Mahasiswa UNDIP Ciptakan Aplikasi Terapi untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Our Campus

08 September 2026 | 23.00 WIB

Mahasiswa UNDIP Ciptakan Aplikasi Terapi untuk Anak Berkebutuhan Khusus

UNDIP, Semarang (8/9)  – Keterbatasan tenaga terapis profesional menjadi salah satu kendala yang dihadapi Komunitas Gracias, sebuah wadah swadaya bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Banyumanik, Kota Semarang. Saat ini, satu orang terapis di komunitas tersebut harus menangani 15 anak dengan kebutuhan yang beragam.

Kondisi tersebut membuat sesi terapi tatap muka hanya dapat dilaksanakan secara berkala, yakni satu bulan sekali. Sementara itu, pemantauan aktivitas anak di luar sesi terapi sebelumnya masih mengandalkan komunikasi melalui grup WhatsApp. Pesan yang tertimbun membuat informasi mengenai perkembangan maupun latihan anak di rumah tidak selalu terdokumentasi dengan baik.

Kondisi tersebut juga membuat sebagian orang tua mengalami kesulitan ketika harus melanjutkan pendampingan anak di rumah. Mereka membutuhkan panduan aktivitas yang dapat dilakukan secara terstruktur sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.

Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) menginisiasi Sistem Analisis Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus (SAPA ABK).

Tim tersebut terdiri atas Tri Wahyu Utami, Dwi Noviyani, Shafira Cahaya R, Malvin Bima Santiko, dan Fransiskus F. Sinaga, di bawah bimbingan dosen Ir. Daud Samsudewa, S.Pt., M.Si., Ph.D., IPM.

Berbeda dengan pendekatan yang hanya berfokus pada pengembangan platform digital, SAPA ABK menggabungkan Home Program berbasis aktivitas vokasional peternakan dengan sistem pemantauan digital.

Pendekatan aktivitas peternakan dipilih karena sejumlah kegiatannya dapat dimodifikasi menjadi aktivitas yang konkret dan terstruktur untuk dilakukan anak dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas tersebut kemudian disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan masing-masing anak.

Salah satu aktivitas yang dikembangkan adalah mengemas telur. Aktivitas tersebut dimodifikasi untuk melatih koordinasi motorik halus serta kemampuan anak dalam mengikuti instruksi secara berurutan. Selain itu, terdapat aktivitas membuat susu pasteurisasi yang dirancang untuk memberikan stimulasi terhadap kemampuan kognitif dan kemandirian dasar anak.

Tim SAPA ABK kemudian merumuskan lima modul kurikulum yang menjadi panduan dalam pelaksanaan Home Program. Modul tersebut disusun dengan tingkat aktivitas yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Agar pelaksanaan Home Program tidak berhenti pada sesi tatap muka, kurikulum tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam platform digital melalui laman sapaabk.com.

Ketua Tim PKM-PM UNDIP, Tri Wahyu Utami, menjelaskan bahwa platform tersebut dirancang untuk membantu orang tua mendokumentasikan aktivitas anak sekaligus menjadi sarana komunikasi dengan terapis.

“Website ini kami rancang sebagai alat pemantauan sekaligus penghubung. Orang tua dapat mengunggah video latihan anak di rumah secara berkala. Nantinya, terapis dapat melihat video tersebut, melakukan evaluasi, serta memberikan umpan balik melalui platform,” jelas Tri.

Dengan sistem tersebut, aktivitas anak di rumah tidak hanya dilakukan berdasarkan instruksi yang diberikan saat sesi terapi, tetapi juga dapat terdokumentasi dan menjadi bahan evaluasi bagi terapis.

Sejak 27 Juni hingga 3 September 2026, laman sapaabk.com tercatat telah memperoleh 2.338 kunjungan. Pada periode yang sama, terdapat 28 pengguna yang terdaftar dalam sistem, terdiri atas 25 orang tua, satu terapis, dan dua administrator.

Selain data kunjungan dan pengguna, sistem juga digunakan untuk mendokumentasikan aktivitas anak melalui unggahan video dan laporan perkembangan. Berdasarkan data operasional program, tercatat 57 unggahan video aktivitas anak serta 53 laporan perkembangan yang telah divalidasi oleh terapis.

Pemanfaatan sistem tersebut membuat proses pemantauan dapat dilakukan lebih sering dibandingkan hanya mengandalkan sesi terapi tatap muka. Pemantauan yang sebelumnya dilakukan secara bulanan dapat diarahkan menjadi pemantauan secara berkala melalui aktivitas dan laporan yang dilakukan di rumah.

Perubahan tersebut turut dirasakan oleh orang tua peserta program.

“Ya, setelah adanya website ini, saya sangat yakin dengan masa depan anak saya karena di website SAPA ABK banyak sekali kegiatan yang untuk melatih anak menjadi lebih mandiri,” ujar Bunda Yuli, salah satu orang tua peserta program di Komunitas Gracias.

Tidak hanya mengembangkan sistem, tim mahasiswa UNDIP juga menyiapkan keberlanjutan program setelah masa pengabdian berakhir. Pengelolaan SAPA ABK mulai diarahkan kepada masyarakat lokal melalui pembentukan empat pilar kader penggerak, yakni Kader Kurikulum, Kader Website, Kader Video Tutorial, dan Kader Sarana Prasarana.

Kaderisasi tersebut ditujukan agar pengelolaan Home Program dan platform digital dapat terus berjalan di lingkungan Komunitas Gracias tanpa bergantung sepenuhnya pada pendampingan mahasiswa.

Program SAPA ABK juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Bermutu melalui penyediaan aktivitas pembelajaran yang terstruktur dan disesuaikan dengan kebutuhan ABK, serta SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui upaya memperluas dukungan dan pendampingan bagi anak berkebutuhan khusus dan keluarganya.

Dengan memadukan aktivitas vokasional peternakan, pendampingan keluarga, dan teknologi digital, SAPA ABK dikembangkan sebagai sistem yang menghubungkan aktivitas terapi dengan latihan yang dapat dilakukan anak bersama orang tua di rumah. Ke depan, tim berharap SAPA ABK dapat diadaptasi oleh komunitas atau wadah swadaya disabilitas lainnya di Kota Semarang sebagai salah satu alternatif untuk mendukung keberlanjutan pendampingan dan pengembangan kemandirian anak berkebutuhan khusus. (Komunikasi Publik/UNDIP)

DiktisaintekBerdampak

UNDIP

/

5

Rate Now