FLS 2026 Dorong Mahasiswa Jadi Agen Perubahan, dari Berpikir Kritis hingga Menghadirkan Solusi

News

08 Oktober 2026 | 15.00 WIB

FLS 2026 Dorong Mahasiswa Jadi Agen Perubahan, dari Berpikir Kritis hingga Menghadirkan Solusi

Depok—Mahasiswa didorong untuk tidak hanya memahami persoalan masyarakat, tetapi juga berani mengambil peran sebagai agent of change melalui gagasan, data, dan aksi nyata. Dorongan tersebut disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Syahganda Nainggolan dalam Indonesia Future Leaders Summit (FLS) 2026, Kamis (8/10).


FLS 2026 menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Future Leaders Camp (FLC) yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), yang sebuah wadah regenerasi kepemimpinan, ruang pembelajaran, dan kolaborasi bagi para mahasiswa pemimpin organisasi. Pada 2025, FLC dilaksanakan di lima regional dengan melibatkan 295 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. 


Dalam sesi diskusi, mahasiswa dari lima regional menyampaikan berbagai persoalan di daerah masing-masing, mulai dari keterbatasan akses masyarakat, pemulihan pascabencana di Aceh, persoalan pengelolaan sampah dan lingkungan di Surakarta, hingga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat. Aspirasi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengalaman di daerah dengan peran kepemimpinan yang dapat mereka ambil.


Kepala Bakom kemudian menyampaikan komitmennya untuk membantu membangun komunikasi antara pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Menurutnya, mahasiswa juga dapat mengambil peran dengan mengumpulkan informasi serta data dari lapangan untuk membantu memperjelas persoalan yang perlu ditindaklanjuti.


Menanggapi aspirasi terkait pengelolaan sampah, teknologi, dan Karhutla, Kepala Bakom, Syahganda menekankan pentingnya kolaborasi serta pemanfaatan pengetahuan dan teknologi dalam membangun solusi atas persoalan masyarakat.


“Besarnya persoalan karhutla ini semoga dipahami jadi persoalan bersama. Diharapkan kita saling sharing informasi. Saya akan terima masukan apabila nanti ada kejadian-kejadian yang perlu ditindaklanjuti,” jawab Kepala Bakom, Syahganda.


Kepala Bakom lalu menilai para peserta FLS 2026 perlu memahami dirinya sebagai pemimpin, bukan sekadar pengamat. Menurutnya, seorang pemimpin perlu memiliki pengetahuan, mampu menyampaikan pengetahuan tersebut kepada orang lain, serta menjalankannya dalam tindakan.


“Bahwa sebuah bangsa besar itu hanya bisa tumbuh berkembang kalau anak-anak mudanya progresif revolusioner. Hanya bisa kalau dia progresif revolusioner kalau dia mengerti bahwa dia itu pemimpin. What is a leader? A leader is one who knows the way, shows the way, and goes the way. Dia tahu sesuatu, dia menunjukkan kepada orang-orang tentang yang dia tahu dan dia menjalankan apa yang dia ketahui itu,” tegas Kepala Bakom, Syahganda.


Kepala Bakom mengatakan bahwa para mahasiswa, terutama peserta FLS 2026, memiliki karakter yang peduli terhadap kondisi masyarakat. Mahasiswa didorong untuk mampu memahami persoalan yang dihadapi berbagai kelompok masyarakat dan menjadikannya sebagai bagian dari proses kepemimpinan.


“Kalian itu adalah pemimpin, karena kalian itu berbicara tentang public, society. Kalian mau merasakan apa yang dirasakan rakyat, mau merasakan apa yang dirasakan petani, buruh, kaum miskin kota,” kata Kepala Bakom, Syahganda.


Kepala Bakom juga mengajak peserta membawa semangat kepemimpinan tersebut ketika kembali ke daerah masing-masing. Ia menekankan pentingnya mahasiswa menetapkan cita-cita dan mempersiapkan diri untuk mengambil peran dalam menjawab persoalan masyarakat.


“Nah, kenapa kalian ada di sini? Karena kalian ini harus yakin, habis dari sini, kalian pulang ke daerah masing-masing, tanamkan di dalam jiwa kalian semua, bahwa kalian adalah pemimpin-pemimpin masa depan bangsa Indonesia,” pesan Kepala Bakom, Syahganda kepada para peserta.


Melalui FLS 2026, mahasiswa yang telah mengikuti rangkaian Indonesia Future Leaders Camp (FLC) mendapatkan ruang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan, bertukar gagasan lintas wilayah, serta mengembangkan hasil pembelajaran dari persoalan yang ditemukan di daerah masing-masing. Rangkaian ini diharapkan mendorong mahasiswa untuk membawa pengalaman dan jejaring yang diperoleh selama FLC kembali ke lingkungan kampus dan masyarakat.


Semangat tersebut sejalan dengan upaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Diktisaintek Berdampak untuk mendorong mahasiswa terus berkarya, berdaya, dan berdampak. Dengan bekal kepemimpinan dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat, mahasiswa diharapkan mampu mengambil peran sebagai agent of change dalam menghadirkan gagasan dan solusi bagi Indonesia.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Rate Now