Kemdiktisaintek Bahas Pemetaan Talenta untuk Dukung Program PLTS 100 GW

News

27 Oktober 2026 | 20.30 WIB

Kemdiktisaintek Bahas Pemetaan Talenta untuk Dukung Program PLTS 100 GW

Jakarta – Kesiapan tenaga kerja kompeten menjadi salah satu kebutuhan penting, dalam pelaksanaan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt (GW). Untuk memetakan kebutuhan tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) membahas pengembangan talenta energi surya bersama Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), termasuk peran perguruan tinggi dalam menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri (26/10)

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menyampaikan bahwa pemetaan perlu dilakukan untuk mengetahui kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja, termasuk bidang pendidikan yang memerlukan intervensi.

“Kita bisa memetakan dengan jelas secara supply, mengetahui pertama permasalahannya, apakah kita ini undersupply dan jika iya di bidang mana saja,” ujar Wamen Stella.

Pemetaan tersebut diharapkan dapat membantu perguruan tinggi menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri sekaligus meningkatkan kualitas lulusan dan mengurangi pengangguran terdidik

Dalam pemaparannya, AESI menyebut program PLTS 100 GW berpotensi membuka sekitar 5,5 juta lapangan kerja, terdiri atas 3,5 juta pekerjaan di sektor industri dan 2 juta pekerjaan di bidang konstruksi. Namun, kebutuhan tersebut masih menghadapi tantangan ketersediaan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai. AESI memperkirakan tenaga kerja kompeten yang telah teridentifikasi saat ini baru sekitar 10.000 orang.

Kebutuhan tenaga kerja tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari manufaktur panel surya dan baterai, rekayasa desain, perencanaan proyek, konstruksi dan instalasi, hingga operasi dan pemeliharaan. Kebutuhan juga meliputi peneliti dan insinyur riset dan pengembangan (R&D), serta tenaga di bidang manajemen proyek dan pemodelan keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan talenta energi surya memerlukan keterlibatan beragam disiplin ilmu.

AESI juga menjajaki kerja sama dengan perguruan tinggi untuk memperkuat pelatihan, magang, dan penyiapan lulusan sesuai kebutuhan industri energi surya.

AESI turut mengidentifikasi sejumlah kendala dalam penyiapan tenaga kerja, antara lain keterbatasan kapasitas sertifikasi, variasi kualitas pelatihan, perbedaan standar kompetensi, serta akses pembelajaran yang belum terstruktur dan berkelanjutan. Salah satu langkah yang dibahas ialah mengintegrasikan sertifikasi kompetensi, ke dalam kurikulum perguruan tinggi agar lulusan memiliki bekal yang sesuai dengan kebutuhan industri sejak menyelesaikan pendidikan.

Untuk mendukung upaya tersebut, AESI tengah mengembangkan AESI Academy sebagai platform pembelajaran guna memperluas akses terhadap materi pelatihan energi surya.

Wamen Stella menilai, kejelasan jalur sertifikasi penting agar perguruan tinggi dapat menyiapkan mahasiswa sesuai kebutuhan dunia kerja.

“Yang paling efisien adalah jika kita sudah tahu end point dari sertifikasinya,” ujar Wamen Stella.

Dengan mengetahui kompetensi akhir yang dibutuhkan, perguruan tinggi dapat mempertimbangkan integrasi program sertifikasi ke dalam pembelajaran sekaligus memberikan informasi yang lebih jelas kepada mahasiswa mengenai peluang karier di sektor energi surya.

Selain pengembangan tenaga kerja, Wamen Stella meminta AESI mengkaji peta jalan riset energi surya yang telah disusun pemerintah pada Konvensi Sains, Teknologi, Industri dan Indonesia (KSTI) 2025 untuk mengidentifikasi kebutuhan riset yang masih perlu dilengkapi. Menurutnya, perkembangan teknologi panel surya yang terus berlangsung membutuhkan kegiatan riset dan pengembangan berkelanjutan, agar Indonesia dapat meningkatkan kapasitas keilmuan dan industrinya.


Kajian tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi prioritas dan kesenjangan riset, sehingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi energi surya dapat selaras dengan kebutuhan industri. Hasil kajian ini juga dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan penelitian yang relevan, dengan tantangan dan kebutuhan sektor energi surya nasional.


Sebagai tindak lanjut, Kemdiktisaintek merencanakan pembahasan lanjutan bersama AESI dan unit terkait di bidang pendidikan tinggi serta riset dan pengembangan. Pertemuan tersebut akan memetakan keunggulan perguruan tinggi, kebutuhan kompetensi, serta peluang pengembangan pelatihan dan sertifikasi. Langkah ini diharapkan dapat menyelaraskan pengembangan riset dan talenta dengan kebutuhan industri, sekaligus mendukung penguatan ekosistem energi surya nasional.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak



/

5

Rate Now