Kolaborasi Elsevier dan Unhas Dorong Ekosistem Riset Berbasis AI dan Berdampak

Kampus Kita

13 Juli 2026 | 23.00 WIB

Kolaborasi Elsevier dan Unhas Dorong Ekosistem Riset Berbasis AI dan Berdampak

MAKASSAR — Perguruan tinggi menghadapi tantangan baru dalam dunia penelitian. Riset tidak lagi berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dituntut mampu menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat melalui pemanfaatan teknologi, kolaborasi lintas disiplin, dan pengelolaan data yang semakin kompleks.

Perubahan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam East Indonesia Research Summit 2026 yang diselenggarakan Elsevier bersama Universitas Hasanuddin (Unhas) di Unhas Hotel and Convention Center, Makassar, Selasa, 14 Juli 2026. Mengangkat tema Local Excellence to Global Impact: Advancing Research for the Sustainable Development Goals (SDGs), forum ini mempertemukan pimpinan perguruan tinggi, peneliti, pustakawan, hingga pengambil kebijakan untuk membahas penguatan ekosistem riset di Indonesia Timur.

Strategic Engagement Manager Elsevier, Johan Jang, mengatakan perkembangan kecerdasan artifisial (AI) telah mengubah hampir seluruh tahapan dalam siklus penelitian, mulai dari pencarian literatur, analisis informasi, hingga kolaborasi ilmiah. Menurut dia, pemanfaatan AI perlu dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap menjaga integritas akademik agar teknologi berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti proses ilmiah.

Dalam kesempatan itu, Johan memperkenalkan LeapSpace, platform berbasis AI yang dikembangkan Elsevier untuk membantu peneliti mengelola proses penelitian secara lebih efektif sekaligus mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

"Melalui LeapSpace, Elsevier mendorong pemanfaatan AI untuk mempercepat lahirnya inovasi serta meningkatkan kontribusi penelitian terhadap pencapaian Sustainable Development Goals," ujar Johan.

Regional Director Elsevier Southeast Asia & Australia-New Zealand (ANZ), Omar Malik, menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pertumbuhan ilmu pengetahuan di kawasan. Kekayaan biodiversitas, potensi kelautan, serta beragam persoalan pembangunan dinilai menjadi modal bagi lahirnya penelitian strategis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Menurut Omar, dukungan Elsevier tidak hanya berupa penyediaan akses terhadap literatur ilmiah, tetapi juga melalui penguatan kapasitas institusi, peningkatan kompetensi dosen dan peneliti, pengembangan jejaring akademik, serta pemanfaatan data penelitian untuk meningkatkan dampak riset.

"Kolaborasi menjadi fondasi dalam membangun penelitian yang berkualitas. Ketika institusi, peneliti, dan sumber pengetahuan saling terhubung, peluang menghasilkan inovasi yang berdampak akan semakin besar," katanya.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem penelitian, Elsevier juga menghadirkan berbagai layanan, termasuk akses ke platform ScienceDirect yang menyediakan jutaan artikel ilmiah bereputasi internasional. Ketersediaan referensi ilmiah tersebut diharapkan mendukung proses pembelajaran, penelitian, dan inovasi di perguruan tinggi.

Rektor Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa, menyebut kemitraan dengan Elsevier menjadi momentum penting untuk memperluas akses sivitas akademika terhadap sumber pengetahuan ilmiah sekaligus meningkatkan kapasitas penelitian di lingkungan kampus.

"Kolaborasi ini menjadi kesempatan yang baik untuk memperkuat budaya riset di Unhas. Akses terhadap referensi ilmiah berkualitas akan mendukung lahirnya penelitian yang lebih inovatif dan berdaya saing global," ujar Jamaluddin.

Selain membahas pemanfaatan AI dalam penelitian, forum tersebut juga mengangkat isu penguatan integritas riset, peningkatan visibilitas publikasi ilmiah, serta kontribusi penelitian terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs.

Melalui kolaborasi ini, Elsevier dan Universitas Hasanuddin berharap penguatan akses terhadap pengetahuan, teknologi, dan jejaring akademik dapat mendorong lahirnya penelitian unggulan dari Indonesia Timur yang tidak hanya memiliki reputasi ilmiah, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

Catatan Editor

  Kolaborasi perguruan tinggi dengan penyedia ekosistem ilmiah global menunjukkan bahwa kualitas riset tidak lagi hanya diukur dari jumlah publikasi, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan inovasi yang relevan, berintegritas, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Copywriter : Andi Muhammad Syafrizal
Editor : Ishaq Rahman

dikti

DiktisaintekBerdampak

riset

Elsevier

/

5

Ulas Sekarang