Bikin Bangga! UKM Reyog Laskar Sawunggaling Unesa Raih Penghargaan dalam Festival Nasional Reog Ponorogo 2026

Kampus Kita

18 Juni 2026 | 09.00 WIB

Bikin Bangga! UKM Reyog Laskar Sawunggaling Unesa Raih Penghargaan dalam Festival Nasional Reog Ponorogo 2026

Unesa.ac.id. SURABAYA—Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Reyog Laskar Sawunggaling Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil meraih penghargaan sebagai penyaji terbaik ke-6 dalam keikutsertaan perdananya pada Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) di Panggung Utama Alon-Alon Ponorogo, Jawa Timur, pada 11-14 Juni 2026.

Prestasi tersebut menjadi capaian yang istimewa mengingat UKM Reyog Laskar Sawunggaling merupakan unit kegiatan mahasiswa yang masih tergolong baru. Di balik keberhasilan itu, tersimpan perjalanan panjang yang penuh tantangan latihan yang berlangsung dalam waktu singkat.

Pembina UKM Reyog Laskar Sawunggaling Unesa, Setyo Yanuartuti mengungkapkan bahwa keinginan menghadirkan reog sebagai identitas budaya di kampus telah muncul sejak lama. Dosen kelahiran Ponorogo itu mengaku terinspirasi saat melihat kelompok reog tampil di berbagai ajang nasional maupun internasional.

“Sebenarnya cita-cita memiliki kelompok reog di Unesa sudah lama. Apalagi banyak mahasiswa asal Ponorogo yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang reog. Dari situlah muncul keinginan untuk membangun komunitas yang kemudian berkembang menjadi UKM Reyog Laskar Sawunggaling,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan UKM tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Awalnya, kelompok itu hanya memiliki satu dadak merak hasil pengadaan dari kegiatan penelitian tim Setyo yang diketuai Welly Suryandoko, Korprodi Sendratasik.

Seiring berjalannya waktu, dukungan dari universitas, fakultas, laboratorium seni, alumni, hingga mahasiswa membuat perlengkapan reog semakin lengkap. Kendati demikian, tantangan terbesar justru muncul ketika mahasiswanya memutuskan mengikuti FNRP.

Persiapan dilakukan dalam waktu relatif singkat, yakni sejak April 2026. Pada saat yang sama, sejumlah anggota inti juga tengah mengikuti ajang nasional lain sehingga proses latihan harus dibagi dalam beberapa kelompok.

“Kami sempat mengalami fase maju-mundur. Banyak pertimbangan yang muncul, mulai dari kesiapan tim hingga pendanaan. Namun anak-anak tetap memiliki semangat yang sangat besar untuk berangkat dan tampil,” ujarnya.

Semangat tersebut terlihat sepanjang proses kreatif. Mahasiswa dari berbagai angkatan terlibat sebagai penata tari, penata musik, pemain, hingga tim produksi. Latihan bahkan kerap berlangsung hingga dini hari karena harus menyesuaikan jadwal kuliah dan aktivitas akademik lainnya.

Salah satu sosok di balik garapan pertunjukan itu adalah Calvin Desta Nanda Saputra, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sendratasik angkatan 2024 yang dipercaya sebagai koreografer. Meski masih berada pada tahap awal perkuliahan, ia berani mengambil tanggung jawab besar dalam proses penciptaan karya.

Calvin mengaku perjalanan menuju panggung FNRP tidak selalu berjalan mulus. Kehadiran anggota yang tidak selalu lengkap saat latihan sempat membuat dirinya ragu untuk melanjutkan perjuangan menuju festival tersebut.

“Selama latihan nggak pernah lengkap, jadi nggak yakin mau maju. Tapi dengan melihat waktu dan energi yang sudah diberikan sama teman-teman yang selalu hadir latihan, rasanya maju ke panggung FNRP harus tetap diperjuangkan,” ungkapnya.

Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Penampilan Reyog Laskar Sawunggaling mampu menarik perhatian dewan juri dan penonton.

Pengalaman mengikuti FNRP menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan kreativitas, memperkuat kualitas garapan, serta membangun karakter kerja sama dalam berkesenian. Ke depan, pihaknya berencana memperkuat program pembinaan dan menghadirkan praktisi seni profesional untuk mendampingi mahasiswa dalam proses berkarya. [Humas Unesa]

unesa

seni budaya

ukm

reyog

/

5

Ulas Sekarang