Medan–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperkuat peran perguruan tinggi melalui Program Mahasiswa Berdampak sebagai upaya menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi bagi masyarakat. Komitmen tersebut disampaikan pada Seminar Dampak Pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatera Tahun 2026 yang diselenggarakan di Universitas Prima Indonesia, Medan, Kamis (2/7).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan tersebut diikuti pelaksana Program Mahasiswa Berdampak dari berbagai perguruan tinggi sebagai wadah berbagi praktik baik dan pembelajaran dalam mendukung pemulihan dampak bencana. Seminar ini juga menjadi momentum untuk memperkuat implementasi Program Mahasiswa Berdampak di berbagai daerah.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, I Ketut Adnyana, menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak merupakan wujud komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
"Program ini bukan sekadar pengabdian kepada masyarakat. Ketika masyarakat menghadapi bencana, perguruan tinggi harus hadir membawa ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang memberikan solusi serta memperkuat dampak bagi masyarakat," ujar Direktur Ketut.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Seminar Dampak yang menjadi ruang evaluasi sekaligus diseminasi hasil Program Mahasiswa Berdampak. Dalam forum ini, setiap tim mempresentasikan capaian program, inovasi yang dikembangkan, tantangan selama pelaksanaan, serta dampak yang telah dirasakan masyarakat di wilayah sasaran. Selain menjadi ajang berbagi praktik baik, seminar ini juga menjadi dasar penyempurnaan pelaksanaan program pada masa mendatang agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sebagai tuan rumah penyelenggaraan seminar, Wakil Rektor III Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Universitas Prima Indonesia, Refi Ikhtiari menyampaikan bahwa penyelenggaraan seminar tersebut memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam mendukung implementasi Program Mahasiswa Berdampak. Menurutnya, program tersebut mendorong mahasiswa menjadi agen perubahan dalam pemulihan pascabencana dan pemberdayaan masyarakat.
Perguruan tinggi menurutnya, memiliki posisi strategis dalam membangun kolaborasi antara sivitas akademika, pemerintah, dan masyarakat sehingga berbagai inovasi yang lahir dari kampus dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemulihan pascabencana dan pembangunan yang berkelanjutan.
Lebih lanjut Seminar Dampak juga menghadirkan sejumlah tim pelaksana untuk membagikan pengalaman selama menjalankan program di lapangan. Berbagai inovasi yang dipresentasikan menunjukkan bagaimana mahasiswa dan dosen mampu menerapkan hasil riset serta pengetahuan akademik menjadi solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di daerah sasaran.
Salah satu tim pelaksana dari Universitas Abulyatama memaparkan inovasi yang dikembangkan selama pelaksanaan program di Aceh. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Abulyatama, Rahmah Hayati, menyampaikan bahwa melalui Program Mahasiswa Berdampak, timnya mengembangkan inovasi yang mendukung ketahanan pangan masyarakat pascabencana. Menurutnya, program tersebut juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah daerah, dan mitra masyarakat sehingga manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas.
Selain memberikan manfaat bagi masyarakat, program ini juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Keterlibatan secara langsung dalam proses pendampingan masyarakat memberikan pengalaman berharga dalam mengasah kemampuan kepemimpinan, kolaborasi lintas sektor, serta penyelesaian masalah berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Mahasiswa Universitas Abulyatama, Nadya Juwita Sari menilai Program Mahasiswa Berdampak memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu dan inovasi secara langsung di tengah masyarakat. Ia berharap program ini terus berlanjut sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas, termasuk di wilayah perkotaan.
Berbagai pengalaman yang dibagikan selama seminar menunjukkan bahwa sinergi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya menjawab kebutuhan pemulihan pascabencana, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang. Hasil-hasil tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan Program Mahasiswa Berdampak di berbagai wilayah Indonesia.
Lebih lanjut, Ketua Tim Kerja Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Luthfi Ilham Ramdhani menjelaskan bahwa seminar ini menjadi ruang berbagi praktik baik pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak sekaligus mengevaluasi dampak program yang telah dijalankan. Pada 2026, Kemdiktisaintek menerima 606 proposal, mendanai 202 proposal dengan total anggaran Rp21,9 miliar, serta menghadirkan 60 tim pelaksana untuk mendiseminasikan hasil pelaksanaan program.
"Kami ingin melihat, mendengar, dan belajar dari praktik mahasiswa bersama dosen yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat Program Mahasiswa Berdampak melalui inovasi dan teknologi yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat," ujar Luthfi.
Program Mahasiswa Berdampak menjadi salah satu upaya Kemdiktisaintek dalam memperkuat peran perguruan tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat yang didukung riset, ilmu pengetahuan, dan inovasi. Berbagai praktik baik yang dipresentasikan dalam seminar diharapkan dapat direplikasi oleh perguruan tinggi di berbagai daerah sehingga semakin banyak solusi yang lahir untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, Kemdiktisaintek terus mendorong mahasiswa dan dosen untuk menghadirkan inovasi yang berdampak nyata, memperkuat kolaborasi dengan masyarakat, serta mendukung pembangunan Indonesia melalui pendidikan tinggi yang lebih relevan, adaptif, dan berkelanjutan.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak







