Medan—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) menyelenggarakan Seminar Dampak Pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra Tahun 2026 sebagai ruang diseminasi berbagai inovasi dan praktik baik perguruan tinggi dalam membantu masyarakat terdampak bencana. Kegiatan yang berlangsung di Universitas Prima Indonesia, Sumatra Utara ini mempertemukan dosen, mahasiswa, serta mitra masyarakat untuk berbagi pengalaman mengenai solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah diterapkan di lapangan, Kamis (2/7).
Salah satu inovasi dipresentasikan oleh tim Universitas Abulyatama Aceh melalui program Rumoh Tani, sebuah model urban farming yang dirancang khusus bagi kawasan rawan banjir di Langsa, Aceh.
Program tersebut mengembangkan berbagai teknologi budidaya, mulai dari hidroponik rakit apung, aquaponik, rumah jamur, sistem raised bed, hingga tanaman obat keluarga (TOGA). Seluruh sistem dirancang agar tetap dapat berproduksi ketika banjir kembali terjadi, sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
"Program ini sangat bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan serta dapat direplikasi di wilayah lain. Sekarang Rumoh Tani telah dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bersama kelompok pemuda dan pedagang sehingga mampu meningkatkan ketahanan pangan sekaligus menambah penghasilan masyarakat," ujar Ketua Tim Universitas Abulyatama, Rahmah Hayati.
Mengubah Dampak Bencana Menjadi Nilai Tambah Ekonomi
Tim Universitas Tidar menghadirkan pendekatan terpadu di kawasan Danau Maninjau melalui pengembangan teknologi pengolahan ikan nila menjadi abon dan tepung berkalsium tinggi.
Program tersebut dipadukan dengan sistem filtrasi air bersih, pembangkit listrik tenaga surya, hingga pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi produk aromaterapi. Selain mengembangkan teknologi tepat guna, mahasiswa juga mendampingi masyarakat dalam penyusunan strategi pemasaran, perhitungan biaya produksi, hingga penguatan branding produk.
“Saat terjadi blackout di Sumatra, panel surya yang kami bangun dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan listrik, sementara sistem filtrasi masih digunakan hingga saat ini karena sangat membantu penyediaan air bersih pascabencana,” jelas Adhito Irsyad Pratama, mahasiswa Universitas Tidar yang tergabung dalam tim Mahasiswa Berdampak.
Pemanfaatan Limbah Menjadi Solusi Pemulihan Lingkungan dan Trauma
Sementara itu, Universitas Khairun asal Ternate mengembangkan pendekatan pemulihan berbasis lingkungan dan kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan limbah organik menjadi eco-enzyme yang digunakan sebagai pembersih ramah lingkungan.
Selain itu, tim mahasiswa juga mengajak anak-anak memanfaatkan limbah sisa banjir menjadi berbagai kerajinan tangan sebagai bagian dari kegiatan trauma healing. Program tersebut turut dilengkapi dengan edukasi pemanfaatan tanaman herbal bagi masyarakat sebagai bagian dari upaya pemulihan kesehatan pascabencana.
"Kami memanfaatkan limbah organik yang sebelumnya menimbulkan pencemaran dan bau tidak sedap menjadi eco-enzyme yang dapat digunakan untuk membersihkan lingkungan. Kami juga mengajak anak-anak membuat kerajinan berbasis limbah banjir yang memiliki nilai ekonomis," ujar Aditya Sindu Sakti, dosen Universitas Khairun.
Teknologi Air Bersih hingga Sekolah Darurat
Berangkat dari kebutuhan dasar masyarakat terdampak longsor di Aceh Tengah, tim Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan sistem penyediaan air minum berbasis ultrafiltrasi yang mampu menghasilkan sekitar 2.000 liter air layak minum per jam.
Selain membangun jaringan perpipaan dari sumber air menuju permukiman warga, tim juga menyelenggarakan sekolah darurat bagi anak-anak, layanan pemeriksaan kesehatan, distribusi bantuan kebutuhan pokok, pengelolaan sampah melalui bank sampah dan insinerator, hingga kegiatan trauma healing berbasis seni bagi anak-anak dan perempuan.
"Teknologi filtrasi yang dibuat oleh I Gede Wenten, guru besar ITB ini menghasilkan air yang sudah memenuhi standar air minum dengan kapasitas sekitar 2.000 liter per jam. Teknologi ini juga mudah dioperasikan masyarakat sehingga dapat direplikasi di berbagai daerah terdampak bencana," ujar Kurnia Fajar Afgani, dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, Kemdiktisaintek terus mendorong agar inovasi dan pengabdian kepada masyarakat menjadi solusi nyata bagi berbagai tantangan pembangunan. Berbagai praktik baik yang dipresentasikan dalam Seminar Dampak ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam memperkuat ketangguhan menghadapi bencana sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak







