JEMBER – Politeknik Negeri Jember (Polije) memperkuat kolaborasi dengan PT Rolas Nusantara Medika dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah organik rumah sakit berbasis ekonomi sirkular. Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui keterlibatan pondok pesantren dalam pengelolaan sampah menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Kolaborasi tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya antara manajemen PT Rolas Nusantara Medika dan Polije. Dalam kerja sama ini, PT Rolas Nusantara Medika menggandeng Polije untuk mengelola sekitar 400 kilogram sampah organik yang dihasilkan setiap hari dari dua rumah sakit yang berada di bawah naungannya.
Ketua Tim Sustainable Development Goals (SDGs) Polije, Wendy Triadji Nugroho, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai model pengelolaan limbah yang mengintegrasikan aspek lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik dapat menjadi solusi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Wendy.
Dalam implementasinya, Polije akan memberikan pendampingan teknis mulai dari pengoperasian mesin pencacah sampah, budidaya maggot, hingga pengelolaan sampah organik secara berkelanjutan. Pendampingan tersebut diharapkan mampu menghasilkan sistem pengelolaan limbah yang efisien sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Kami ingin program ini menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” tambah Wendy.
Direktur PT Rolas Nusantara Medika, dr. Syamsul Bahri, MPH., MKK., menyampaikan apresiasinya atas kesiapan Polije mendukung pengembangan program tersebut. Menurutnya, kerja sama ini menjadi solusi inovatif dalam mengatasi pengelolaan sampah organik rumah sakit yang selama ini menjadi tantangan.
“Kami mengapresiasi kesiapan Polije dalam memberikan pendampingan teknis. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata mengatasi persoalan sampah organik rumah sakit,” katanya.
Melalui skema yang disiapkan, rumah sakit akan melakukan pemilahan dan pencacahan sampah organik sebelum dikirim ke lokasi budidaya maggot. Selanjutnya, pondok pesantren akan menyediakan lahan dan tenaga kerja untuk mengelola budidaya tersebut, sementara hasil budidaya maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun produk bernilai ekonomi lainnya.
“Kami berharap kerja sama ini menghadirkan pengelolaan sampah yang lebih efektif, ramah lingkungan, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar dr. Syamsul Bahri.
Ketiga pihak menargetkan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada awal Agustus 2026 sebagai langkah awal implementasi program. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular yang dapat direplikasi di berbagai daerah, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.






