Bapak Kendaraan Listrik Asia Siap Dukung Pe Talenta Kendaraan Listrik Indonesia

Kabar

27 Oktober 2026 | 20.30 WIB

Bapak Kendaraan Listrik Asia Siap Dukung Pe Talenta Kendaraan Listrik Indonesia

Jakarta—Pengembangan kendaraan listrik membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menerjemahkan hasil riset menjadi teknologi dan produk industri. Perguruan tinggi, khususnya pendidikan vokasi, memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta yang sesuai dengan kebutuhan industri kendaraan listrik. 


Hal tersebut dibahas dalam pertemuan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, dengan pakar kendaraan listrik atau dikenal dengan julukan Bapak Kendaraan Listrik Asia (Father of Asian Electric Vehicles), Prof.Ching-Chuen Chan (C.C. Chan), Selasa (27/10).


Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama pengembangan SDM, riset, dan pendidikan vokasi untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Pembahasan mencakup penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, program magang mahasiswa, kompetisi kendaraan hemat energi, serta keterlibatan pelaku industri dalam pembelajaran di perguruan tinggi.


Wamen Stella menyampaikan bahwa Indonesia perlu memanfaatkan momentum pengembangan kendaraan listrik melalui penyiapan SDM dan kebijakan pendidikan tinggi yang terarah. Pengembangan talenta perlu berjalan seiring dengan kebutuhan industri agar lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang relevan.


“Indonesia memiliki sumber daya alam dan talenta yang dapat dikembangkan. Namun, kita membutuhkan kebijakan yang tepat untuk mendorong talenta tersebut. Kita juga perlu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi kendaraan listrik,” ujar Wamen Stella.


Wamen Stella menilai pendidikan vokasi menjadi salah satu bagian penting dalam menyiapkan tenaga kerja untuk industri kendaraan listrik. Menurutnya, proporsi pendidikan tinggi vokasi di Indonesia masih sekitar 8 persen dari keseluruhan pendidikan tinggi.


“Kita perlu meningkatkan jumlah pendidikan vokasi secara signifikan. Saat ini, pengangguran di kalangan lulusan universitas cukup tinggi, sementara industri kendaraan listrik masih membutuhkan tenaga insinyur. Karena itu, kita perlu menyiapkan lebih banyak talenta melalui pendidikan vokasi,” tutur Wamen Stella.


Menurut Wamen Stella, perguruan tinggi perlu memetakan kebutuhan industri untuk menentukan kompetensi yang harus dikembangkan melalui pendidikan. Pemetaan tersebut dapat menjadi dasar penyelarasan kurikulum, penyediaan program magang, dan pelibatan praktisi industri dalam pembelajaran.


“Kita ingin mencocokkan kebutuhan industri dengan program pendidikan di perguruan tinggi. Sebisa mungkin, industri dapat terlibat dalam kurikulum sehingga sebelum lulus, mahasiswa sudah mengenal industri kendaraan listrik. Mahasiswa juga dapat memperoleh kesempatan magang, sementara kurikulum diarahkan agar sesuai dengan kebutuhan industri. Industri juga dapat mengirimkan tenaga ahli untuk mengajar di politeknik,” ungkap Wamen Stella.


Dalam pertemuan tersebut, father of Asian Electric Vehicles, Prof. Chan menekankan bahwa pengembangan kendaraan listrik membutuhkan ekosistem yang menghubungkan riset, industri, pendidikan, dan kebijakan pemerintah. Ia juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi melalui pendidikan dan inovasi yang dikembangkan sesuai kebutuhan nasional.


“Teknologi tidak bisa hanya dibeli, tetapi harus dikembangkan sendiri. Kita harus mendidik generasi muda, menentukan arah pengembangan teknologi sendiri, serta menemukan dan menciptakan teknologi kendaraan listrik kita sendiri. Kita tidak bisa hanya mengharapkan pihak lain memberikan teknologi kepada kita,” ujar Prof. Chan.


Prof. Chan juga menyarankan agar pengembangan kendaraan listrik di Indonesia dimulai dari kendaraan roda dua dan kendaraan berdaya rendah. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang penerapan kendaraan listrik secara lebih luas.


Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) juga melihat peluang untuk memperluas kerjasama pendidikan vokasi dengan industri kendaraan listrik. Salah satu pendekatan yang dibahas adalah pengembangan program pendidikan bersama, termasuk kerjasama politeknik Indonesia dengan mitra di Tiongkok, agar mahasiswa memperoleh pengalaman pembelajaran yang terhubung dengan kebutuhan industri.


Melalui langkah tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat menyiapkan lulusan dengan kompetensi yang dibutuhkan industri kendaraan listrik. Kemdiktisaintek mengajak perguruan tinggi, politeknik, peneliti, dan pelaku industri untuk bersama-sama mengembangkan talenta serta teknologi kendaraan listrik. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja, meningkatkan kapasitas inovasi nasional, dan mendukung kemandirian teknologi Indonesia.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak



/

5

Ulas Sekarang