Kemdiktisaintek Perkuat Arah Riset Berdampak, Perguruan Tinggi Jadi Penggerak Solusi bagi Masyarakat

News

01 November 2026 | 20.00 WIB

Kemdiktisaintek Perkuat Arah Riset Berdampak, Perguruan Tinggi Jadi Penggerak Solusi bagi Masyarakat


Depok — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi mengembangkan riset yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat menghasilkan solusi dan inovasi yang berdampak. Arah tersebut disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Fauzan Adziman, dalam Diskusi Ahli yang diselenggarakan Senat Akademik Universitas Indonesia bertema “Dari Riset ke Dampak: Strategi Nasional Membangun Universitas Riset Berdampak yang Berdaya Saing Global”, Kamis (29/10).


Dalam paparannya, Dirjen Fauzan menjelaskan bahwa riset yang berdampak perlu dimulai dengan memahami persoalan yang hendak diselesaikan. Menurutnya, pendekatan riset perlu bergeser dari orientasi pada bidang keilmuan atau produk tertentu menuju riset berbasis tantangan. Dengan pendekatan ini, berbagai disiplin ilmu dapat berkolaborasi untuk menjawab persoalan yang sama, sekaligus memastikan hasil penelitian lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.


“Riset bukan lagi berfokus pada bidang atau produk, tetapi berbasis tantangan. Masalahnya apa, rumusan masalahnya apa,” ujar Dirjen Fauzan.


Ia menegaskan, perubahan pendekatan tersebut juga penting di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat. Karena itu, peneliti perlu memahami persoalan yang hendak diselesaikan sebelum menentukan produk atau teknologi yang akan dikembangkan. Dengan begitu, keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari produk yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana inovasi mampu menjawab kebutuhan masyarakat.


Berangkat dari kebutuhan tersebut, Kemdiktisaintek mendorong penguatan riset melalui dua pendekatan, yakni pemerataan kapasitas riset di berbagai wilayah dan penguatan perguruan tinggi yang telah memiliki kapasitas riset unggul.


Pemerataan kapasitas riset perlu diikuti dengan kolaborasi yang melibatkan perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Salah satu contohnya adalah konsorsium di Nusa Tenggara Timur yang melibatkan 13 perguruan tinggi dari wilayah tersebut dan dua perguruan tinggi dari luar daerah, untuk menangani persoalan stunting dan kemiskinan. Melalui konsorsium, perguruan tinggi dapat menggabungkan keahlian dan sumber daya untuk menjawab persoalan sesuai kebutuhan daerah.


Kolaborasi tersebut juga menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan masyarakat tidak dapat hanya mengandalkan satu bidang keilmuan. Dirjen Fauzan menekankan pentingnya keterlibatan ilmu sosial, ekonomi, dan hukum bersama sains dan teknologi. Perpaduan berbagai disiplin diperlukan agar solusi yang dikembangkan tidak hanya menjawab persoalan dari sisi teknis, tetapi juga sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang menjadi sasaran penerapannya.


Hasil penelitian perlu dikembangkan dengan memahami kebutuhan pengguna serta ekosistem pemanfaatannya. Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap pengembangan produk, tetapi memiliki peluang untuk diterapkan, dimanfaatkan, dan memberikan nilai tambah.


Melalui penguatan kebijakan riset prioritas, pembinaan talenta, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta hilirisasi riset, Kemdiktisaintek terus mendorong terbentuknya ekosistem riset yang lebih terarah dan kolaboratif. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus penghasil solusi bagi berbagai tantangan bangsa.

/

5

Rate Now