Malang, 14 Juli 2026, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Prof. Yuli Rahmawati, menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama pendidikan guru dengan Australia pada pembukaan Indonesia Australia Teacher Education Consortium (IATEC) Annual Meeting 2026 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Malang pada 14–17 Juli 2026.
IATEC merupakan konsorsium perguruan tinggi Indonesia dan Australia yang bertujuan memperkuat kerja sama di bidang pendidikan guru melalui kolaborasi akademik, penelitian, dan pengembangan kapasitas institusi. Anggota konsorsium terdiri atas Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Manado, Universitas Negeri Medan, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Sebelas Maret, Universitas Sanata Dharma, Western Sydney University, The University of Adelaide, Deakin University, The University of Newcastle, dan Central Queensland University.
Pertemuan tahunan yang mengusung tema "Building Future-Ready Educators: Deepening Collaboration in Curriculum, Competency, and Inclusion" tersebut dihadiri oleh 47 peserta, termasuk Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Profesi Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Nunuk Suryani; Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Prof. Yuli Rahmawati, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kemendiktisaintek, Prof. dr. Ardhini Findyartini, Ph.D.; Counsellor for Education and Research Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Ms. Kassia Hare; Direktur Pendidikan Profesi Guru (PPG), Dr. Ferry Maulana Putra, serta perwakilan INOVASI.
Selain Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. sebagai Rektor dari Universitas Negeri Malang sebagai tuan rumah, konsorsium ini juga dihadiri oleh Rektor-rektor antara lain, Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. (Universitas Muhammadiyah Malang), Prof. Nurhasan, M.Kes. (Universitas Negeri Surabaya), Prof. Dr. Refnaldi, M.Litt. (Universitas Negeri Padang), Dr. Joseph Philip Kambey, S.E., M.B.A., Ak. (Universitas Negeri Manado). Konsorsium ini melibatkan pimpinan dan akademisi dari 15 universitas anggota IATEC yang terdiri atas 10 perguruan tinggi Indonesia dan 5 perguruan tinggi Australia.
Dalam sambutannya, Prof. Yuli Rahmawati menegaskan bahwa IATEC merupakan platform strategis untuk memperkuat hubungan Indonesia dan Australia melalui pendidikan. Atdikbud menggarisbawahi empat prioritas kerja sama, yaitu penguatan kolaborasi pendidikan guru melalui pengembangan kurikulum bersama dan mobilitas akademik; dialog mengenai standar kompetensi dan profesionalisme guru; perluasan pengalaman internasional bagi calon guru melalui program Indonesian Teaching Assistant (Guru Bantu) serta program mobilitas bagi mahasiswa Australia di Indonesia; serta penguatan riset bersama dan pembentukan Centre of Excellence di bidang pendidikan guru, STEM, pendidikan inklusif, dan kepemimpinan pendidikan.
Selama empat hari penyelenggaraan, peserta mengikuti Top Management Meeting, diskusi mengenai arah reformasi pendidikan guru Indonesia dan Australia, panel mengenai Teacher Education Outlook, Inclusive Education Across Triads, Coaching and Mentoring, serta Experiential Instructional Strategies Using Applied Learning and Digital Technologies. Melalui rangkaian Triad Meeting, peserta menyusun proposal penelitian kolaboratif, memperkuat jejaring akademik, serta merumuskan IATEC Collaborative Action Plan 2026–2028 sebagai peta jalan pengembangan kerja sama pendidikan guru antara Indonesia dan Australia.
Melalui partisipasi aktif dalam IATEC, KBRI Canberra terus memperkuat diplomasi pendidikan Indonesia–Australia dengan mendorong kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, dan mitra pembangunan. Kerja sama tersebut diharapkan menghasilkan inovasi dalam pendidikan guru, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas peluang mobilitas akademik dan penelitian bersama bagi kedua negara.







