UNDIP, Keerom Papua (26/8) – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) 2026 menggelar Focus Group Discussion (FGD) 1 bersama jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Keerom pada Senin (3/8). Langkah ini menjadi awal konsolidasi, sosialisasi, sekaligus pemetaan isu dasar dalam rangkaian kajian Infrastruktur Dasar Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan Sanitasi Air Limbah Domestik di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua.
FGD 1 ini bertujuan menyelaraskan pemahaman antara tim pelaksana dan pemerintah daerah setempat mengenai rencana kegiatan, verifikasi data, hingga kondisi eksisting sarana prasarana yang ada. Diskusi berfokus pada pemetaaan kendala pelayanan, potensi pengembangan kawasan, dan penentuan arah kajian lapangan agar rekomendasi yang dihasilkan relevan dan tepat sasaran.
Plt. Kepala Dinas PUPR Kabupaten Keerom, Ferry Amo, S.IP., menyambut positif pelaksanaan kajian ini. Pihaknya mengapresiasi kolaborasi tersebut sebagai pijakan penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan infrastruktur wilayah yang berbasis data faktual. “FGD ini menjadi langkah penting untuk menyatukan pemahaman dan kebutuhan antar pihak, khususnya dalam penyediaan air minum dan sanitasi di Kawasan Transmigrasi Senggi. Pemerintah Kabupaten Keerom mendukung penuh proses kajian, pengumpulan data, dan survei lapangan agar rekomendasi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat serta menjadi dasar perencanaan pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Ferry.
Diskusi dalam FGD tersebut tidak hanya berfokus pada penyelarasan data dan rencana kegiatan formal, melainkan juga menyoroti kondisi riil pelayanan air minum dan sanitasi di tengah masyarakat. Bersama pemerintah daerah setempat, TEP UNDIP mendiskusikan kondisi eksisting infrastruktur SPAM dan sanitasi, hambatan pelayanan, potensi pengembangan, dan kebutuhan kawasan sebagai dasar untuk mempertajam pelaksanaan kajian di lapangan.
Sebagai bentuk tindak lanjut konsolidasi, tim terjun langsung ke masyarakat melalui pendekatan faktual di Kampung Woslay Satuan Permukiman (SP) 1. Langkah ini dilakukan untuk menggali potret utuh terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pola pemanfaatan air, sarana sanitasi rumah tangga, dan kebutuhan pelayanan dasar di tingkat keluarga.
Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, pemahaman warga Kampung Woslay SP 1 mengenai pentingnya PHBS mulai terbangun, meskipun penerapannya masih sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dasar. “Air sudah menjadi kebutuhan utama untuk aktivitas sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, mencuci hingga membersihkan lingkungan rumah. Pada kondisi tertentu, keterbatasan kualitas maupun ketersediaan air menyebabkan kami harus menyesuaikan penggunaannya dengan sumber air yang tersedia,” jelas Martina, salah satu warga Kampung Woslay SP 1.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penerapan PHBS tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sarana air bersih dan sanitasi yang memadai. Bagi masyarakat, hidup bersih bukan hanya persoalan kebiasaan, tetapi juga erat kaitannya dengan tersedianya air yang aman, jamban yang layak, dan lingkungan rumah yang sehat. Temuan lapangan juga menunjukkan perlunya pendampingan berkelanjutan yang relevan dengan kearifan lokal, seperti pengelolaan sampah, pencegahan genangan air limbah domestik, hingga pembiasaan cuci tangan pakai sabun terutama sebelum makan dan setelah menggunakan jamban.
Oleh karena itu, edukasi PHBS dituntut untuk tidak sekadar pada peningkatan pengetahuan, melainkan harus disertai dengan penyediaan sarana fisik yang memadai. Aspirasi warga memberikan gambaran empiris yang melengkapi data pemerintah, sehingga FGD tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Melalui integrasi data Pemkab Keerom dan aspirasi warga Kampung Woslay SP 1, TEP UNDIP menyusun rekomendasi SPAM dan sanitasi yang tepat teknis, mudah dioperasikan dan dirawat, serta berdampak langsung pada kesehatan masyarakat di Kawasan Transmigrasi Senggi.
Melalui kolaborasi antara pemda dan masyarakat setempat ini, TEP UNDIP berkomitmen menghasilkan rekomendasi berbasis kebutuhan nyata di lapangan. Suara warga Woslay SP 1 menjadi dasar penting untuk memastikan perencanaan infrastruktur air bersih, sanitasi, dan edukasi PHBS di Kawasan Transmigrasi Senggi berjalan tepat sasaran.
Kegiatan dan kajian infrastruktur dasar yang dilakukan oleh TEP UNDIP ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals, khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation) dalam menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua; SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pembiasaan PHBS; SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dalam mewujudkan kawasan transmigrasi yang inklusif dan layak huni; dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi erat antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal. (Komunikasi Publik/UNDIP/Tim Ekspedisi Patriot)






