Palu – Penanganan tuberkulosis (TB) di Sulawesi Tengah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak yang bekerja melampaui batas satu lembaga. Pemerintah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan masyarakat perlu bergerak bersama agar sumber daya dan pengetahuan dapat menjangkau lebih banyak keluarga.
Semangat kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Konsorsium Perguruan Tinggi Sulawesi Tengah “KITA SULTENG” yang telah diluncurkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan pada Juni 2026 di Universitas Tadulako. Salah satu aktivitas konsorsium tersebut diwujudkan melalui Program BERANI MAGAYA (Berantas Infeksi TB, Mahasiswa JaGa dan SaYAng Keluarga) yang melibatkan tujuh perguruan tinggi untuk mendukung percepatan eliminasi TB di Sulawesi Tengah.
Program yang diluncurkan bersamaan dengan Dies Natalis Universitas Tadulako, Sabtu (21/8), menjadi contoh konkret bagaimana kekuatan perguruan tinggi dihimpun melalui konsorsium untuk menjawab persoalan masyarakat.
Peluncuran BERANI MAGAYA turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Pendidikam Tinggi, Sains, dan Teknolog Fauzan, dan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari komitmen pemerintah menjalankan amanat Presiden untuk mempercepat eliminasi TB melalui penguatan layanan kesehatan, pencegahan penularan, serta keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat.
Kebutuhan kolaborasi tersebut terlihat dari masih tingginya kasus TB di Sulawesi Tengah. Sekitar 8.418 kasus TB telah ditemukan di provinsi ini, dengan sekitar 1.900 kasus berada di Kota Palu. Sementara itu, capaian terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) masih sekitar 7 persen di Kota Palu dan 14 persen secara provinsi, sedangkan targetnya mencapai 80 persen.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengatakan, persoalan tersebut membutuhkan kekuatan bersama agar sumber daya perguruan tinggi dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
“Dampak dari perguruan tinggi ini akan lebih dirasakan manfaatnya secara optimal kalau dilakukan secara bersama-sama, secara sinergi dan secara kolaborasi,” jelas Wamendiktisaintek.
Melalui KITA SULTENG, BERANI MAGAYA berkembang dari inisiatif FKM Untad menjadi gerakan bersama tujuh perguruan tinggi. Sebanyak 1.073 mahasiswa dan 155 dosen terlibat dalam program yang menjangkau Kota Palu serta Kabupaten Poso, Banggai, dan Tolitoli.
Mahasiswa akan mendampingi pasien TB paru dan kontak eratnya, membantu memastikan pengobatan berjalan, memberikan edukasi kepada keluarga, serta mendorong pemeriksaan terhadap orang-orang yang berisiko tertular.
Skala tersebut menunjukkan kekuatan yang dapat dihimpun melalui konsorsium. Perguruan tinggi memiliki mahasiswa, dosen, keahlian, dan jaringan yang tersebar di berbagai wilayah. Ketika sumber daya itu disatukan dalam satu agenda, kapasitas untuk menjangkau masyarakat menjadi lebih besar.
Dalam penanganan TB, kekuatan tersebut kemudian bertemu dengan sistem layanan kesehatan di lapangan. Mahasiswa dapat membantu menjangkau keluarga pasien dan kontak erat, sementara dinas kesehatan memastikan hasil pendampingan dapat ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan penanganan.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menekankan bahwa eliminasi TB tidak cukup dilakukan dengan menemukan dan mengobati pasien. Orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat juga perlu diperiksa untuk mencegah munculnya kasus baru.
“Kalau di rumah itu ada yang sakit maka orang seisi rumahnya harus dicek. Kalau tidak sakit, wajib dikasih obat pencegahan,” ujar Wamenkes.
Karena itu, Wamenkes mendorong 1.073 mahasiswa yang terlibat dalam KITA SULTENG membantu pendataan keluarga pasien bersama dinas kesehatan agar kontak erat dapat segera memperoleh pemeriksaan dan penanganan.
Kolaborasi tersebut juga terhubung dengan penguatan pemeriksaan TB oleh Kementerian Kesehatan. Pemeriksaan melalui CKG khusus TB disiapkan di 53.335 lokasi di Indonesia, termasuk 508 lokasi di Sulawesi Tengah. Provinsi tersebut juga akan mendapatkan 16 alat X-ray untuk memperluas pemeriksaan.
Bagi Kemdiktisaintek, KITA SULTENG menjadi ruang untuk menghubungkan kapasitas perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan daerah. Konsorsium memungkinkan perguruan tinggi berbagi peran dan mengarahkan pengetahuan, riset, serta pengabdian pada persoalan yang sama.
Rektor Untad Amar mengatakan, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan perguruan tinggi dapat dihimpun untuk menjawab persoalan masyarakat.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa kekuatan perguruan tinggi dapat digerakkan secara bersama untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat,” ujar Rektor Amar.
Selain Untad, KITA SULTENG melibatkan Poltekkes Kemenkes Palu, Universitas Widya Nusantara, Universitas Muhammadiyah Palu, Universitas Tompotika Luwuk Banggai, Universitas Alkhairaat Palu, dan STIK Indonesia Jaya.
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengapresiasi kolaborasi kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan jajaran kesehatan dalam penanganan TB. Pemerintah provinsi akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, perguruan tinggi negeri dan swasta, serta jajaran kesehatan untuk memperkuat pelaksanaan program.
Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus juga mendorong pemerintah daerah memasukkan penanganan TB ke dalam perencanaan dan penganggaran daerah secara berkelanjutan. Menurutnya, penanganan TB perlu menjadi bagian dari prioritas pembangunan daerah, bukan berhenti sebagai program sektoral.
Konsorsium Perguruan Tinggi KITA SULTENG menunjukkan bagaimana persoalan daerah dapat menjadi ruang kerja bersama bagi perguruan tinggi. Dalam konteks TB, tujuh perguruan tinggi menghimpun kekuatan untuk membantu pemerintah memperluas pencegahan dan pendampingan masyarakat.
Pola tersebut sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, yakni menggerakkan kekuatan perguruan tinggi agar pengetahuan dan sumber daya kampus hadir untuk menjawab persoalan nyata di daerah.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak





