Hadir di Lemhannas, Wamendiktisaintek Paparkan Kegunaan AI untuk Tangkal Misinformasi

News

02 September 2026 | 17.30 WIB

Hadir di Lemhannas, Wamendiktisaintek Paparkan Kegunaan AI untuk Tangkal Misinformasi

JAKARTA — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek), Stella Christie, menegaskan bahwa misinformasi dan disinformasi menjadi tantangan serius yang dihadapi masyarakat di era digital. Dalam paparannya, Wamen Stella mengutip survei internasional terhadap 1.100 pakar dari 136 negara yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai ancaman yang lebih serius dibandingkan pandemi dan polusi. 

Wamen Stella menilai perkembangan kecerdasan buatan turut meningkatkan tantangan dalam membedakan informasi yang benar dan keliru. Ia menyebut tingkat kesalahan informasi dari 10 chatbot AI utama meningkat dari 18 persen pada Agustus 2024 menjadi 35 persen pada 2025. Contoh lainnya gambar hasil rekayasa AI, semakin sulit dibedakan dari foto asli. Pernyataan tersebut disampaikan Wamen Stella saat memberikan kuliah umum, di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Rabu (2/9). 

“Kita percaya hoaks bukan karena bodoh, melainkan karena otak manusia secara alami menggunakan jalan pintas berpikir yang cepat. Begitu kita mengambil jeda dua detik untuk berpikir ulang, kemampuan kita mengenali hoaks meningkat signifikan,” kata Wamen Stella.

Hoaks lebih mudah dipercaya apabila terasa akrab, sejalan dengan pengetahuan yang telah dimiliki seseorang, atau memicu emosi negatif seperti kemarahan dan ketakutan. Hal yang disoroti adalah model bisnis media sosial yang mengutamakan perhatian pengguna atau economy of attention. Karena, algoritma platform cenderung memprioritaskan konten yang memancing emosi dan clickbait, bukan akurasi.  

“Pemeriksaan fakta tetap harus dilakukan, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya solusi karena jumlah hoaks terlalu banyak untuk diperiksa satu per satu. Cara yang jauh lebih murah dan efektif adalah mengingatkan setiap orang untuk berhenti sejenak sebelum membagikan informasi,” ujar Wamen Stella.

Wamen Stella juga mengingatkan pentingnya literasi media digital dan pendidikan berpikir kritis. Pendidikan perlu terus diuji efektivitasnya melalui bukti ilmiah. Pelabelan informasi sebagai hoaks secara berlebihan dapat menimbulkan persoalan baru karena mendorong masyarakat bersikap skeptis terhadap informasi yang sebenarnya benar.  

Kemdiktisaintek mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, membiasakan diri berhenti sejenak dan memeriksa kembali informasi sebelum membagikannya. Kebiasaan sederhana tersebut, menurut dia, merupakan langkah penting untuk memutus rantai penyebaran hoaks di tengah derasnya arus informasi digital. 

Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak
#PentingSaintek
#KampusBerdampak



/

5

Rate Now