UNDIP Kembangkan Sawah Modern Ramah Lingkungan di KHDTK Penggaron

Our Campus

25 Agustus 2026 | 23.15 WIB

UNDIP Kembangkan Sawah Modern Ramah Lingkungan di KHDTK Penggaron

UNDIP, Semarang (25/8) – Universitas Diponegoro mengembangkan model sawah modern berbasis teknologi tepat guna dan ramah lingkungan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) UNDIP, Penggaron, Semarang. Inovasi ini dikembangkan di atas lahan persawahan yang sebelumnya telah ditinggalkan selama sekitar lima hingga enam tahun.

Pengembangan sawah tersebut saat ini telah mencakup sekitar dua hektar lahan yang telah diolah dan mulai ditanami padi. Program ini diharapkan menjadi laboratorium lapangan untuk menguji penerapan teknologi pertanian berkelanjutan sekaligus meningkatkan produktivitas kawasan.

Kepala Kantor Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK), Prof. Dr. Ir. Sri Puryono KS, M.P., menjelaskan konsep sawah modern yang dikembangkan mengedepankan teknologi tepat guna, ramah lingkungan, serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak. Sistem pengairan memanfaatkan enam panel surya dengan kapasitas sekitar 60 meter kubik per jam yang dioperasikan mulai pukul 09.00 hingga 16.00 wib.

“Untuk mendukung ketersediaan air, kami juga membuat pompa hidrolik yang dapat bekerja selama 24 jam,” jelasnya.

Sumber air untuk persawahan berasal dari sungai yang berdasarkan hasil pengujian tidak terkontaminasi logam berat. Sementara itu, tingkat keasaman tanah telah diukur pada kisaran pH 7 hingga 8, yang dinilai sesuai untuk budidaya tanaman padi.

Pada tahap awal, varietas padi yang ditanam adalah Inpari (Inbrida Padi Irigasi) dan Inpago yakni varietas unggul padi gogo yang cocok ditanam di lahan kering. Selanjutnya, UNDIP akan mengembangkan varietas unggul hasil persilangan Rojolele dengan varietas padi dari Jepang. Pengembangan juga akan dilanjutkan dengan uji coba padi merah kaya nutrisi dan serat yang cocok untuk penderita diabetes.

“Harapannya, uji coba ini dapat berhasil dan berproduksi optimal hingga menjadi model pengembangan pertanian yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan,” ujar Prof. Puryono.

Dikembangkan sebagai Laboratorium Pertanian

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor II bidang Perencanaan, Keuangan, Aset, Bisnis dan Kerumahtanggaan, Dr. Warsito Kawedar, S.E., M.Si., Akt. menegaskan bahwa pengembangan sawah modern di KHDTK Penggaron tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk pertanian. Kawasan tersebut diharapkan berkembang menjadi pusat pembelajaran dan penelitian, khususnya sebagai laboratorium pertanian.

Menurutnya, keberadaan lahan pertanian produktif di kawasan KHDTK juga dapat dikembangkan secara terpadu dengan potensi wisata alam. Konsep edu-ekowisata hutan menjadi salah satu arah pengembangan kawasan tersebut.

“Diharapkan kawasan KHDTK UNDIP di Penggaron dapat berkembang menjadi edu-ekowisata hutan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, UNDIP akan bekerja sama dengan komunitas jeep di sekitar kawasan untuk mendukung edu-ekowisata hutan. Integrasi antara pertanian, pendidikan, penelitian, dan wisata diharapkan menjadikan KHDTK Penggaron sebagai kawasan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus edukatif.

Lebih dari itu, UNDIP menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengembangan kawasan. “Kehadiran UNDIP adalah berdampingan dengan masyarakat. Masyarakat adalah keluarga,” imbuhnya.

Karena itu, pengembangan kawasan produktif di KHDTK Penggaron tidak hanya berorientasi pada aspek akademik dan lingkungan, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

Melalui pengembangan sawah modern, pemanfaatan energi surya, teknologi pengairan, serta penguatan fungsi edukasi dan ekowisata, UNDIP berharap KHDTK Penggaron dapat menjadi contoh pengelolaan kawasan yang mengintegrasikan pertanian berkelanjutan, riset, pendidikan, lingkungan, sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Komunikasi Publik/UNDIP/Ut)

DiktisaintekBerdampak

UNDIP

Ketahanan Pangan

Riset UNDIP

/

5

Rate Now