Wamendiktisaintek Fauzan: Transformasi Kampus Harus Terukur dari Dampak Nyata bagi Masyarakat

News

19 Oktober 2026 | 10.15 WIB

Wamendiktisaintek Fauzan: Transformasi Kampus Harus Terukur dari Dampak Nyata bagi Masyarakat

Malang —Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan pembangunan, mulai dari produktivitas ekonomi daerah, kesenjangan keterampilan, hingga mengurangi jumlah pengangguran. Karena itu, transformasi pendidikan tinggi perlu melampaui pembenahan tata kelola dan peningkatan capaian akademik, dengan memastikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menghasilkan manfaat nyata.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran nasional pada 2026 tercatat sebesar 4,65% atau sekitar 7,28 juta orang. Di Jawa Timur, angkanya mencapai 3,42 persen. Sementara itu, pada Mei 2026, sekitar 1,03 juta penganggur merupakan lulusan pendidikan tinggi jenjang D4, S1, S2, dan S3. Kelompok ini mencakup 14,31% dari total penganggur, meningkat dibandingkan November 2025 yang sebesar 12,37%.


Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan pendidikan tinggi perlu berjalan beriringan dengan relevansi kompetensi lulusan, kebutuhan dunia kerja, serta persoalan yang dihadapi masyarakat. Pesan ini disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan dalam dua agenda di Malang, yakni Dies Natalis ke-72 Universitas Negeri Malang (UM) serta Wisuda Sarjana dan Pascasarjana ke-X Universitas Islam Raden Rahmat (Unira), Minggu (18/10).


Capaian Akademik Menuju Dampak Nyata


Dalam orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-72 UM, Wamendiktisaintek menekankan bahwa transformasi pendidikan tinggi perlu mengubah cara pandang perguruan tinggi dalam menjalankan mandatnya. Kampus perlu memperkuat tata kelola, mengintegrasikan Tridarma Perguruan Tinggi, dan menempatkan diri sebagai mitra pembangunan yang aktif menyelesaikan persoalan masyarakat.


Menurut Wamen Fauzan, perguruan tinggi perlu mengevaluasi sejauh mana kepakaran dosen, hasil penelitian, dan sumber daya kampus telah menjawab kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Keberadaan kampus dengan gedung megah, banyak guru besar, dan reputasi akademik yang baik perlu diikuti kontribusi yang dapat dirasakan oleh masyarakat, termasuk kelompok yang masih menghadapi kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan.


Wamen Fauzan juga menyoroti kesenjangan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan ekonomi, kompetensi lulusan dan tuntutan dunia kerja, serta hasil penelitian dan pemanfaatannya oleh industri. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, perguruan tinggi perlu membangun kerja sama yang lebih erat dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan dunia industri. Pembelajaran juga perlu semakin adaptif agar mahasiswa mampu menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan nyata.


Sejalan dengan itu, Rektor UM, Hariyono dalam sambutannya menyampaikan komitmen universitas untuk terus memperkuat tata kelola, kualitas sumber daya manusia, penelitian, dan mutu pendidikan. UM mencatat 164 guru besar dan 579 dosen berkualifikasi doktor pada 2026. Jumlah program studi juga meningkat dari 114 pada 2023 menjadi 154, dengan 105 program studi berakreditasi unggul.


Capaian tersebut menjadi modal untuk memperkuat transformasi institusi. Wamen Fauzan mendorong agar pengembangan akademik dan reputasi perguruan tinggi semakin terhubung dengan kebutuhan mahasiswa, industri, serta masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan kampus tidak hanya dilihat dari jumlah lulusan dan publikasi, tetapi juga dari relevansi kompetensi lulusan, pemanfaatan hasil riset, dan nilai sosial maupun ekonomi yang dihasilkan.


Lulusan Kampus, Bagian dari Solusi


Pesan tentang pendidikan tinggi berdampak kembali ditekankan Wamendiktisaintek saat menghadiri Wisuda Sarjana dan Pascasarjana ke-X Unira. Di hadapan para wisudawan, Wamen Fauzan mengingatkan bahwa setelah lulus, mereka akan memasuki lingkungan kehidupan yang memiliki tantangan lebih kompleks. Pengetahuan dan kompetensi akademik perlu disertai karakter, kejujuran, tanggung jawab, serta keberanian menghadapi masalah.


“Kampus yang akan Saudara masuki selanjutnya lebih rumit. Kalau sebelumnya dinamika berpikir ada di seputar mata kuliah, sekarang Saudara akan masuk kampus kehidupan. Di sini, Saudara tidak akan dinilai oleh seorang dosen, tetapi oleh masyarakat,” kata Wamen Fauzan.


Menurut Wamendiktisaintek, penyelenggaraan kegiatan akademik seperti wisuda dapat dirancang agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Jika dilaksanakan di wilayah yang membutuhkan penguatan ekonomi, kegiatan tersebut berpotensi menggerakkan aktivitas usaha lokal sekaligus memperkenalkan pendidikan tinggi kepada masyarakat yang belum memiliki kesempatan atau aspirasi untuk melanjutkan studi.


Wamendiktisaintek mendorong Unira untuk terus memperkuat kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Malang dan berbagai mitra dalam mengembangkan solusi berbasis riset. Tantangan daerah, menurutnya, perlu menjadi ruang kolaborasi agar keahlian perguruan tinggi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Kepada para wisudawan, Wamen Fauzan juga berpesan agar tidak membatasi diri pada pencarian pekerjaan semata. Lulusan perlu mengenali dan mengembangkan keunggulan masing-masing, terus belajar, serta membangun karakter yang membuat mereka mampu beradaptasi dan berkontribusi dalam berbagai situasi.


Arah transformasi tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, terutama dalam pembangunan sumber daya manusia, penguatan sains dan teknologi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi untuk menghubungkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan kebutuhan pembangunan nasional maupun daerah.


Kemdiktisaintek mengajak perguruan tinggi dan para lulusan untuk memperkuat kolaborasi, mengembangkan kompetensi yang relevan, serta mengambil peran aktif dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan masing-masing. Transformasi pendidikan tinggi pada akhirnya perlu tecermin dalam hadirnya lulusan yang berintegritas dan mampu memberi manfaat, serta kampus yang berkontribusi nyata bagi masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak



/

5

Rate Now