Surakarta–Belasan tahun yang lalu, seorang anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) sangat gemar mengumpulkan teman-temannya untuk membaca buku di taman baca yang ia dirikan sendiri. Ia berperan sebagai pendidik sebaya. Anak tersebut tumbuh, menempuh pendidikan tinggi, menerima berbagai beasiswa dari pemerintah, hingga kini menjadi dosen di Program Studi Pendidikan Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Namanya Hardika Dwi Hermawan. Sosok pendidik yang tak hanya mengajar di ruang kelas,tetapi juga di luar kelas, sambil menyalakan cahaya di banyak desa lewat inisiatif bernama Desamind Indonesia Foundation.
“Anak-anak, termasuk yang ada di desa, perlu didorong agar berkembang. Lilinnya ada, tetapi perlu kita nyalakan. Semangat kita di Desamind adalah untuk menyalakan lilin-lilin yang ada di desa,” jelas Hardika, Minggu (12/10).
Sinergi Pendidikan dan Pengabdian
Sebagai dosen sekaligus pendiri Desamind, Hardika membuktikan bahwa ilmu dan pengabdian masyarakat tak harus berjalan di jalur yang berbeda. Melalui yayasan yang ia dirikan bersama teman-temannya, ia mendorong anak muda di berbagai daerah untuk menjadi local champion atau agen perubahan yang menyalakan potensi desanya masing-masing.
“Teknologi Informasi (IT) itu ibarat ilmu gaib,” ujar Hardika sambil tersenyum. “Ilmu yang bisa masuk di segala lini: pertanian, kepemudaan, bahkan kesehatan. Tantangannya adalah bagaimana menerapkannya di konteks low tech environment seperti di desa. Lewat Desamind, saya sadar bahwa itu bisa. Bahkan tanpa komputer dan internet, anak-anak tetap bisa belajar berpikir komputasional.”
Menebar Percikan Ilmu, Membakar Semangat Generasi Muda
Desamind lahir bukan dari ruang seminar, melainkan dari obrolan makan malam sederhana di Solo. Kala itu, Hardika baru pulang dari studi pascasarjana di Hong Kong dan Selandia Baru. Ia dan teman-temannya, para aktivis dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, merasakan kejanggalan.
“Kami sudah dapat ilmu, tapi kenapa cuma sibuk kerja? Rasanya dosa kalau ilmu itu tidak kami bagi ke masyarakat,” kenangnya.
Dari keresahan itulah muncul semangat untuk “menyalakan lilin-lilin di desa”, menghidupkan potensi anak muda di pelosok yang hanya perlu satu percikan untuk bersinar. Hardika ingin mendorong lebih banyak anak muda Indonesia memiliki kompetensi kelas dunia, tanpa kehilangan pemahaman akar rumput.
Semangat tersebut, sejalan dengan pesan Tan Malaka, yang menjadi pegangannya sebagai pendidik.
“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali,” ungkap Tan Malaka.
Aktor Perubahan dalam Masyarakat
Kini, gerakan Desamind telah menjangkau berbagai daerah, membumikan literasi digital, Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), dan coding di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Namun, bagi Hardika, dampak terbesar bukan pada kuantitas wilayah binaan, melainkan pada perubahan pola pikir. Baginya, pendidikan sejati bukan sekadar menara gading, tapi jembatan antara kampus dan kehidupan nyata.
“Ketika cara berpikir mereka berubah, peluang dan potensi akan terbuka dengan sendirinya,” kata Hardika.
Kiprah Hardika menginspirasi banyak pihak, termasuk Staf Ahli Bidang Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Hasan Chabibie yang turut berkunjung ke UMS dan menyaksikan dedikasi sang dosen.
“Mas Dika adalah representasi dosen yang memberikan dampak luar biasa bagi masyarakat. Inilah yang kami maksud dengan Kampus Berdampak, ketika aktivitas akademik benar-benar memberi perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Dosen seperti beliau menjadi aktor utama dalam membangkitkan semangat masyarakat di desa,” tegas Staf Ahli Hasan.
Di tengah tantangan digitalisasi dan semangat yang mudah padam, Hardika tetap optimis. Ia percaya, setiap anak muda memiliki “lilin” dalam dirinya, dan tugas para pendidik adalah memastikan lilin itu menyala terang.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif






