UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (14/9) – Tim 12 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) yang diketuai oleh Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si. (dosen Program Studi S1 Agroekoteknologi, FPP UNDIP) bersama lima anggota lintas disiplin ilmu, antara lain Fitran Dzulfikar Haryono, S.P.; Nurkhafizah, S.P.W.K.; Marta Junika Tambunan, S.Sos.; Ardhian Sasmita, S.A.B.; dan Putri Duwi Ulia Sari, S.TP., mengembangkan pemanfaatan biochar untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan ekonomi hijau di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Kolaborasi keilmuan antar lintas disiplin ini memadukan aspek teknis pertanian, pengembangan wilayah, sosial kemasyarakatan, teknologi pengolahan, hingga pemberdayaan ekonomi untuk mengolah biomassa yang melimpah seperti sekam padi dan tongkol jagung yang belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga Tim 12 mencoba mengembangkannya sebagai bahan baku pembuatan biochar.
Biochar sendiri merupakan bahan padat kaya karbon hasil pembakaran tidak sempurna (karbonisasi) dari limbah organik atau biomassa pertanian. Saat ini, tim tengah membuat alat pirolisis (alat pembakaran biomassa tanpa oksigen) sederhana berbahan drum. Tim juga telah melakukan uji coba produksi biochar menggunakan metode Kon-Tiki (teknik pembuatan biochar menggunakan wadah atau lubang berbentuk kerucut terbalik), yang dari percobaan awal dinilai relatif sederhana dan berpotensi lebih mudah diterapkan oleh masyarakat karena tidak memerlukan peralatan yang kompleks.
Ketua Tim 12, Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan sengaja disesuaikan dengan kondisi dan sumber daya lokal yang tersedia di kawasan transmigrasi. “Sekam padi dan tongkol jagung yang tersedia di kawasan ini sebenarnya merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Kami ingin teknologi biochar nantinya tidak berhenti pada kegiatan tim, tetapi dapat dipahami dan diterapkan oleh masyarakat. Karena itu, kami mencoba metode yang relatif sederhana, seperti pirolisis drum dan Kon-Tiki,” ujar Iqbal.
Pemanfaatan biochar juga diarahkan sebagai bagian dari pertanian sirkular dan ekonomi hijau. Residu pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi bahan yang mempunyai nilai guna dan selanjutnya dikembalikan ke dalam sistem produksi pertanian
Sebagai langkah penerapan langsung di lapangan, Tim 12 menyiapkan lahan percontohan atau demplot (demonstration plot) penanaman jagung dengan mengaplikasikan biochar sebagai amelioran (bahan pembenah tanah yang berfungsi memperbaiki kualitas fisik dan kimia tanah). Aplikasi biochar ini berpotensi meningkatkan pori dan daya simpan air tanah, sekaligus membantu menaikkan tingkat pH pada tanah masam Senggi yang relatif rendah agar unsur hara lebih mudah diserap oleh tanaman.
Untuk memastikan keberlanjutan teknologi ini, Tim 12 juga menyelenggarakan pelatihan dan workshop pembuatan biochar bagi warga setempat. Peserta diajak mempraktikkan langsung seluruh tahapan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses karbonisasi dengan drum pirolisis dan metode Kon-Tiki, hingga tata cara pengaplikasiannya di lahan pertanian secara mandiri.
“Biochar tidak hanya kami lihat sebagai pembenah tanah. Ketika residu pertanian dapat diolah kembali menjadi bahan yang bermanfaat bagi lahan, di sana terdapat prinsip ekonomi hijau. Sumber daya lokal dapat digunakan lebih efisien, limbah berkurang, dan ke depan dapat terbuka peluang nilai tambah bagi masyarakat,” tambah Iqbal.
Melalui serangkaian program terpadu, mulai dari penerapan teknologi biochar, pendampingan demplot jagung, hingga workshop kemasyarakatan, Tim 12 Ekspedisi Patriot UNDIP berharap dapat merawat keberlanjutan inovasi ini dengan mewariskan pengetahuan, teknologi tepat guna, dan praktik pertanian mandiri yang dapat terus dikembangkan secara swadaya oleh warga Kawasan Transmigrasi Senggi.
Aksi nyata Tim 12 Ekspedisi Patriot UNDIP ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui pengembangan praktik budidaya dan pengelolaan tanah yang lebih berkelanjutan; SDG 4 (Quality Education) melalui workshop masyarakat; SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan sekam padi dan tongkol jagung menjadi biochar; dan SDG 13 (Climate Action) melalui pengelolaan biomassa menjadi material karbon yang lebih stabil dan penerapan pertanian yang lebih berkelanjutan. (Komunikasi Publik/UNDIP)








