AMSTERDAM — Kolaborasi riset internasional Universitas Diponegoro (UNDIP) terus berkembang dari jejaring menjadi karya ilmiah bersama. Setelah menghasilkan tiga publikasi internasional sepanjang 2024–2026, UNDIP kembali memperluas agenda penelitian bersama peneliti internasional di Amsterdam, Belanda.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik UNDIP, Wijayanto, Ph.D., bertemu dengan peneliti Kris Ruijgrok pada 31 Agustus 2026. Pertemuan tersebut membahas kelanjutan kolaborasi riset dan penulisan artikel ilmiah bersama, khususnya mengenai dinamika komunikasi dan ruang digital.
Kerja sama keduanya telah menghasilkan tiga publikasi internasional yang mengkaji perkembangan operasi pengaruh dan manipulasi media sosial.
Publikasi pertama, “The Infrastructure of Domestic Influence Operations: Cyber Troops and Public Opinion Manipulation Through Social Media in Indonesia”, terbit pada 2024 di The International Journal of Press/Politics. Penelitian tersebut mengkaji jaringan dan praktik pasukan siber dalam operasi pengaruh domestik melalui media sosial di Indonesia.
Kolaborasi kemudian berlanjut melalui artikel “Towards the Comparative Study of Domestic Influence Operations: Cyber Troops and Elite Competition in Indonesia, the Philippines and Thailand” di Political Communication. Studi ini memperluas kajian secara komparatif dengan melihat fenomena di Indonesia, Filipina, dan Thailand.
Pada 2026, keduanya kembali menghasilkan artikel “Influence Operations 2.0: The Evolution of Social Media Manipulation in Southeast Asia” di Information, Communication & Society, yang membahas perkembangan operasi pengaruh dan manipulasi media sosial di Asia Tenggara.
Rekam jejak tersebut menjadi fondasi untuk mengembangkan agenda penelitian berikutnya. Dalam pertemuan di Amsterdam, keduanya mendiskusikan riset mengenai peran pasukan siber dan operasi pengaruh digital dalam dinamika politik, termasuk kajian mengenai tekanan digital terhadap kelompok masyarakat sipil.
Penelitian direncanakan menggunakan perspektif lintas negara untuk melihat bagaimana fenomena tersebut berkembang dalam konteks sosial dan politik yang berbeda.
Wijayanto menilai kolaborasi internasional perlu diarahkan pada hasil akademik yang konkret dan berkelanjutan.
“Kolaborasi internasional bukan sekadar pertemuan atau kerja sama formal. Yang paling penting adalah bagaimana jejaring tersebut menghasilkan riset bersama, publikasi bersama, dan dampak akademik yang nyata,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi lintas negara juga penting untuk memperkaya perspektif dalam memahami fenomena digital yang tidak terbatas oleh batas geografis.
“Kita membutuhkan dialog dan kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara untuk memahami bagaimana fenomena tersebut berkembang dalam konteks yang berbeda dan untuk memperkaya kontribusi Indonesia dalam perdebatan akademik global,” tambahnya.
Bagi UNDIP, kerja sama yang telah menghasilkan tiga publikasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan jejaring riset internasional. Kolaborasi berkelanjutan diharapkan dapat memperluas konektivitas antarpeliti, meningkatkan visibilitas hasil penelitian, serta membuka peluang lahirnya riset dan publikasi bersama berikutnya.
Dari satu penelitian menuju penelitian berikutnya, kolaborasi UNDIP menunjukkan bahwa jejaring internasional tidak berhenti pada pertemuan. Jejaring tersebut tumbuh ketika peneliti bekerja bersama, menghasilkan pengetahuan, dan terus membuka ruang bagi kolaborasi baru.





