Bukan Sekadar Ucapan, Pemimpin Mahasiswa FLS 2026 Bawa Gagasan dan Aksi Nyata untuk Masyarakat

Kabar

09 Oktober 2026 | 12.15 WIB

Bukan Sekadar Ucapan, Pemimpin Mahasiswa FLS 2026 Bawa Gagasan dan Aksi Nyata untuk Masyarakat

Depok—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) kembali membangkitkan semangat dan motivasi mahasiswa terpilih melalui gelaran Indonesia Future Leaders Summit (FLS) 2026, Kamis (8/10). 


Tidak sekadar ruang belajar kepemimpinan, FLS menjadi kesempatan bagi para peserta untuk memperluas perspektif, bertemu dengan tokoh-tokoh nasional, dan merefleksikan peran mereka dalam membawa perubahan bagi masyarakat.


Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Future Leaders Camp (FLC) ini menghadirkan peserta dari lima regional dari Nusantara yang membawa pengalaman serta semangat cita-cita yang beragam. Regional I meliputi Jakarta, Jawa Barat, dan Banten; Regional II meliputi wilayah Sumatera; Regional III mencakup Sulawesi, Papua, dan Maluku; Regional IV meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur; serta Regional V mencakup Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). 


Menjadi Pemimpin yang Berdampak


Fikri Fakhrurozi (23), Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Protokol Mahasiswa Universitas Siliwangi dan perwakilan dari Regional 1, mengaku mendapatkan motivasi dari materi yang disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto. Pesan tentang pentingnya membangun bangsa yang kuat dan mandiri dinilai menjadi pengingat bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan Indonesia.


“Karena Pak Brian tadi menyampaikan motivasi kita harus menjadi bangsa yang kuat agar bisa mandiri dalam membangun Indonesia untuk menuju Indonesia Emas tahun 2045,” ujar Fikri.


Memiliki ambisi untuk membangun lingkungan organisasi yang mendorong mahasiswa untuk lebih aktif. Sementara di masyarakat, ia terlibat dalam kegiatan sosial, termasuk mengunjungi panti asuhan dan menyalurkan aspirasi para penghuninya kepada lembaga terkait. Ke depan, ia ingin memperluas kontribusi melalui usaha yang dapat membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.


“Tentunya impact yang lebih besar. Saya bercita-cita mempunyai sebuah project atau misalnya sebuah usaha dan di sana saya bisa membuka lowongan pekerjaan untuk masyarakat Indonesia,” katanya.


Harapan untuk menghadirkan perubahan yang dirasakan masyarakat juga menjadi perhatian perwakilan Regional 2, yakni Fahmi Mahendra (23), mantan Presiden Mahasiswa (Presma) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Perintis Indonesia. Setelah mendengarkan pemaparan materi, Fahmi melihat bahwa menjadi pemimpin membutuhkan perjuangan, kemauan untuk terus belajar, serta kemampuan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, termasuk dalam bidang teknologi dan sumber daya manusia.


“Satu hal yang saya pelajari adalah seluruh ataupun tokoh hebat yang hadir pada hari ini lahir dari perjuangan yang memang tidak mudah. Dan ini menjadi motivasi untuk saya untuk berkembang lebih baik, menjadi pemimpin di masa depan Indonesia sendiri,” tutur Fahmi.


Pengalamannya menjadi Presma turut membentuk pandangannya tentang kontribusi mahasiswa. Ketika bencana alam melanda daerahnya, Fahmi memprioritaskan kegiatan sosial, seperti penanaman mangrove di wilayah pesisir untuk mendukung mitigasi bencana, penggalangan dana, serta penyaluran bantuan langsung kepada masyarakat di Kabupaten Agam.


Bagi Fahmi, kontribusi mahasiswa perlu berjalan bersama dukungan pemerintah dan masyarakat. Ia berharap kolaborasi lintas sektor dapat memperluas manfaat program yang dijalankan dan mendorong terwujudnya Indonesia yang lebih baik.


Dari Regional 3, Putri Ayu Kurnia Syam (20), Sekretaris Umum organisasi mahasiswa di Universitas Indonesia Timur, merasakan bahwa pertemuan dengan para pemimpin dari berbagai latar belakang membuka perspektifnya tentang kepemimpinan.


“Saya mendapatkan perspektif kepemimpinan yang jauh lebih meluas karena bertemu dengan pemimpin-pemimpin hebat yang ada di kegiatan hari ini. Dan saya belajar dan saya sadar bahwa keterbatasan finansial bukan sebagai penghalang untuk kita berpikir lebih maju dan berdampak untuk masyarakat,” ungkap Putri dengan semangat.


Sementara itu, Prisiska Dara Febriyoni (21) dari Regional IV, Koordinator Kementerian Dalam Negeri BEM Universitas Merdeka Madiun, mengaku materi kepemimpinan dalam FLS 2026 membuatnya lebih berani mempertimbangkan tanggung jawab yang lebih besar. 


Dalam aktivitas organisasinya, Prisiska terbiasa menampung aspirasi mahasiswa dan membantu mencari penyelesaian bersama. Ia juga terlibat dalam sosialisasi dan lokakarya di kampus serta program bagi masyarakat sekitar. Menurutnya, aktivis mahasiswa tidak semestinya hanya dipandang melalui aksi demonstrasi, sebab ada pula kerja-kerja organisasi untuk mendengar dan menindaklanjuti aspirasi.


“Kita sebagai aktivis juga berusaha bagaimana aspirasi masyarakat itu kita salurkan. Sebagai koordinator Kementerian Dalam Negeri BEM, aspirasi-aspirasi mahasiswa juga kita tampung dan kita bantu selesaikan,” jelasnya.


Stefanus Bura (23) dari Regional V merupakan Presma BEM Universitas Nusa Nipa. Ia melihat FLS 2026 sebagai kesempatan untuk belajar dari para pemimpin dan mengevaluasi kembali pendekatan kepemimpinan yang selama ini dijalankannya. Ia ingin membawa pembelajaran tersebut kembali ke masyarakat, khususnya di Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka.


“Saya mendapatkan banyak ilmu dari berbagai pemateri seperti Bapak Brian Yuliarto dan Bapak Syahganda. Apa yang menjadi gap dalam kepemimpinan saya, bisa saya evaluasi dan refleksikan sehingga saya bisa temukan dan akan saya ubah ke depannya,” tutur Stefanus.


Sebagai Presma, ia menginisiasi kegiatan buka puasa bersama untuk mempererat hubungan mahasiswa Muslim yang merupakan kelompok minoritas di kampusnya hingga ikut mengawal isu-isu sosial bersama organisasi kepemudaan lainnya. Baginya, mahasiswa perlu hadir sebagai suara yang kritis sekaligus menawarkan solusi bagi masyarakat.


“Adapun kita bersama-sama bermitra, berkolaborasi dengan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) luar. Kita berkonsolidasi sehingga kita juga turun ke masyarakat. Kemudian menjadi suara kritis, solutif untuk masyarakat,” jelasnya.


Stefanus turut menyoroti kebutuhan masyarakat di daerahnya, termasuk persoalan infrastruktur jalan dan jembatan serta pemanfaatan Bendungan Napun Gete. Ia berharap pemerintah dan kementerian terkait dapat berkolaborasi untuk menindaklanjuti kebutuhan masyarakat di Kabupaten Sikka. Stefanus juga berpesan bagi generasi muda NTT agar tidak berkecil hati karena stigma ketertinggalan. Ia meyakini bahwa keberanian, kesempatan, dan keterlibatan anak muda dapat menjadi modal untuk bersaing di tingkat yang lebih luas.


Kisah para peserta dari lima regional menunjukkan bahwa kepemimpinan mahasiswa tumbuh melalui beragam pengalaman. Mulai dari membangun kegiatan sosial, membantu masyarakat terdampak bencana, memperjuangkan kesempatan pendidikan, menampung aspirasi, hingga menyuarakan kebutuhan pembangunan daerah.


Melalui FLS 2026, Kemdiktisaintek membuka ruang bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif kepemimpinan dan membangun jejaring lintas wilayah. Pembelajaran dari para pemateri diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk merefleksikan peran masing-masing, mengembangkan gagasan, dan membawa manfaat ketika kembali ke kampus maupun masyarakat seraya mendukung Diktisaintek Berdampak dalam berkarya, berdaya, dan berdampak.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Ulas Sekarang