Tak Sekadar MoU, UNDIP dan Paris-Saclay Siapkan Kolaborasi Akademik hingga Riset Bersama

Our Campus

11 September 2026 | 11.00 WIB

Tak Sekadar MoU, UNDIP dan Paris-Saclay Siapkan Kolaborasi Akademik hingga Riset Bersama

PARIS — Universitas Diponegoro (UNDIP) memperluas jejaring akademik global melalui penjajakan kemitraan strategis dengan Université Paris-Saclay, Prancis. Kolaborasi diarahkan pada program konkret, mulai dari pendidikan doktoral bagi dosen, double degree, co-supervision, mobilitas mahasiswa dan dosen, hingga penelitian dan publikasi bersama.

Agenda tersebut dibahas dalam pertemuan Wakil Rektor Riset, Inovasi, Kerja Sama dan Komunikasi Publik UNDIP, Wijayanto, Ph.D., dengan Wakil Rektor Riset Université Paris-Saclay, Prof. Rachid Bennacer, di Prancis, Senin (7/9/2026).

Pertemuan ini melanjutkan komunikasi kedua institusi yang dimulai di Angers, Prancis, pada Juli 2026 dan dilanjutkan melalui sejumlah pertemuan daring. Kedua universitas menargetkan penyusunan dan finalisasi Memorandum of Understanding (MoU) dapat diselesaikan pada 2026.

Salah satu agenda yang disiapkan adalah membuka kesempatan bagi dosen UNDIP untuk menempuh pendidikan doktoral di Université Paris-Saclay. Dalam lima tahun mendatang, UNDIP menargetkan dapat mengirim sekitar 4–8 dosen setiap tahun melalui berbagai dukungan beasiswa, termasuk LPDP, pada bidang STEM maupun non-STEM.

Kolaborasi juga diarahkan pada skema co-supervision yang memungkinkan mahasiswa doktoral memperoleh pembimbing dari kedua universitas. Skema tersebut diharapkan memperkuat kualitas pendidikan doktoral sekaligus membangun jejaring penelitian jangka panjang antara profesor dan kelompok riset UNDIP dengan Université Paris-Saclay.

Wijayanto menegaskan bahwa kemitraan internasional yang dibangun UNDIP harus bergerak lebih jauh dari sekadar kesepakatan kelembagaan.


“Target kita bukan berhenti pada MoU, tetapi bagaimana kerja sama ini membuka kesempatan studi doktoral bagi dosen, menghasilkan riset dan publikasi bersama, memperkuat mobilitas mahasiswa dan dosen, serta membangun jejaring akademik yang berkelanjutan,” ujarnya.

Selain pendidikan doktoral, kedua universitas membahas peluang staff exchange, visiting lecturer, visiting researcher, penelitian dan publikasi bersama, hingga program double degree. Mobilitas mahasiswa juga menjadi bagian dari penjajakan, termasuk peluang pertukaran bagi mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) UNDIP.

Menurut Wijayanto, internasionalisasi menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kualitas akademik dan memperluas keterhubungan UNDIP dengan ekosistem pendidikan tinggi global.


“Yang ingin kita bangun adalah ekosistem kolaborasi: profesor bertemu profesor, peneliti bekerja bersama, mahasiswa memiliki mobilitas internasional, dan hasil risetnya memiliki dampak serta visibilitas global,” jelasnya.

Delegasi UNDIP turut mengunjungi sejumlah fasilitas riset dan laboratorium Université Paris-Saclay untuk melihat ekosistem yang menghubungkan universitas, laboratorium, pusat penelitian, inovasi, dan jejaring industri.

Melalui kemitraan ini, UNDIP mendorong internasionalisasi agar tidak berhenti pada dokumen kerja sama, tetapi berkembang menjadi pertukaran talenta, kolaborasi riset, publikasi bersama, dan mobilitas akademik yang memberikan dampak nyata bagi penguatan pendidikan tinggi Indonesia.

DiktisaintekBerdampak

Kolaborasi Internasional

UNDIP

/

5

Rate Now