Sesjen Kemdiktisaintek: Peringkat Universitas Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat

News

04 November 2026 | 12.45 WIB

Sesjen Kemdiktisaintek: Peringkat Universitas Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat

Bali – Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco menegaskan bahwa pencapaian peringkat dan reputasi global perguruan tinggi harus diikuti dengan kontribusi nyata bagi masyarakat. Peringkat perguruan tinggi tidak semestinya menjadi tujuan akhir, melainkan modal dan kekuatan institusi untuk menghasilkan dampak bagi pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Pernyataan tersebut disampaikan Sesjen Badri dalam pembukaan QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026, Selasa (2/11). Forum yang mempertemukan lebih dari 1.500 pemimpin dari perguruan tinggi, pemerintah, dan industri di kawasan Asia Pasifik tersebut menjadi ruang untuk membahas masa depan pendidikan tinggi di tengah berbagai perubahan global.

Dalam sambutannya, Sesjen Badri mengangkat hubungan antara university rankings dan university impact sebagai dua hal yang tidak seharusnya dipertentangkan. Pemeringkatan perguruan tinggi selama ini banyak dipengaruhi oleh indikator seperti produktivitas penelitian, jumlah sitasi, dan reputasi institusi di lingkungan akademik. Indikator tersebut tetap penting dalam menunjukkan kualitas dan daya saing perguruan tinggi secara global. Namun, capaian tersebut perlu diterjemahkan menjadi manfaat yang lebih luas.

“Peringkat tinggi bukanlah sebuah trofi untuk disimpan dalam lemari administratif. Ini adalah platform kekuatan dan kemampuan. Nilai sejati dari peringkat universitas berkaitan dengan seberapa efektif kekuatan institusi diterjemahkan menjadi dampak institusi,” ujar Sesjen Kemdiktisaintek.

Sesjen Badri menambahkan bahwa prestise global yang diperoleh perguruan tinggi melalui berbagai indikator pemeringkatan, seharusnya menjadi motor penggerak perkembangan sosial. Ketika perguruan tinggi semakin berkembang dan memperoleh pengakuan global, tanggung jawabnya untuk berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat juga semakin besar.

Lebih lanjut, Sesjen Badri menekankan bahwa pendidikan tinggi harus dikembangkan dengan orientasi yang jelas terhadap tujuan (purpose-driven education). Perguruan tinggi perlu memastikan bahwa setiap kegiatan pendidikan, penelitian, dan inovasi memiliki tujuan serta menjawab kebutuhan masyarakat. Pengembangan kompetensi teknologi juga harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan, kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab, dan empati.

Menurut Sesjen Badri, generasi masa depan tidak cukup hanya dibekali kemampuan untuk mengembangkan teknologi, tetapi juga harus mampu memahami bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk kelompok rentan dan terpinggirkan. Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan nyata.

Sesjen Badri juga menegaskan bahwa memberikan dampak merupakan ujian sesungguhnya bagi institusi pendidikan tinggi. Dampak tersebut dapat terlihat ketika perguruan tinggi membantu petani lokal meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan terhadap perubahan iklim, maupun ketika teknologi energi bersih hasil pengembangan mahasiswa diterapkan untuk mendukung kebutuhan kota-kota di sekitarnya. Kontribusi perguruan tinggi juga perlu tercermin dalam kemampuannya mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kesenjangan, dan menjaga kelestarian lingkungan.

“Peringkat memberikan kita kredibilitas untuk memimpin, sedangkan dampak adalah bukti dari apa yang telah kita berikan,” tegasnya.

Di sisi lain, Sekjen Badri mengingatkan bahwa berbagai tantangan global, mulai dari tekanan geopolitik, perubahan iklim, hingga tata kelola kecerdasan artifisial yang etis, tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi atau negara secara sendiri-sendiri. Oleh karena itu, kawasan Asia Pasifik membutuhkan kolaborasi yang semakin kuat dan sistemik, melampaui pola persaingan ekonomi tradisional.

Sesjen Badri mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan tinggi, untuk menempatkan mahasiswa dan talenta masa depan sebagai pusat perhatian dalam setiap pembahasan dan kerja sama. Kolaborasi antar perguruan tinggi, pemerintah, dan industri lintas negara perlu diarahkan untuk membangun masa depan pendidikan tinggi yang mampu menjawab tantangan bersama serta menghasilkan manfaat berkelanjutan.

“Tidak ada institusi atau negara yang dapat mencapai kemajuan besar ini sendirian,” pungkasnya.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak


/

5

Rate Now