Mahasiswa Unila Masuk 60 Besar Nasional lewat Inovasi Pengelolaan Limbah Organik Berbasis SDGs

Kampus Kita

02 Juli 2026 | 11.15 WIB

Mahasiswa Unila Masuk 60 Besar Nasional lewat Inovasi Pengelolaan Limbah Organik Berbasis SDGs

Bandar Lampung – Mahasiswa Universitas Lampung (Unila) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim Pemberdayaan Masyarakat (PM) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unila berhasil menembus 60 besar terbaik dari 263 tim se-Indonesia pada ajang Seminar Berdampak 2026 melalui inovasi pengelolaan limbah organik berbasis Sustainable Development Goals (SDGs).

Atas capaian tersebut, tim diundang oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk mempresentasikan program inovasinya pada Seminar Berdampak 2026 yang diselenggarakan di Amphitarium Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, pada 5–7 Juni 2026.

Tim PM BEM Unila dipimpin oleh Muhamad Dzuhri bersama Dosen Pembina BEM Unila, Yusuf Perdana, S.Pd., M.Pd. Mereka mempresentasikan program bertajuk "Transformasi Limbah Organik sebagai Inovasi Hijau untuk Pertanian, Perikanan, Peternakan, dan Ekonomi Desa", yang telah diimplementasikan di Desa Pasar Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat.

Program ini hadir sebagai solusi atas persoalan sekitar dua ton limbah organik yang dihasilkan setiap hari di Desa Pasar Krui dan selama ini belum dikelola secara optimal.

Sekretaris Tim PM BEM Unila, Tri Rizki Handayani, menjelaskan bahwa inovasi tersebut memanfaatkan teknologi soluble liquid (SL), yaitu larutan berbahan 33 jenis tanaman famili Zingiberaceae (temu-temuan), minyak nabati, minyak hewani, dan air lindi yang mampu mempercepat proses dekomposisi limbah organik dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa menimbulkan bau. Selain itu, formula tersebut juga berfungsi sebagai bioaktivator yang kaya mikroorganisme pengurai.

Melalui proses hilirisasi inovasi tersebut, tim mengembangkan dua produk unggulan, yakni Refnila (Rebio Fertilizer Universitas Lampung) berupa pupuk organik cair dengan enam varian untuk pembenah tanah, stimulan pertumbuhan tanaman, pengendali hama, hingga pendukung kesehatan budidaya perikanan, serta Rafnila (Rebio Animal Feed Universitas Lampung) berupa pakan dan suplemen unggas yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan ternak.

Tidak hanya menghasilkan inovasi produk, tim juga melakukan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan kepada 20 anggota karang taruna dan delapan nelayan di Desa Pasar Krui. Masyarakat memperoleh pendampingan dalam pengolahan limbah organik, sekaligus menerima bantuan peralatan produksi berupa mesin pencacah sampah organik, alat press ulir, dan mesin penggiling limbah ikan.

Melalui pendampingan tersebut, karang taruna ditargetkan mampu mengolah hingga 80 persen sampah organik pasar setiap bulan, sementara kelompok nelayan diarahkan untuk memanfaatkan sekitar 70 persen limbah ikan menjadi pakan bernilai ekonomi. Pendekatan ini mendorong penerapan ekonomi sirkular yang tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat.

Program yang dikembangkan mahasiswa Unila turut mendukung pencapaian sejumlah target SDGs, di antaranya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Keberhasilan ini menunjukkan kontribusi nyata mahasiswa Unila dalam menghadirkan solusi inovatif berbasis riset untuk menjawab persoalan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat, inovasi tersebut diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai model pengelolaan limbah organik yang berkelanjutan sekaligus mendukung pembangunan desa yang lebih mandiri dan ramah lingkungan.

/

5

Ulas Sekarang