UNDIP, Scotland, UK (27/8) – Peneliti Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama University of Aberdeen (UoA), Scotland, UK, mengembangkan teknologi membran dan material adsorben untuk recovery lithium dari subsurface brines. Riset ini penting di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis untuk industri teknologi tinggi, energi hijau, hingga pertahanan.
Riset tersebut merupakan bagian dari kolaborasi internasional yang terjalin sejak 2024 antara UNDIP dan University of Aberdeen. Dari UNDIP, penelitian melibatkan Prof. Dr.rer.nat. Ir. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T. dan Ir. Titik Istirokhatun, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU, sedangkan dari University of Aberdeen dilaksanakan oleh Dr. Amin Sharifi dan tim.
Kolaborasi berlangsung melalui pendanaan riset internasional skema International Science Partnerships Fund (ISPF) dalam proyek berjudul Developing Membrane Technology and Adsorbents for Lithium Recovery from Subsurface Brines: Investigating Diffusion and Adsorption Process with Membrane. Prof. Heru Susanto yang juga bertindak sebagai principal investigator dari UNDIP mengatakan penelitian ini berfokus pada pengembangan teknologi membran dan material adsorben untuk recovery lithium dari subsurface brines.
“Kami mempelajari bagaimana proses difusi dan adsorpsi berlangsung sehingga dapat dikembangkan material yang semakin selektif dan efektif untuk mengambil unsur yang dibutuhkan,” jelas Prof. Heru.
Recovery mineral kritis dan logam tanah jarang merupakan proses pengambilan kembali unsur mineral berharga melalui ekstraksi, pemisahan, dan pemurnian. Sumbernya dapat berasal dari sumber primer maupun sumber sekunder seperti tailing pertambangan dan sampah elektronik melalui pendekatan urban mining.
Mineral kritis dan logam tanah jarang merupakan komoditas strategis global. Neodimium termasuk logam tanah jarang, sedangkan lithium dan nikel merupakan mineral kritis. Material-material tersebut dibutuhkan untuk berbagai produk modern, mulai dari telepon seluler, baterai kendaraan listrik, teknologi energi hijau, hingga teknologi pertahanan.
Menurut Prof. Heru, teknologi recovery menjadi penting karena sumber daya tersebut bersifat tidak terbarukan. “Ke depan kita tidak bisa hanya berpikir mencari sumber mineral baru. Kita juga harus memiliki kemandirian teknologi untuk mengambil kembali unsur berharga dari sumber yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk sumber sekunder. Di sinilah teknologi recovery, membran, dan adsorben menjadi sangat relevan,” ujarnya.
Alat uji Cross Flow Filtration untuk uji membraneAlasan penting pengembangan teknologi recovery
Setidaknya terdapat tiga alasan pentingnya pengembangan teknologi recovery. Pertama, meningkatnya kebutuhan mineral untuk teknologi tinggi dan energi hijau. Kedua, pentingnya memanfaatkan sumber sekunder seperti sisa pengolahan tambang nikel, timah, bauksit, tailing, maupun sampah elektronik. Ketiga, adanya tantangan lingkungan karena proses pemisahan mineral dapat menghasilkan limbah berbahaya dan, pada jenis sumber tertentu, berasosiasi dengan material radioaktif apabila tidak dikelola dengan baik.
Titik Istirokhatun, Ph.D. menjelaskan bahwa teknologi membran menawarkan peluang pengembangan proses pemisahan yang lebih selektif.
“Tantangannya adalah bagaimana menghasilkan material yang mempunyai kemampuan selektif terhadap lithium di antara berbagai ion lain yang terdapat di dalam sumbernya. Karena itu penelitian ini mempelajari karakteristik membran dan adsorben sekaligus mekanisme difusi serta adsorpsinya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penelitian tersebut diarahkan agar tidak berhenti pada skala laboratorium. “Pengetahuan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengembangkan proses pemisahan dan recovery mineral yang lebih efektif, efisien, dan nantinya dapat diterapkan sesuai kebutuhan industri,” katanya.
Di UNDIP, penelitian dipusatkan di Pusat Unggulan IPTEK Membran, Laboratorium Membrane Research Center (MeRC) di UPT Laboratorium Terpadu UNDIP. Program ini juga telah meluluskan satu mahasiswa Program Magister Teknik Kimia, yaitu Istiqomah Muryaningsih, S.T., M.T. Sementara di University of Aberdeen, penelitian dipusatkan di Center of Processes and Materials, School of Engineering, Fraser Nobel Building.
Perhatian terhadap mineral kritis juga menguat di tingkat nasional. Pemerintah Indonesia membentuk Badan Industri Mineral (BIM) pada 2025 untuk mempercepat riset dan pengembangan guna meningkatkan nilai tambah mineral strategis dan logam tanah jarang.
“Indonesia memiliki sumber daya mineral yang sangat besar, tetapi kekuatan kita ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada kepemilikan sumber daya alam. Kita harus memperkuat riset, sumber daya manusia, dan penguasaan teknologi agar mineral tersebut memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi bangsa dan masyarakat dengan teknologi yang kita kuasai bukan yang kita beli,” kata Prof. Heru.
Program ISPF sendiri merupakan skema pendanaan riset global Pemerintah Inggris yang dikelola Department for Science, Innovation and Technology dan disalurkan melalui konsorsium, termasuk British Council. Dalam program ini, DPPM Kementerian Diktisaintek dan LPDP berperan sebagai penyedia dana pendamping (co-funding) bagi peneliti Indonesia, sejalan dengan skema RISPRO Kolaborasi Internasional.
Dalam kunjungan pada 10–14 Agustus 2026, Prof. Heru Susanto dan Titik Istirokhatun, Ph.D. bertukar keahlian dengan Dr. Amin Sharifi beserta tim sekaligus mengeksplorasi peluang kolaborasi dalam smart material untuk adsorpsi dan teknologi membran.
Kunjungan juga dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama akademik. Prof. Heru, yang juga Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNDIP, mendorong pengembangan kolaborasi ke program double degree antara UNDIP dan University of Aberdeen, baik pada jenjang magister dengan skema 1+1 maupun sarjana dengan skema 2 + 2.
“Kolaborasi internasional yang kuat idealnya tidak berhenti pada satu proyek penelitian, tetapi berkembang ke pertukaran peneliti, mahasiswa, penelitian bersama, hingga program double degree agar manfaatnya dirasakan lebih luas,” pungkas Prof. Heru.
Melalui pengembangan teknologi membran dan adsorben untuk recovery lithium, UNDIP mendorong lahirnya inovasi yang tidak hanya memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga berpotensi mendukung kemandirian teknologi dan peningkatan nilai tambah mineral strategis Indonesia. Kolaborasi dengan University of Aberdeen sekaligus menjadi bagian dari komitmen UNDIP untuk menghadirkan riset berkelas dunia yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional. (Komunikasi Publik/UNDIP/ Peneliti ed. Nurul))







