Peserta FLC Diminta Najwa Shihab untuk Menjadi Pemimpin yang Punya Tujuan Besar, Tidak Sekedar Ikut Arus

Kabar

31 October 2025 | 19.18 WIB

Peserta FLC Diminta Najwa Shihab untuk Menjadi Pemimpin yang Punya Tujuan Besar, Tidak Sekedar Ikut Arus

Jakarta-Rangkaian program Indonesia Future Leaders Camp (FLC) 2025 Regional I, mencapai puncaknya dengan kunjungan inspiratif ke kantor Narasi, yang menghadirkan Founder Narasi, Najwa Shihab, Jumat (31/10).

Di hadapan para mahasiswa terpilih, Najwa Shihab menekankan bahwa pemimpin masa depan harus memiliki tujuan besar, dan tidak sekadar ikut arus. Najwa memulai paparannya dengan memberikan semangat kepada para peserta. Ia menegaskan bahwa kunci kemajuan negeri ini terletak pada keberanian dan kepedulian.

"Kami percaya betul-betul pada kekuatan anak muda dan saya juga selalu percaya kalau masa depan negeri ini ditentukan oleh mereka yang paling peduli," ungkapnya.

Najwa Shihab mengarahkan pandangannya pada esensi keterlibatan mahasiswa dalam organisasi. Ia menekankan bahwa masuk organisasi tidak boleh hanya karena ikut-ikutan atau mencari status, melainkan harus didasari oleh tujuan yang jelas dan terukur.

Pemimpin Harus Punya Tujuan

?Najwa menantang para peserta FLC untuk merumuskan target spesifik saat memutuskan menjadi pengurus organisasi. Target itu harus terbagi menjadi dua, untuk diri sendiri dan untuk organisasi.

"Target untuk diri sendiri, bagaimana organisasi (saat berorganisasi, red) misalnya BEM, akan menambah skill anda, memperluas network, membuat anda lebih dewasa, atau melatih kemampuan berdebat dan berjejaring. Kemudian target untuk organisasi, apa tujuan yang ingin dicapai oleh kepengurusan anda dalam satu atau dua tahun ke depan? Apakah itu meningkatkan layanan mahasiswa, memperjuangkan isu tertentu, atau membuat program yang berdampak," jelasnya.

Najwa menegaskan bahwa membuat tujuan yang besar, akan membuat pengalaman berorganisasi menjadi jauh lebih bermakna. Hal ini juga akan membuat segala tindakan dan keberpihakan yang dipilih memiliki arah yang jelas atau aim yang terarah. Jika tujuan tersebut tidak tercapai pada akhir masa jabatan, justru di situlah letak pembelajaran yang paling penting, dengan melakukan evaluasi dan refleksi.

?"Langkah untuk terlibat dalam organisasi harus membawa dampak nyata pada perkembangan pribadi Anda.  Dan, kalau kemudian by the end of the year itu tidak tercapai, penting lagi evaluasi refleksi. Apakah ini karena saya tidak sepenuh hati, atau apakah ini karena faktor lain?," ujar Najwa.

Pemimpin Mesti Terampil Bicara Meyakinkan dan Menerima Pendapat

Melanjutkan pembahasan mengenai tujuan berorganisasi, Najwa Shihab menyoroti dua kemampuan penting yang harus dilatih oleh setiap calon pemimpin, yaitu kemampuan berbicara di depan umum, dan kemauan untuk menerima pendapat orang lain. Berbicara di depan umum dan berorganisasi adalah wadah untuk melatih kemampuan meyakinkan orang lain atas gagasan atau argumen yang kita bawa. Namun, yang paling krusial adalah kemampuan untuk mendengarkan, apalagi ketika salah.

Najwa Shihab menuturkan adanya realitas baru tentang sikap kritis yang sering disalahpahami. Banyak yang berpikir kritis berarti ngotot, punya nada suara tinggi, dan menolak kalah dalam perdebatan. Padahal, definisi kritis yang sebenarnya jauh lebih mendasar.

"Definisi kritis itu, teman-teman, itu orang yang punya kemampuan untuk mau mengoreksi sikapnya ketika dia tahu dia salah. Orang kritis adalah orang yang berani mengakui posisinya tidak benar dan mau mengubah sikap. Dan organisasi menjadi tempat di mana mahasiswa belajar menghormati argumen orang lain dan tidak ragu mengatakan, Oh iya ya, poin kamu betul. Saya tidak pernah melihat dari perspektif ini," jelas Najwa.

Konsolidasi dan Kolaborasi

Najwa Shihab kemudian mengingatkan para peserta FLC tentang privilege atau keistimewaan yang mereka miliki.

"Kalian itu privilege, lebih privilege lagi karena terpilih untuk jadi Indonesian Future Leader.  Dan kesempatan untuk bertemu teman-teman mahasiswa dari berbagai penjuru. Ini seharusnya bisa jauh lebih bergaung kalau jejaring ini terus dipelihara. Ini sudah jadi barisan sendiri. Konsolidasi," tegasnya.

Konsolidasi jejaring ini, menurut Najwa, adalah amunisi untuk menyuarakan keresahan bersama yang menjadi cerminan banyak kalangan. Hal ini memungkinkan penyebaran best practices dari kampus yang memiliki semangat pergerakan tinggi ke kampus-kampus yang masih kesulitan.

Najwa kembali berpesan, seorang pemimpin harus fokus pada apa yang bisa dilakukan organisasinya. Ia pun mengaitkan tugas pemimpin dengan tugas seorang jurnalis yang menjadikan hal penting menjadi menarik, sehingga publik atau orang disekitarnya akan merasa hal itu juga penting.

Di tengah tsunami informasi dan banyaknya hoax tambahnya, tugas ini menjadi semakin sulit. Najwa mengajak mahasiswa untuk belajar mengubah isu-isu kampus yang penting, agar dikemas secara menarik sehingga memantik keterlibatan mahasiswa.

"Always start with what you can do first. Jangan menghabiskan waktu menuntut apa yang orang lain bisa lakukan. Karena saya percaya setiap orang itu berdaya," jelasnya.

Ia menutup dengan pesan penegasan, warga negara yang berdaya memiliki kekuatan jauh lebih besar dibandingkan pihak yang tidak melakukan apa-apa. Untuk itu butuh selain konsolidasi, dibutuhkan kolaborasi. Gunakan amunisi yang ada, gunakan jaringan yang ada, gunakan kolaborasi ini untuk saling menguatkan. Intinya, pemimpin sejati adalah mereka yang selalu bertindak dengan tujuan yang telah dirumuskan secara sadar, bukan sekadar mengikuti arus," tutup Najwa.

Adanya Indonesia Future Leaders Camp menegaskan bahwa FLC bukan sekadar program pelatihan, melainkan momentum bagi mahasiswa untuk mengukuhkan tekad menjadi calon pemimpin yang berintegritas, berwawasan global, dan berdampak.

Kunjungan FLC 2025 ke Narasi, juga mempertegas komitmen dari visi Kemdiktisaintek Berdampak, dalam melahirkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter. Pesan Najwa Shihab adalah dorongan bagi calon Future Leaders untuk memanfaatkan jejaring yang difasilitasi program ini. Para peserta FLC  diharapkan mampu mengawal dan berkontribusi secara proaktif, dalam mewujudkan  visi pembangunan yang berkelanjutan demi Indonesia Emas 2045.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang