Jakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong penguatan ekosistem pendidikan tinggi, termasuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS), di tengah berbagai perubahan global. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto serta Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) IV Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BP PTSI), Rabu (15/7).
Dalam kesempatan ini, Mendiktisaintek menekankan bahwa pendidikan bukan merupakan suatu bisnis, tetapi berperan strategis dalam meningkatkan akses ilmu pengetahuan dan menghasilkan para pemimpin bangsa di masa depan. Menurut Mendiktisaintek, inovasi merupakan kunci agar perguruan tinggi dapat beradaptasi dengan disrupsi teknologi dan tantangan sosial dan ekonomi di dunia.
“Pendidikan adalah untuk mencetak talenta unggul Indonesia yang akan menjadi tulang punggung kemajuan bangsa. Kalau kita bertahan dan melakukan inovasi, turbulensi yang dialami justru akan memperkuat kita,” tegas Menteri Brian.
Mendiktisaintek juga menyatakan bahwa Kemdiktisaintek akan terus mendukung peningkatan kualitas PTS di Indonesia. Perguruan tinggi didorong untuk terus menghadirkan riset dan inovasi untuk memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
Sejalan dengan hal tersebut, Wamen Fauzan menjelaskan bahwa perguruan tinggi yang akan bertahan di masa depan adalah institusi yang mampu beradaptasi dengan cepat dan membangun relevansi dengan kebutuhan masyarakat.
Wamendiktisaintek memaparkan bahwa berdasarkan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), 63% atau sebanyak 2.713 kurang lebih lembaga dari total perguruan tinggi di Indonesia dikelola oleh swasta, dan lebih dari 4 juta mahasiswa Indonesia menimba ilmu di PTS. Sementara itu, dalam laporan Future of Jobs 2025, diproyeksikan pada tahun 2030 akan ada 170 juta pekerjaan baru dan hilangnya 92 juta pekerjaan di masa kini. Lebih jauh lagi, 39% keterampilan inti yang dimiliki pekerja hari ini diperkirakan akan berubah atau menjadi usang pada tahun 2030. Hal ini semakin mempertegas pentingnya penguatan adaptabilitas dan kualitas PTS dalam menyiapkan lulusan dengan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Peradaban tidak pernah runtuh karena perubahan, tetapi karena gagal membaca perubahan. Maka, perguruan tinggi yang akan bertahan adalah perguruan tinggi yang adaptif dan bergerak sesuai dengan zamannya,” tegas Wamen Fauzan.
Dalam kesempatan tersebut, Wamendiktisaintek juga menyampaikan penguatan tata kelola pendidikan tinggi melalui pendekatan pembinaan yang lebih proporsional dan sesuai dengan karakteristik masing-masing perguruan tinggi. Langkah ini diharapkan dapat mendukung pengembangan kapasitas PTS secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Ketua Umum Asosiasi BP PTSI, Thomas Suyatno menyampaikan bahwa PTS saat ini menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, forum ini menjadi momentum penting untuk merumuskan berbagai langkah strategis bagi penguatan PTS ke depan.
"Kami berharap berbagai rumusan yang dihasilkan dapat memberikan kemaslahatan bagi kehidupan PTS dan memperkuat kolaborasi dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN),” ujar Thomas.
Melalui semangat Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek terus memperkuat kolaborasi dengan badan penyelenggara perguruan tinggi swasta guna membangun pendidikan tinggi yang unggul, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pencetak talenta unggul, serta motor penggerak inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan kemajuan bangsa.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak






