ISI Yogyakarta Perkuat Jejaring Global melalui SICTAS 2026 di Thailand

Kampus Kita

23 Juni 2026 | 08.00 WIB

ISI Yogyakarta Perkuat Jejaring Global melalui SICTAS 2026 di Thailand

Bangkok, Thailand – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memperkuat peran dan jejaring internasionalnya melalui partisipasi dalam Silpakorn University International Conference in Total Art and Science (SICTAS) 2026 yang berlangsung pada 16–21 Juni 2026 di Bangkok Art and Culture Centre (BACC), Bangkok, Thailand.

Mengusung tema “Art, Music and Design for Sustainability”, konferensi internasional ini menjadi ruang kolaborasi bagi akademisi, seniman, peneliti, dan praktisi kreatif dari berbagai negara untuk mempertemukan gagasan seni, musik, desain, pendidikan, serta isu keberlanjutan dalam satu forum global.

Keikutsertaan ISI Yogyakarta dalam SICTAS 2026 tidak hanya sebagai partisipasi akademik individu, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan kerja sama kelembagaan internasional. Pada penyelenggaraan tahun ini, ISI Yogyakarta dipercaya menjadi salah satu co-host institution bersama Silpakorn University dan sejumlah mitra akademik dunia, seperti Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) – University of the Arts Singapore, National University of Singapore, Shanghai Academy of Fine Arts – Shanghai University, Silliman University, University of Illinois Urbana-Champaign, serta Wuhan University.

Peran tersebut menegaskan posisi ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni Indonesia yang aktif membangun kolaborasi lintas negara, lintas disiplin, dan lintas ekosistem kreatif.

Melalui forum ini, ISI Yogyakarta membawa perspektif seni Indonesia ke panggung akademik internasional sekaligus membuka peluang pengembangan kerja sama dalam bidang riset, publikasi ilmiah, pertukaran pengetahuan, mobilitas akademik, hingga kolaborasi kreatif di tingkat global.

SICTAS 2026 dirancang sebagai wadah untuk mempresentasikan hasil penelitian serta memperkuat integrasi seni, musik, desain, dan berbagai disiplin ilmu terkait. Konsep keberlanjutan dalam konferensi ini tidak hanya dimaknai dari sisi lingkungan, tetapi juga mencakup aspek sosial, budaya, teknologi, pendidikan, kesejahteraan emosional, hingga penguatan komunitas.

Rangkaian kegiatan menghadirkan berbagai agenda, mulai dari keynote speaker internasional, diskusi panel, lebih dari 80 presentasi akademik, hingga Silpakorn Showcase yang menjadikan BACC sebagai ruang pertukaran gagasan dan karya kreatif dari berbagai negara.

Dalam agenda ilmiah SICTAS 2026, empat dosen ISI Yogyakarta turut berkontribusi melalui presentasi oral dan poster.

Lily Elserisa mempresentasikan penelitian berjudul “Visual Construction of Intergenerational Care in ‘Granny Loves to Dance’ Children’s Picture Book” pada Track 1 bertema “Visual Arts and Emotional Well-being for Sustainable Communities”. Kajian tersebut membahas peran buku gambar anak sebagai media visual untuk memahami hubungan antargenerasi, kepedulian, serta kesejahteraan emosional dalam membangun komunitas berkelanjutan.

Sementara itu, Taufik Ivan Irwansyah melalui paper “Walking with the Speculative Objects as Artistic Research” pada Track 2 bertema “Interdisciplinary Aesthetics and New Media for Sustainable Futures” mengangkat pendekatan riset artistik yang mempertemukan objek, pengalaman tubuh, media baru, dan spekulasi kreatif sebagai cara menghasilkan pengetahuan baru mengenai masa depan.

Dari bidang musik dan pendidikan, Oriana Tio Parahita Nainggolan mempresentasikan penelitian berjudul “Developing Piano Learning Readiness in Children: A Video-Based Study of Dalcroze Eurhythmics in Early Childhood Music Education”. Penelitian ini mengkaji pengembangan kesiapan belajar piano pada anak usia dini melalui pendekatan Dalcroze Eurhythmics yang menekankan hubungan antara gerak, ritme, kreativitas, dan pengalaman musikal.

Adapun Fortunata Tyasrinestu berpartisipasi melalui poster “The Melancholy of Adults in Nostalgia for Javanese Children Song”. Karya tersebut mengangkat tema memori, nostalgia, serta warisan lagu anak Jawa sebagai bagian dari kajian budaya yang tetap relevan dalam konteks masyarakat modern.

Keempat kontribusi tersebut menunjukkan luasnya bidang akademik ISI Yogyakarta, mulai dari seni rupa dan desain, media baru, riset artistik, pendidikan musik, hingga kajian budaya. Kehadiran para akademisi ISI Yogyakarta di forum internasional ini memperlihatkan bahwa seni tidak hanya menjadi ekspresi estetika, tetapi juga berperan sebagai instrumen penelitian, pendidikan, penguatan komunitas, serta solusi terhadap berbagai tantangan global.

Bagi ISI Yogyakarta, partisipasi dalam SICTAS 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat rekognisi internasional, memperluas jejaring akademik, serta meneguhkan kontribusi perguruan tinggi seni Indonesia dalam percakapan global mengenai masa depan seni, musik, dan desain.

Melalui kolaborasi dan kehadiran di forum internasional, ISI Yogyakarta terus mendorong sivitas akademika untuk menghasilkan karya dan penelitian yang tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga memberikan dampak bagi masyarakat serta mendukung pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

DiktisaintekBerdampak

KemendiktisaintekBerdampak

ISI Yogayakarta

/

5

Ulas Sekarang