300 besar dunia dalam beberapa tahun mendatang. Peningkatan produktivitas publikasi ilmiah, khususnya artikel yang terindeks Scopus, menjadi salah satu strategi yang dilakukan.
“Semua seminar hari ini produknya adalah Scopus artikel. Kami akan mendapat sekira 100 dan itu akan berkontribusi untuk UNDIP yang menargetkan sekira 3.000 Scopus artikel,” jelasnya.
UNDIP Dorong Respons terhadap Persoalan Lingkungan
Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama UNDIP, Wijayanto, Ph.D., mengatakan isu lingkungan merupakan salah satu persoalan global yang tidak dapat lagi diabaikan. “Masalah-masalah lingkungan ini sangat penting. Jika tidak bicara tentang lingkungan, maka kemudian tertinggal dari percakapan dunia. Percakapan dunia hari ini adalah tentang masalah-masalah lingkungan hidup,” katanya.
Menurut Wijayanto, perubahan iklim bukan hanya menjadi tantangan bagi generasi saat ini, tetapi juga merupakan tanggung jawab terhadap generasi mendatang. Ia mencontohkan dampak perubahan iklim yang dirasakannya saat berkunjung ke Prancis pada akhir Juli 2026 ketika negara tersebut mengalami gelombang panas yang disebutnya telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang meninggal. “Dampak dari perubahan iklim itu satu hal yang nyata sekali dan secara global berdampak,” ujarnya.
Persoalan lingkungan juga dirasakan pada tingkat lokal. Wijayanto mencontohkan kawasan Demak di pesisir Pantai Utara Jawa yang menghadapi persoalan banjir rob. Kondisi tersebut tidak hanya menggenangi permukiman, tetapi juga memengaruhi ketersediaan air bersih akibat intrusi air laut. “Di sana airnya asin sehingga tidak bisa dikonsumsi sehari-hari,” katanya.
Sebagai bagian dari komitmen menghadirkan solusi bagi masyarakat, UNDIP turut mengembangkan pemanfaatan mesin desalinasi untuk mengubah air asin atau payau menjadi air siap minum. Wijayanto menilai isu yang dibahas dalam ICISPE ke-11 relevan dengan kondisi tersebut karena persoalan lingkungan dapat dipahami sekaligus pada skala global dan lokal. “Problem global, problem dunia yang terefleksi tidak hanya secara global, tapi juga di skala lokal,” ujarnya. “Di Semarang, daerah Simpang Lima yang dulu tidak pernah banjir, sekarang banjir,” tambahnya.
Ketua Panitia ICISPE ke-11, Dr. Mohamad Rosyidin, S.Sos., M.A., mengatakan konferensi tersebut menjadi wadah internasional bagi akademisi untuk menyampaikan gagasan dan pemikiran terkait berbagai isu yang dibahas. “ICISPE merupakan diskusi internasional yang menjadi wadah bagi para akademisi untuk menuangkan pemikiran-pemikirannya dengan tema terkait. Melalui forum ini, kami berharap terjadi pertukaran gagasan dan perspektif yang dapat memperkaya diskursus akademik serta membuka peluang kolaborasi akademik dan penelitian,” ujar Dr. Mohamad Rosyidin.
Forum tersebut mempertemukan akademisi dari berbagai latar belakang dan negara untuk membahas isu lingkungan, tata kelola, pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim, dan transisi energi dalam perspektif sosial dan politik. Untuk memperkuat perspektif internasional, ICISPE ke-11 menghadirkan lima keynote speakers dari Indonesia dan luar negeri.
Prof. Dr. Sudharto P. Hadi dari Universitas Diponegoro membahas Green Industry and Sustainable Development serta ESG and Multi-Stakeholder Collaboration for Responsible Governance. Sementara Prof. Dr. Ika Riswanti Putranti, juga dari Universitas Diponegoro, mengangkat International Environmental Cooperation dan Energy Transition Governance.
Dari ODI Global, Dr. Mirza Sadaqat Huda membahas Geopolitics of Energy Transition dan Just Energy Transition. Dr. Wai Man Natalie Wong dari National Chengchi University mengangkat Comparative Climate Governance dan Environmental Policy Innovation berdasarkan pengalaman Asia Timur.
Sementara itu, Prof. Mamoon Allan dari University of Jordan membahas Sustainable Geotourism and Green Growth, termasuk pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan. Kehadiran para pembicara tersebut memperlihatkan bagaimana isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan memiliki keterkaitan erat dengan tata kelola pemerintahan, kebijakan publik, energi, ekonomi, teknologi, dan masyarakat.
Memperkuat Riset dan Kolaborasi Internasional
Melalui ICISPE, UNDIP terus mendorong penguatan ekosistem riset dan kolaborasi internasional. Konferensi tidak hanya menjadi ruang presentasi hasil penelitian, tetapi juga membuka peluang pertukaran pengetahuan, pengembangan riset bersama, publikasi ilmiah, serta perluasan jejaring akademik.
Bagi FISIP UNDIP, penguatan forum akademik internasional tersebut menjadi bagian dari agenda menuju World-Class Faculty, sekaligus mendukung agenda UNDIP dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah serta memperluas kontribusi akademik di tingkat global.
Penyelenggaraan ICISPE ke-11 pada 11–12 September 2026 menjadi bagian dari upaya berkelanjutan UNDIP untuk mempertemukan pengetahuan, riset, dan kolaborasi dalam merespons berbagai tantangan sosial dan politik, baik pada tingkat global maupun lokal. (Komunikasi Publik/UNDIP/Muhammad Rif’at Al-Razi)







