Peneliti UNDIP Terapkan Teknologi Pengering Rumput Laut Surya-Biomassa, Tingkatkan Nilai Tambah Produk Budidaya Kelautan di Pesisir Brebes

Our Campus

16 September 2026 | 23.30 WIB

Peneliti UNDIP Terapkan Teknologi Pengering Rumput Laut Surya-Biomassa, Tingkatkan Nilai Tambah Produk Budidaya Kelautan di Pesisir Brebes

UNDIP, Brebes (16/9) – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat, dimulai dari perannya dalam mengembangkan sumber daya di kawasan Pantura. Salah satunya adalah inovasi Unit Pengering Rumput Laut Surya-Biomassa dengan Dehumidifikasi Udara yang dikembangkan oleh tim peneliti UNDIP dipimpin Prof. Dr. Moh Djaeni, S.T., M.Eng., Dosen Fakultas Teknik UNDIP. 

Pada Rabu, 16 September 2026, UNDIP bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI serta Pemerintah Kabupaten dan Kecamatan Brebes, dalam melaksanakan kegiatan “Peresmian Unit Pengering Rumput Laut Surya-Biomassa dengan Dehumidifikasi Udara” di Desa Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Inovasi UNDIP ini mampu meningkatkan kualitas dan efisiensi proses pengeringan rumput laut sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah produk budidaya kelautan bagi masyarakat pesisir.

Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. menyebutkan bahwa UNDIP berkomitmen untuk membangun Pantura, melalui peran aktifnya dalam membantu warga dengan hilirisasi inovasi. “Apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, kalau bisa kami berikan inovasi yang terbaik dan gratis, melalui kolaborasi dan pengabdian masyarakat. Bersama-sama kita dukung budidaya rumput laut di Brebes. Semoga rumput laut kering Indonesia dapat dibuat menjadi produk yang disukai oleh masyarakat luas. Kami berharap apa yang dikembangkan Prof. Djaeni serta tim dari UNDIP dan Unwahas, bisa menjadi produk yang biasa diimpor agar bisa kita buat sendiri dan memiliki nilai tambah yang tinggi,” jelasnya.

Menjawab Tantangan Pengolahan Rumput Laut di Kawasan Pesisir Kabupaten Brebes

Kawasan pesisir Jawa Tengah termasuk pesisir Brebes memiliki panjang tidak kurang dari 750 kilometer dan membutuhkan perhatian penting untuk mengurai permasalahan lingkungan, sosial, ekonomi, dan sebagainya.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Jawa Tengah, Urip Sihabudin, S.H., M.H., mewakili Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, berterima kasih atas inisiasi kampus UNDIP dan Unwahas serta berharap inovasi teknologi ini dapat digunakan juga di daerah lain di Jawa Tengah.

Mewakili Bupati Brebes, Ineke Tri Sulistyowaty, S.K.M., M.Kes. selaku Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Brebes, menjelaskan bahwa rumput laut adalah komoditas utama Kabupaten Brebes. Namun dalam pengelolaannya, masyarakat masih memiliki keterbatasan penggunaan teknologi sehingga rumput laut dikeringkan dengan metode penjemuran di pinggir jalan maupun di kawasan tambak desa. Kualitasnya pun menurun karena adanya kontaminasi debu, air, kotoran hewan, dan sumber cemaran lainnya.

Ineke berkata, “Dengan unit pengering rumput laut ini diharapkan meningkatkan kualitas produk olahan rumput laut. Ke depannya, kami juga meminta agar program ini berlanjut dengan pendampingan dan pelatihan oleh kampus kepada petani dan pelaku UMKM rumput laut.”

“Kami ucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Ibu yang telah menciptakan inovasi yang ekonomis dan berdampak bagi masyarakat,” ucap Ineke dalam menyampaikan pidato dari Bupati Brebes.

Adapun pengembangan budidaya rumput laut dikelola bersama masyarakat pelaku UMKM dalam binaan Kepala Desa Randusanga Kulon, H. Afan Setiono, S.E., M.Si.

Hadirnya Inovasi UNDIP untuk Meningkatkan Nilai Produk Budidaya Rumput Laut

Inovasi pengering rumput laut oleh tim UNDIP memiliki kapasitas 2.000 kilogram. Dengan adanya unit ini, petani rumput laut dapat meminimalisir ketergantungan atas kondisi cuaca dan panas matahari dalam mengeringkan rumput laut, sehingga produk yang dihasilkan juga lebih higienis. Unit ini memanfaatkan energi surya sebagai sumber panas utama dan biomassa sebagai sumber panas pendukung dan digunakan di ruang tertutup untuk mengurangi pencemaran.

Unit pengering ini memanfaatkan adsorber zeolit untuk menurunkan kelembapan udara sebelum dipanaskan dan dialirkan ke ruang pengering. Sirkulasi udara di dalam ruang pengering didukung oleh blower dan fan exhaust untuk membantu meratakan aliran udara panas pada bahan. Alat ini dilengkapi dengan RH meter untuk mengukur kelembapan dan anemometer untuk mengukur laju aliran udara. Proses pengeringan rumput laut menggunakan alat ini dapat diselesaikan selama 8 jam dari biasanya yang memakan waktu 18 jam melalui penjemuran manual.

Hilirisasi inovasi ini kemudian diperkenalkan kepada warga Desa Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes oleh tim peneliti Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerja sama dengan tim peneliti Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) dan mitra PT Mutiara Global Industry dalam “Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis–SINERGI”. 

Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas), Prof. Dr. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM. juga memberikan dukungannya atas aplikasi hasil riset dari perguruan tinggi. “Sekecil apapun hasil inovasi, kita berikan agar bermanfaat untuk masyarakat,” tuturnya.

Peresmian Unit Pengering Rumput Laut Surya Biomassa dan Kegiatan GEMARIKAN

Unit Pengering Rumput Laut Surya-Biomassa dengan Dehumidifikasi Udara di Desa Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes diresmikan oleh Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. bersama Direktur Jenderal PDSPKP yang diwakili oleh Direktur Pengolahan PDSPKP, Budi Yuwono, S.STPi., M.P., dan Bupati Brebes diwakili oleh Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Brebes, Ineke Tri Sulistyowaty, S.K.M., M.Kes.

Kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan lokasi dan demonstrasi teknologi pengeringan rumput laut oleh tim peneliti Teknik Kimia Fakultas Teknik UNDIP. Bertempat di Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) Cahaya Mulia, Desa Randusanga Kulon, Brebes, terdapat rumput laut dalam berbagai masa pengeringan, mulai dari yang setengah kering berwarna hijau kehitaman hingga menjadi kering berwarna hijau keabuan.

Dalam rangkaian kegiatan ini juga dilaksanakan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) bersama Direktorat Jenderal PDSPKP Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan DPD Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) Jawa Tengah. Program ini menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya konsumsi ikan untuk meningkatkan pemenuhan gizi keluarga sekaligus mendukung pencegahan stunting.

Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. dan Dekan Fakultas Teknik UNDIP, Prof. Dr. Ir. Jamari, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. turut serta dalam penyerahan secara simbolis paket produk ikan bergizi kepada masyarakat sasaran program GEMARIKAN.

Turut hadir dalam acara ini yaitu Wakil Gubernur Jawa Tengah diwakili oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Jawa Tengah, Urip Sihabudin, S.H., M.H.; Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, S.E., M.M.; perangkat daerah Pemerintah Kabupaten Brebes; tim dosen UNDIP dan Unwahas; serta Kepala Kantor Perwakilan Cabang BI. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah pusat, pemerintah daerah, mitra, dan masyarakat diharapkan dapat membuat inovasi tidak hanya berhenti sebagai hasil riset, tetapi berkembang menjadi solusi yang bermanfaat. Dari UNDIP untuk masyarakat, semua pihak bersinergi untuk menciptakan produk yang dapat dikonsumsi sehari-hari sehingga nantinya tidak perlu lagi impor dan dapat membantu perekonomian masyarakat. (Komunikasi Publik/UNDIP/Tts)

DiktisaintekBerdampak

UNDIP

Inovasi UNDIP

/

5

Rate Now