Pontianak–Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan bahwa masa depan ekonomi Indonesia ditentukan oleh perguruan tinggi sebagai pusat aktivitas riset dan inovasi. Pesan ini disampaikan saat Menteri Brian menjadi narasumber secara daring dalam Konferensi Forum Rektor Indonesia (FRI) 2025, Konvensi Kampus XXX dan Temu Tahunan XXVI FRI 2025 di Universitas Tanjungpura (Untan), Sabtu (22/11).
“Indonesia tidak mungkin menjadi negara maju jika hanya mengandalkan sektor ekstraktif. Pertumbuhan berkelanjutan hanya bisa dicapai lewat industrialisasi berbasis riset, dan riset terbaik lahir di kampus,” tegas Menteri Brian.
Mendiktisaintek juga memaparkan data yang menunjukkan hubungan langsung antara kekuatan universitas dan kemajuan ekonomi. Tiongkok kini mencatat GDP per kapita di atas US$12.000 dan memiliki banyak kampus yang masuk 100 besar dunia. Malaysia berada di kisaran US$11.000 per kapita dengan beberapa kampus dalam 200–500 besar dunia. Indonesia, sebaliknya, baru memiliki satu universitas di peringkat 101–200 QS serta beberapa kampus lain di rentang 201–500.
“Indonesia memiliki fondasi kuat, hampir 10 juta mahasiswa dan lebih dari 300 ribu dosen unggul yang dipimpin oleh Bapak-Ibu sekalian. Tantangannya adalah bagaimana mengorkestrasi kekuatan ini agar menghasilkan daya saing yang nyata,” jelas Menteri Brian.
Menteri Brian menyatakan bahwa dengan ekosistem talenta yang optimal dan memberi ruang bagi mimpi besar, kelas riset dunia, dan akses pada teknologi frontier, akan tercipta Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dari ruang-ruang kelas di perguruan tinggi Indonesia. Hal inilah yang perlu dilahirkan bersama, agar mahasiswa dan dosen dapat mencapai potensi tinggi tersebut.
Menteri Brian juga menekankan, perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi “Universitas 4.0”, yakni institusi yang menghadirkan dampak nyata, memimpin inovasi, dan terkoneksi dengan industri, pemerintah daerah, dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan Diktisaintek Berdampak, di mana perguruan tinggi mampu berkontribusi secara sosial, ekonomi, dan di lingkungan sekitarnya. Kampus menjadi etalase kecil dari kemajuan bangsa Indonesia. Peran rektor dalam hal ini menjadi krusial.
“Rektor adalah pemimpin yang menggerakkan pusat produksi pengetahuan bangsa, arsitek ekosistem riset, dan sosok yang memastikan bahwa kampus dapat melahirkan talenta unggul yang dibutuhkan untuk menggerakkan industri strategis Indonesia,” ujar Menteri Brian.
FRI 2025 dilatarbelakangi oleh keinginan membangun ekosistem perguruan tinggi yang kokoh untuk membangun SDM unggul dalam rangka menyambut visi Indonesia Emas 2045. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 180 pimpinan perguruan tinggi dari lebih dari 100 kampus.
Ketua FRI, Nurhasan menegaskan, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai penghasil inovasi dan SDM unggul. Namun, tantangannya adalah rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi serta belum seimbangnya rasio dosen dan mahasiswa. Investasi riset dan pengembangan di Indonesia yang masih tertinggal dibanding negara maju juga menjadi perhatian penting.
“Kolaborasi dan gotong royong adalah kunci dalam meningkatkan kompetensi yang kita butuhkan untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Sebagai salah satu solusi, diperlukan peningkatan investasi pendidikan tinggi, termasuk anggaran pendidikan, anggaran riset, dan dana abadi bagi perguruan tinggi,” jelas Nurhasan.
Rektor Untan, Garuda Wiko melaporkan bahwa melalui FRI, perguruan tinggi bekerja bersama dalam upaya menciptakan langkah transformatif untuk mengidentifikasi lebih awal area perubahan yang potensial untuk meneguhkan posisi kampus sebagai institusi yang memberikan dampak nyata dan inisiator pertumbuhan melalui inovasi.
“Terselenggaranya kegiatan ini diharapkan dapat menjadi milestone bagi perguruan tinggi untuk menggeser kultur pengguna menjadi inventor,” ujar Rektor Untan.
HumasKementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





