UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (23/10) – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 9 bersama kader malaria Satuan Permukiman (SP) 1 dan SP 2 melakukan diskusi dan pemetaan partisipatif mengenai kondisi permukiman, lingkungan, serta akses pelayanan kesehatan di Kawasan Transmigrasi (KT) Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, pada Rabu (9/9).
Kegiatan yang berlangsung di Balai Posyandu SP 1 tersebut menjadi bagian dari penyusunan sistem informasi dan optimalisasi pelayanan pendidikan dan kesehatan berbasis spasial di KT Senggi. Melalui diskusi, tim menggali informasi mengenai kondisi pelayanan kesehatan sekaligus mengidentifikasi lokasi dan kondisi lingkungan yang diketahui oleh kader berdasarkan aktivitas mereka sehari-hari di kawasan permukiman.
Dalam pemetaan partisipatif, kader membantu menunjukkan rumah yang masih dihuni maupun yang sudah kosong di SP 1 dan SP 2. Kader juga mengidentifikasi sejumlah kondisi lingkungan, seperti jalan yang kurang baik, drainase yang belum tersedia atau belum berfungsi dengan baik, serta lokasi yang berpotensi mengalami genangan saat hujan. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam pemetaan karena kader memiliki pengetahuan langsung mengenai kondisi lingkungan dan jalur yang biasa digunakan masyarakat. Beberapa kondisi yang tidak langsung terlihat melalui data spasial juga dapat diidentifikasi melalui informasi dari masyarakat.
Selain kondisi permukiman, diskusi membahas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Siti Alfa Lahis, Pendamping Kader Malaria, menyampaikan bahwa akses pelayanan kesehatan di SP 2 masih terbatas karena Puskesmas Pembantu (Pustu) yang sebelumnya dapat dimanfaatkan masyarakat saat ini belum aktif. Masyarakat kemudian diarahkan menuju Puskesmas yang lokasinya lebih jauh dari SP 2. Keterbatasan tenaga kesehatan turut menjadi perhatian karena beberapa tenaga kesehatan sebelumnya dipindahkan. “Tenaga kesehatan ada yang dipindahkan, ini menjadi tantangan sehingga tenaga yang tersedia di Senggi juga berkurang,” ujar Siti Alfa Lahis.
Pada kesempatan yang sama, menurut Suniyati, Penanggung Jawab Kader Malaria, kondisi tersebut juga berkaitan dengan belum tersedianya dana operasional. Selain itu, kondisi fasilitas pelayanan juga menjadi bagian dari pembahasan. Bangunan Posyandu dinilai relatif kecil sehingga kurang nyaman ketika kegiatan berlangsung. Sementara itu, bangunan Puskesmas secara umum dinilai cukup mendukung pelayanan, meskipun masih terdapat bagian yang perlu diperbaiki, seperti plafon yang mengalami kebocoran.
Informasi yang diperoleh melalui diskusi dan pemetaan partisipatif selanjutnya akan dipadukan dengan data lapangan yang dikumpulkan oleh TEP UNDIP Tim 9. Data tersebut mencakup lokasi permukiman, fasilitas kesehatan, kondisi jalan, drainase, serta titik-titik lingkungan yang diidentifikasi bersama kader. Data kemudian akan diolah secara spasial sebagai bagian dari penyusunan sistem informasi kesehatan di KT Senggi dan menjadi salah satu dasar dalam pengembangan WebGIS Senggi. Melalui pemetaan ini, kondisi permukiman, lingkungan, dan pelayanan kesehatan dapat digambarkan berdasarkan kondisi lapangan serta pengetahuan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 melalui penguatan informasi terkait akses pelayanan kesehatan, SDG 10 melalui identifikasi kesenjangan akses pelayanan dasar, serta SDG 17 melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kader kesehatan, dan masyarakat dalam pengumpulan dan validasi data.
Proses diskusi dan pemetaan partisipatif akses kesehatan bersama kader malaria di Kawasan Transmigrasi Senggi.




