FAKFAK — Mahasiswa Politeknik Negeri Fakfak (Polinef), Papua Barat, menunjukkan daya saingnya di tingkat nasional dengan meraih dua Juara 1 dan satu Juara 2 pada Kompetisi Mahasiswa Informatika Politeknik Nasional (KMIPN) VIII 2026.
Kompetisi yang berlangsung di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Makassar, pada 9–11 September 2026 tersebut mempertemukan talenta informatika dan vokasi dari berbagai politeknik di Indonesia untuk beradu gagasan, inovasi perangkat lunak, dan solusi teknologi aplikatif.
Polinef mengirimkan tiga tim dan seluruhnya berhasil membawa pulang prestasi. Tim “Gassskeunn” meraih Juara 1 kategori Dampak Layanan Publik pada bidang E-Government. Tim “Apakah Menang?” juga berhasil menjadi Juara 1 kategori Impact Factor pada Hackathon.
Sementara itu, tim “MaKaLa (masyaallah kaget laoh)” meraih Juara 2 kategori Teknologi Tepat Guna pada Cipta Inovasi Bidang TIK.
Di balik capaian tersebut, mahasiswa menjalani persiapan selama beberapa bulan. Dosen pendamping dari Program Studi Manajemen Informatika Polinef, Ardhyansyah Mualo, S.Kom., M.T., menjelaskan bahwa proses dimulai dari pematangan ide, riset kebutuhan masyarakat dan pemerintah daerah, pengembangan purwarupa fungsional, hingga simulasi presentasi teknis.
Mahasiswa juga turun langsung untuk memahami persoalan yang ingin diselesaikan melalui teknologi. Salah satu tim, misalnya, mendatangi Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk mengumpulkan data pendukung bagi pengembangan aplikasi yang ditujukan untuk membantu teman tuli.
Proses tersebut membuat inovasi yang dibawa ke kompetisi tidak hanya berangkat dari gagasan di ruang kelas, tetapi juga dari kebutuhan yang ditemukan langsung di lapangan.
Saat kompetisi, mahasiswa menghadapi tantangan keterbatasan waktu, terutama pada kategori Hackathon, hingga galat teknis yang harus diselesaikan secara langsung. Mereka juga harus mempresentasikan inovasi di hadapan juri profesional bidang teknologi informasi
“Prestasi ini membuktikan mahasiswa Politeknik Negeri Fakfak memiliki kompetensi yang setara dan mampu bersaing di kancah nasional,” ujar Ardhyansyah.
Ia berharap capaian tersebut menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk melanjutkan pengembangan inovasi hingga dapat diterapkan di Kabupaten Fakfak, sekaligus menumbuhkan budaya riset dan kompetisi di lingkungan kampus.
Dari Fakfak, mahasiswa Polinef menunjukkan bahwa inovasi vokasi dapat tumbuh dari persoalan di sekitar, dikembangkan melalui riset dan teknologi, lalu dibawa untuk bersaing di panggung nasional.





