Future Leaders Camp: Bangun Karakter Calon Pemimpin Berintegritas dan Inovatif Berdampak Global

Kabar

31 October 2025 | 04.03 WIB

Future Leaders Camp: Bangun Karakter Calon Pemimpin Berintegritas dan Inovatif Berdampak Global

Bandung-Hari kedua penyelenggaraan Indonesia Future Leaders Camp (FLC) 2025 Regional I, semakin menyalakan bara optimisme puluhan mahasiswa asal perguruan tinggi di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Forum yang diinisiasi oleh Kemdiktisaintek ini menjadi langkah strategis, penyiapan generasi calon pemimpin masa depan bangsa. FLC ini digelar di Universitas Islam Bandung (Unisba), Kamis (30/10).

Pada kesempatan ini hadir sebagai pemateri Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian yang memberikan paparan terkait tata kelola kebijakan publik, dan pengusaha muda peraih penghargaan Forbes 30 Under 30 Asia, Rizky Arief Dwi Prakoso, menyampaikan realitas  bisnis di kancah lokal maupun global.

Materi pertama dipaparkan Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi X DPR RI memberikan perspektif kritis mengenai lingkup Kebijakan Publik, terutama peran lembaga legislatif. Hetifah mengajak mahasiswa, sebagai calon pemimpin dan pengawal kebijakan, untuk memperluas pemahaman mereka terkait pengambilan keputusan di lingkup kebijakan publik pemerintah. Hetifah menerangkankan bahwa putusan kebijakan publik melibatkan seluruh elemen pembuat keputusan, termasuk lembaga legislatif yang berfungsi sebagai pembuat undang-undang.

?Melanjutkan pemaparannya, Hetifah menyoroti dua aspek penting yang sering menjadi tantangan dalam implementasi kebijakan publik di Indonesia, yakni terkait keberlanjutan dan peran aktif masyarakat.

?Kunci Kebijakan Publik Berdampak: Keberlanjutan dan Partisipasi Warga

?Hetifah menekankan bahwa kebijakan yang baik harus memiliki aspek keberlanjutan. Ia menuturkan fenomena umum di Indonesia, "tradisi ganti kebijakan" setiap kali terjadi pergantian pemimpin.

?"Sebenarnya kebijakan itu kalau bagus memang diteruskan. Jangan nanti ada kesan, ganti menteri, ganti kebijakan, ganti presiden, ganti kebijakan. Tidak ada keberlanjutan," tegasnya.

?Namun, keberlanjutan bukan berarti kebijakan harus kaku. Ia menekankan perlunya evaluasi berkala. Jika suatu kebijakan sudah tidak relevan atau tidak efektif, maka harus berani diganti. Pada aspek ini juga, pembuat kebijakan harus mendengar aspirasi masyarakat.

?Hetifah melihat potensi besar dari civil society yang kini mulai tumbuh kuat dan memahami isu kebijakan. Namun, mekanisme bagi mereka untuk berpartisipasi secara efektif masih harus diperkuat. Ia mengapresiasi upaya pemerintah pusat dan daerah yang mulai membuka jalur partisipasi, seperti sistem Lapor! atau memanfaatkan media sosial untuk menampung keluhan dan masukan.

?"Kunci dari kebijakan yang baik adalah yang responsif terhadap kebutuhan publik. Hetifah menutup dengan menekankan bahwa masyarakat adalah aktor kunci di awal proses.

?"Sebenarnya yang paling kunci di awal itu seharusnya masyarakat, karena mereka yang punya preferensi. Dia yang tahu masalah mereka apa, kebutuhannya apa," terangnya.

?Oleh karena itu kata Hetifah, tugas calon pemimpin muda dari FLC, adalah memastikan kebijakan yang dibuat oleh negara selalu berakar pada kebutuhan riil rakyat, bukan hanya pada asumsi para pembuat kebijakan.

"Hal ini adalah bentuk pengawasan dan social control yang esensial bagi pemimpin masa depan," pungkasnya.

Kewirausahaan untuk Hadirkan Lapangan Kerja

Usai dibekali pemahaman tentang kebijakan publik, lebih lanjut dalam sesi inspiratif di FLC hadir Rizky Arief Dwi Prakoso, founder dan CEO HMNS, perusahaan produsen parfum di Indonesia. Ia juga masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia, yang merupakan pengakuan global terhadap 30 individu berusia di bawah 30 tahun, yang dianggap paling berpengaruh dan menjanjikan di bidangnya masing-masing.

Membuka materi, ia menantang para peserta FLC untuk meninjau kembali definisi kepemimpinan, dan dampak yang ingin mereka ciptakan bagi Indonesia. Secara tegas, Rizky menyampaikan pandangannya mengenai jalur paling signifikan untuk memberikan kontribusi nyata di masa kini, yakni menjadi pebisnis atau entrepreneur. Rizky menekankan bahwa menjadi entrepreneur bukan sekadar pilihan karier, melainkan sebuah keputusan strategis untuk menciptakan dampak ekonomi yang masif.

?"Implikasinya gede banget. Makanya kalau saya  bilang saat ini, kalau kamu bener-bener ingin bikin dampak yang serius, yang real  buat Indonesia, dan punya kesempatan, punya privilege-nya, jadi (lah) entrepreneur," ujar Rizky di hadapan para mahasiswa.

?Menurutnya, dampak seorang wirausahawan jauh melampaui keuntungan pribadi. Mereka adalah pencipta lapangan kerja, inovator solusi, dan kontributor utama bagi pendapatan negara melalui pajak.

?"Nah, entrepreneur, menurut saya, punya dampak yang gede banget buat ekonomi Indonesia. Mereka adalah penggerak roda ekonomi yang riil," tambahnya.

?Pernyataan Rizky Arief tersebut menggugah kesadaran peserta FLC bahwa kepemimpinan tidak harus selalu terikat pada jabatan politik atau birokrasi, tetapi dapat diwujudkan melalui semangat inovasi dan pembangunan bisnis yang berkelanjutan. Pesan utamanya: pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menciptakan nilai dan membuka peluang bagi banyak orang.

Ia kemudian menyoroti bahwa meskipun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyerap 97 persen tenaga kerja, mayoritas pelakunya belum memiliki mental dan kapasitas kewirausahaan yang kuat. Realitasnya pahit: sebagian besar usaha mikro hanya bertahan satu tahun, dan banyak yang tutup setelah tiga tahun.

Rizky menegaskan bahwa pergeseran cara pandang adalah keharusan. Anak muda Indonesia, terutama peserta FLC menurutnya harus melihat kewirausahaan sebagai jalan untuk menciptakan lapangan kerja dan memberi pekerjaan bagi orang lain, bukan sekadar mencari keuntungan pribadi.

"Kita tidak hanya perlu orang kaya, tapi orang yang bisa memberi pekerjaan untuk orang lain," pungkasnya.

Esensi Kepemimpinan Masa Depan

FLC yang digelar Kemdiktisaintek secara aplikatif telah merajut esensi kepemimpinan masa depan, yaitu perpaduan antara pemahaman mendalam terhadap kebijakan publik, dan keberanian generasi muda untuk menjadi pencipta lapangan kerja dengan menjadi pebisnis inovatif.

Diskusi dengan Ketua Komisi X DPR RI memberikan gambaran peta jalan tentang bagaimana kebijakan nasional diputuskan, sementara sesi bersama Rizky Arief dari HMNS menanamkan mentalitas pebisnis yang berani mengambil risiko untuk menciptakan dampak ekonomi riil.

Dengan bekal ini, para peserta FLC diharapkan tidak hanya menjadi pemimpin yang cerdas dan kritis dalam mengawal tata kelola kebijakan publik, tetapi juga pebisnis inovatif yang mampu mengubah gagasan menjadi solusi nyata bagi kemajuan bangsa, mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang