Bogor–Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mendorong Indonesia untuk menyiapkan strategi pengembangan kecerdasan artifisial atau (AI) dengan memperkuat kualitas talenta manusia, pemanfaatan data, kebijakan, serta ketersediaan energi hijau, Kamis (1/10).
Dalam konteks Indonesia, Wamen Stella membagi perkembangan AI ke dalam tiga komponen utama, yaitu algoritma, data, dan daya komputasi. Ia menyampaikan bahwa Indonesia belum berada pada posisi yang kuat dalam pengembangan algoritma AI berskala besar. Namun, Indonesia memiliki potensi besar dari sisi data dan sumber daya energi, yang dapat dikembangkan untuk mendukung infrastruktur AI.
“Data penting bagi kita, dan kita bisa memiliki keunggulan tertentu, yaitu pusat data dengan energi hijau adalah keunggulan kita,” ujar Wamen Stella.
Wamen Stella juga menyoroti pentingnya pengelolaan dan perlindungan data di Indonesia. Indonesia memiliki jumlah data yang besar karena jumlah penduduk, dan aktivitas digital yang tinggi. Namun, pemanfaatan dan perlindungan data belum optimal. Wamendiktisaintek menilai pemerintah perlu memperkuat tata kelola data agar potensi tersebut dapat mendukung penelitian, inovasi, dan pengembangan teknologi nasional.
Data International Energy Agency menunjukkan bahwa pusat data secara keseluruhan menggunakan sekitar 485 terawatt hour listrik pada 2025 atau sekitar 1,5% konsumsi listrik dunia. Menurut Wamendiktisaintek, kebutuhan tersebut akan terus meningkat seiring perkembangan pusat data yang berfokus pada AI.
Karena itu, Wamen Stella mendorong Indonesia untuk menghubungkan pengembangan pusat data, dengan pengembangan energi terbarukan. Disebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi surya, panas bumi, dan sumber energi lain yang dapat mendukung kebutuhan pusat data secara lebih berkelanjutan.
“Strateginya adalah mendukung pertumbuhan, bukan membatasi pertumbuhan, dengan memberikan insentif dan dukungan sehingga kebutuhan energi untuk AI berasal dari energi terbarukan,” ujar Wamen Stella.
Pembahasan juga menyoroti dampak penggunaan AI terhadap pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Wamen Stella menyampaikan bahwa AI tidak secara otomatis membuat mahasiswa menjadi lebih pintar, dan bahwa pendidikan perlu tetap menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan.
Pengembangan AI, menurut Wamen Stella, membutuhkan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dunia usaha, dan masyarakat. Indonesia perlu mengoptimalkan kekuatan yang dimiliki, terutama data, energi terbarukan, infrastruktur, kebijakan, serta talenta manusia. Dengan strategi tersebut, perkembangan AI dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan nasional sekaligus memberikan kontribusi terhadap pembangunan teknologi yang berkelanjutan.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak




