Mengubah Air Laut Menjadi Harapan: UNDIP Bekali Warga Binaan Nusakambangan Keterampilan Operator Mesin Desalinasi

Kampus Kita

23 Juni 2026 | 16.30 WIB

Mengubah Air Laut Menjadi Harapan: UNDIP Bekali Warga Binaan Nusakambangan Keterampilan Operator Mesin Desalinasi

UNDIP, Nusakambangan (23/6) – Kehadiran teknologi desalinasi air karya Universitas Diponegoro (UNDIP) di Nusakambangan tidak hanya menghadirkan solusi penyediaan air minum, tetapi juga membuka ruang pembelajaran dan pemberdayaan bagi warga binaan yang sedang mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.

Di balik operasional mesin yang mampu mengubah air laut menjadi air layak minum tersebut, terdapat proses transfer pengetahuan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh tim UNDIP kepada warga binaan Lapas Terbuka Nusakambangan.

Lapas Terbuka Nusakambangan sendiri diperuntukkan bagi warga binaan dengan tingkat risiko sangat rendah yang telah menjalani sebagian besar masa pidananya, berkelakuan baik, serta sedang dipersiapkan untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat melalui berbagai program asimilasi dan reintegrasi sosial.

Untuk memastikan operasional instalasi berjalan berkelanjutan, UNDIP melatih tiga hingga empat warga binaan sebagai operator mesin desalinasi. Mereka dibekali keterampilan mulai dari proses pengambilan air laut, pengoperasian sistem filtrasi, pengisian galon, pemantauan kondisi mesin, hingga perawatan rutin instalasi.

Karena warga binaan yang bertugas akan menyelesaikan masa pidananya secara bertahap, proses pelatihan dilakukan secara berkesinambungan. Setiap operator yang akan bebas nantinya akan digantikan oleh warga binaan lain yang kembali mendapatkan pelatihan dari awal.

Prof. Dr. I Nyoman Widiasa, ST., MT  selaku pengembang teknologi menjelaskan bahwa peran UNDIP tidak berhenti pada tahap desain dan pembangunan instalasi. “UNDIP bertugas di dalam mendesain, menginstal, kemudian memberikan pelatihan sampai supervisi meskipun mesin ini sudah selesai dibangun, dengan harapan bisa beroperasi dalam jangka panjang,” ujarnya.

Menurut Prof. Nyoman, keberlanjutan program menjadi bagian penting dari implementasi teknologi di Nusakambangan. Karena itu, transfer pengetahuan kepada warga binaan dilakukan agar kemampuan mengoperasikan dan merawat sistem dapat terus terjaga meskipun terjadi pergantian operator.

Salah satu warga binaan yang mengikuti pelatihan adalah Bagus Setiawan. Ia mengaku awalnya tidak pernah membayangkan dapat mempelajari teknologi pengolahan air laut menjadi air minum.

“Baru pertama melihat mesin seperti ini. Sekarang saya sudah paham urut-urutan cara mengoperasikan mesin penjernih air ini. Pertama masuk dari bak penampungan air laut, kemudian ke filter pasir, lalu ke mesin RO untuk memisahkan air tawar dan air laut, masuk ke proses penjernihan lagi, dan terakhir ke mesin akhir,” ujarnya dengan lancar menceritakan proses filterisasi.

Keterampilan tersebut bahkan menumbuhkan harapan baru bagi dirinya setelah menyelesaikan masa pidana.

“Harapannya kalau sudah keluar bisa bikin usaha kayak gini,” katanya.

Selain memberikan manfaat sosial, teknologi desalinasi juga menghadirkan dampak lingkungan yang positif.

Prof. Nyoman menjelaskan bahwa sistem yang dikembangkan UNDIP dirancang agar tetap memperhatikan kelestarian ekosistem laut. Sistem pengambilan air laut menggunakan pola aliran lambat sehingga tidak menimbulkan pusaran air yang berpotensi mengganggu biota laut sebagaimana yang kerap terjadi pada instalasi berskala besar.

Lebih jauh, air konsentrat hasil proses desalinasi yang selama ini menjadi produk samping juga berpotensi dimanfaatkan untuk produksi garam pada masa mendatang. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya laut dapat dilakukan secara lebih optimal dan berkelanjutan.

“Dengan memanfaatkan air laut dari permukaan, kita tidak perlu mengambil air tanah secara berlebihan seperti yang banyak dilakukan di tempat lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” jelas Prof. Nyoman.

Bagi masyarakat Nusakambangan, manfaat teknologi tersebut dapat dirasakan secara langsung. Selama ini ketersediaan air bersih menjadi tantangan tersendiri karena kondisi geologi kawasan yang didominasi pegunungan kapur.

Bagus mengaku kualitas air hasil desalinasi jauh berbeda dibandingkan sumber air yang biasa digunakan sebelumnya.

“Sebelumnya susah, karena di Nusakambangan pegunungan kapur. Jadi air bersih di sini rata-rata campur kapur. Tapi dari penyulingan ini sudah tidak ada kapurnya. Kalau air campuran kapur rasanya hambar. Tapi kalau air penjernihan dari laut, ada rasa manisnya, lebih segar,” tuturnya.

Melalui program ini, teknologi desalinasi tidak hanya menjadi solusi penyediaan air minum bagi Nusakambangan. Lebih dari itu, teknologi tersebut juga menjadi sarana pemberdayaan, transfer keterampilan, dan penyiapan masa depan bagi warga binaan yang sedang menapaki jalan kembali ke masyarakat.

Program desalinasi ini juga mencerminkan komitmen Universitas Diponegoro dalam mewujudkan UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat melalui inovasi yang tidak hanya menjawab kebutuhan air bersih, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Inisiatif ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), sebagai wujud kontribusi nyata UNDIP dalam menghadirkan solusi berkelanjutan bagi masyarakat.(Komunikasi Publik/ UNDIP/ Ninok)

DiktisaintekBerdampak

UNDIP

Inovasi UNDIP

/

5

Ulas Sekarang