Riset Berbasis Teknologi Buka Peluang Lahirkan Perusahaan Unicorn di Indonesia

News

30 Oktober 2026 | 06.45 WIB

Riset Berbasis Teknologi Buka Peluang Lahirkan Perusahaan Unicorn di Indonesia

JAKARTA – Pengembangan teknologi berbasis riset berpotensi membuka jalan bagi lahirnya perusahaan rintisan berstatus unicorn di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, saat menjadi pembicara dalam sesi diskusi Danantara Technology Innovation & Investment Forum (DTIIF) 2026 bersama Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, dan Managing Director Global Relation and Communication Danantara Indonesia, Pahala Nugraha Mansury, Rabu (28/10).


Dirjen Risbang mencontohkan perkembangan perusahaan rintisan deep tech di Eropa yang menunjukkan potensi ekonomi dari teknologi berbasis penelitian ilmiah. Berdasarkan data PitchBook yang dirujuk McKinsey, perusahaan rintisan deep tech di Eropa rata-rata membutuhkan waktu lima tahun tujuh bulan untuk mencapai valuasi lebih dari US$1 miliar atau berstatus unicorn. Sementara itu, perusahaan rintisan teknologi konvensional membutuhkan rata-rata tujuh tahun sebelas bulan.


Perbedaan waktu tersebut memberikan gambaran mengenai potensi teknologi berbasis riset dalam menghasilkan perusahaan bernilai ekonomi tinggi. Keunggulan deep tech terletak pada penguasaan teknologi yang tidak mudah ditiru oleh perusahaan lain serta peluang penerapannya dalam skala besar. Bidang energi, pangan, dan kesehatan menjadi beberapa sektor yang dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk menjawab kebutuhan industri dan masyarakat.


Untuk merealisasikan potensi tersebut, keterlibatan sektor usaha dalam kegiatan penelitian dan pengembangan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Berdasarkan data tahun 2022 yang dipaparkan, belanja penelitian dan pengembangan oleh sektor usaha di Indonesia baru mencapai 16,7 persen dari total belanja penelitian dan pengembangan nasional. Angka ini masih di bawah Taiwan sebesar 85,5 persen, Korea Selatan 79,4 persen, China 77,6 persen, dan Jepang 73,1 persen.


Data tersebut menunjukkan bahwa kontribusi industri dalam kegiatan riset di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Perusahaan tidak cukup hanya menggunakan dan menyesuaikan teknologi yang telah tersedia, tetapi juga perlu membangun kemampuan untuk mengembangkan produk secara mandiri serta melakukan penelitian bersama perguruan tinggi dan lembaga riset. Dengan demikian, riset dapat menjadi bagian dari proses bisnis dan menghasilkan teknologi yang memiliki nilai tambah.


Peningkatan kemampuan tersebut juga perlu diikuti dengan strategi pengembangan teknologi yang tepat. Dirjen Risbang menjelaskan pentingnya menyeimbangkan exploitation dan exploration. Exploitation berkaitan dengan pemanfaatan dan penyempurnaan teknologi yang telah tersedia, sedangkan exploration mencakup upaya mencari dan mengembangkan teknologi baru. Keduanya perlu berjalan beriringan agar perusahaan dapat meningkatkan kinerja sekaligus menciptakan inovasi, dengan tetap memperhatikan waktu, kualitas, dan biaya.


“Bagaimana kita menyeimbangkan eksplorasi dan pemanfaatan teknologi menjadi salah satu pertanyaan penting. Keduanya perlu berjalan beriringan agar perusahaan dapat meningkatkan kinerja sekaligus mengembangkan inovasi,” ujar Dirjen Risbang.


Selain kemampuan mengelola pengembangan teknologi, kemajuan inovasi juga membutuhkan kerja sama antara dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga riset, dan mitra strategis lainnya. Kolaborasi tersebut membuka peluang pertukaran pengetahuan, pengembangan kemampuan teknologi, serta penciptaan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan industri.


“Pengembangan inovasi tidak hanya tentang sains dan teknologi. Kolaborasi di antara kita, termasuk dengan mitra di luar negeri, memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan dan mengembangkan inovasi,” tutur Dirjen Risbang.


Keterhubungan antara kemampuan riset, kebutuhan industri, dan kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam pembahasan Danantara Technology Innovation & Investment Forum (DTIIF) 2026 yang mengusung tema “Investing in Tomorrow: Advancing Technology, Innovation, and Sustainable Growth”. 


Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, peneliti, perguruan tinggi, investor, dan mitra strategis untuk membahas peluang pengembangan teknologi, kerja sama, serta investasi dalam mendukung pertumbuhan industri Indonesia.

/

5

Rate Now