Di sebuah desa kecil bernama Bodang, di kaki perbukitan Kabupaten Lumajang, tumbuh seorang pemuda perempuan yang percaya bahwa kepemimpinan dimulai dari keberanian untuk mendengar dan memberi ruang.
Vanie Aulia Agatha, mahasiswa Ilmu Hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Jenderal Sudirman Lumajang, sejak awal menempatkan kepemimpinan bukan di panggung depan, namun di titik-titik di mana manusia membutuhkan perlindungan.
Pada September 2025, Vanie terpilih sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Jenderal Sudirman Lumajang, memimpin 30 anggota dengan visi membangun organisasi yang dekat dengan mahasiswa. Hanya satu bulan setelah pelantikan, ia sudah mengeksekusi dua program kerja dan gagasan kampanye utamanya: #BEMmendengar.
Program #BEMmendengar menjadi fondasi bagi setiap langkah ke depan, tempat membangun chemistry, ruang saling percaya, dan titik awal yang lebih humanis. Bagi Vanie, keberhasilan seorang pemimpin diukur dari seberapa besar timnya tumbuh.
“Menjadi pemimpin bukan hanya berhasil sebagai ketua tim, tetapi memastikan setiap anggota BEM mendapatkan pengalaman baru yang membuat mereka ‘upgrade’,” ungkapnya dalam essay kepemimpinan Future Leaders Camp (FLC) 2025.
Di luar kampus, Vanie memikul tanggung jawab yang jauh lebih berat. Sejak 2024, ia menjadi Direktur Center for Intersectional Lumajang, sebuah komunitas anti kekerasan seksual dengan lima anggota inti namun dampak yang menjangkau banyak pihak.
Ia memimpin koordinasi advokasi, menjalin relasi dengan Dinas Sosial serta Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), serta menyusun agenda kolaboratif untuk menekan angka kekerasan seksual melalui pencegahan dan penanganan terpadu.
Pengalaman ini membuka matanya, betapa banyak kasus kekerasan yang tidak tercatat, tidak ditangani, atau tenggelam dalam stigma.
“Tapi saya bangga bisa menjadi bagian dari sosok penguat bagi mereka untuk bangkit,” ujarnya.
Vanie belajar bahwa kepemimpinan kemanusiaan adalah kepemimpinan yang paling menuntut hati karena ia menuntut keberanian mendengar trauma orang lain dan berdiri di sisi mereka. Baginya kepemimpinan bukan posisi, melainkan tanggung jawab untuk melawan masalah yang paling sulit.
Dari pengalamannya ia belajar sesuatu yang jauh lebih dalam, bahwa suara manusia dapat patah, dan seorang pemimpin harus siap menopangnya. Melalui FLC 2025, ia membawa satu harapan untuk menguatkan kapasitasnya untuk membangun sistem perlindungan yang berkelanjutan, bukan hanya program jangka pendek.
“Dan aku bangga banget sama Kemdiktisaintek karena sudah punya ide luar biasa untuk mengumpulkan para ketua BEM. Ini forum pertama, untuk pemuda memikirkan bagaimana terkait kepemimpinan Indonesia nantinya,” ujar Vanie.
Pesan terkait transformative mindset dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, menyenggol dan menggeser sesuatu yang harus berubah dalam perjalanan kepemimpinan Vanie.
Vanie juga aktif berdiskusi dengan peserta lain, tentang bagaimana langkah kepemimpinan mereka selanjutnya.
“Aku bertanya-tanya ke beberapa teman, apa yang mereka lakukan. Aku sharing, minta saran, dan itu semua ingin aku bawa pulang ke Lumajang,” jelasnya.
Sebagai pemimpin baru yang program kerjanya masih panjang, FLC menjadi bekal penting.
“Dari acara ini aku ingin pulang dengan upgrade knowledge dan upgrade mindset. Ini bisa jadi pedoman untuk kebijakan-kebijakan aku ke depan,” ujarnya penuh semangat.
FLC membawa Vanie menemui versi baru dirinya yang lebih kuat, lebih berani, lebih percaya diri. Ketika ditanya tentang mimpi besar setelah FLC, Vanie menjawab dengan lugas, relasi baru yang ia bangun bisa membantunya untuk berdampak hingga masa depan. Langkah Vanie makin kokoh, memastikan orang lain ikut bertumbuh, bukan berdiri sendirian di puncak.
Dari Dusun Kayu Gedang di Lumajang, Vanie membawa pesan sederhana namun kuat, bahwa setiap ruang kecil dapat menjadi awal perubahan besar ketika seseorang berani memulai. Ia ingin memastikan bahwa ruang aman bukan hanya jargon, tetapi hadir dalam kebijakan kampus, komunitas, hingga ruang publik.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






