Mendiktisaintek Libatkan Kampus dan Industri, Dorong Hilirisasi Riset Kratom

Kabar

13 Oktober 2026 | 19.15 WIB

Mendiktisaintek Libatkan Kampus dan Industri, Dorong Hilirisasi Riset Kratom

Jakarta—Pengembangan kratom melalui teknologi ekstraksi dan pemurnian menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA) Indonesia. Dalam pembahasan pengembangan komoditas ini, proses pemurnian dengan konsentrasi mitraginin di atas 98 persen turut menjadi perhatian. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto membahas pengembangan tersebut bersama Rektor Institut Teknologi Sumatera (ITERA), dan jajaran PT Indofarma, Selasa (13/10).


Menteri Brian mengatakan, pengembangan kratom perlu diarahkan menjadi industri yang memberikan nilai tambah bagi Indonesia. Menurutnya, potensi sumber daya alam perlu didukung penelitian dan penguasaan teknologi agar dapat dimanfaatkan secara optimal.


“Beberapa waktu lalu juga Pak Presiden kebetulan mengundang kami sama-sama membicarakan hal ini. Sebenarnya topiknya luas, tapi kemudian salah satu yang dibicarakan adalah kratom ini. Kita ingin menyusun ini menjadi satu industri yang bisa besar supaya sumber daya kita tidak sia-sia,” ujar Menteri Brian.


Mendiktisaintek menambahkan, potensi kratom Indonesia perlu diikuti dengan upaya pengolahan dan hilirisasi yang terencana. Karena itu, hasil penelitian yang telah dikembangkan perlu dihubungkan dengan kebutuhan industri melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra industri.


“Kita ingin lakukan proses hilirisasi besar-besaran. Hasil riset kami intinya adalah ingin dikerjasamakan. Tentu juga dari sisi regulasi nanti kita akan kawal regulasi-regulasi apa yang perlu kita susun,” tambah Menteri Brian.


Menteri Brian menjelaskan, pengembangan kratom juga membutuhkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, terutama untuk mengidentifikasi regulasi yang diperlukan. Koordinasi tersebut akan dilakukan dengan instansi terkait, termasuk kementerian yang menangani bidang perindustrian dan perdagangan serta lembaga yang berwenang dalam aspek pengawasan dan kesehatan.


Selain koordinasi regulasi, Mendiktisaintek juga mendorong pemetaan terhadap penelitian dan teknologi yang sudah dikembangkan. Pemetaan ini diperlukan untuk mengetahui kesiapan masing-masing tim peneliti, sehingga pengembangan selanjutnya dapat dilakukan berdasarkan tahapan riset yang telah dicapai.


“Kita akan mencoba mengumpulkan seluruh peneliti ini. Kita lihat siapa yang memang betul-betul sudah mengembangkan, sudah pada tahap apa masing-masing. Nah, dari situ, yang sudah siap kita bisa lakukan hirilisasi,” pungkas Menteri Brian.


Direktur Utama (Dirut) PT Indofarma, Sahat Sihombing, menjelaskan bahwa perusahaan telah memiliki fasilitas herbal sebagai bagian dari transformasi perusahaan. Fasilitas tersebut menjadi salah satu hal yang dibahas dalam penjajakan pengembangan kratom bersama pihak terkait, termasuk tim yang terhubung dengan ITERA.


Dirut PT Indofarma mengatakan bahwa pengembangan perlu diawali melalui proyek percontohan dan penelitian, baik dari sisi produksi maupun pasar. Tahapan tersebut diperlukan untuk mengetahui kebutuhan pasar serta memastikan produk yang dikembangkan dapat memenuhi standar yang dipersyaratkan.



Sementara itu, Rektor ITERA, Elfahmi, menjelaskan bahwa penelitian terkait kratom juga mencakup kajian aktivitas farmakologi sebagai dasar pengembangan produk obat. Kajian tersebut menjadi bagian dari tahapan penelitian untuk mengetahui potensi senyawa yang dikembangkan.


“Jadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu mengerjakan aktivitas farmakologinya. Jadi beberapa khasiat, itu jadi dasar kita juga untuk mengembangkan finis obatnya nanti,” ujar Rektor Elfahmi


Keterlibatan perguruan tinggi, termasuk ITERA, menjadi bagian dari pembahasan kolaborasi riset dan pengembangan kratom. Kerja sama antara perguruan tinggi dan industri diharapkan dapat mendukung penerapan hasil penelitian secara bertahap, dengan tetap memperhatikan kesiapan teknologi dan ketentuan yang berlaku.


Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, serta kementerian dan lembaga terkait untuk mengembangkan hasil riset menjadi inovasi yang bermanfaat. Pengembangan kratom diharapkan dapat dilakukan secara terukur melalui penelitian, pemenuhan persyaratan, dan kerja sama lintas sektor guna meningkatkan nilai tambah SDA Indonesia.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Ulas Sekarang