SAMPANG — Sampah organik yang selama ini dianggap sebagai limbah mulai dikelola menjadi kompos di lingkungan Politeknik Negeri Madura (POLTERA). Melalui Tim Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan Hidup (K3LH), POLTERA menginisiasi pengelolaan sampah organik sebagai langkah awal membangun lingkungan kampus yang lebih bersih, asri, dan ramah lingkungan.
Program tersebut dilaksanakan pada 12 Agustus 2026. Tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah, kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya di lingkungan kampus.
Direktur POLTERA, Laily Ulfiyah, mengatakan pengelolaan sampah organik memberikan manfaat yang luas, tidak hanya bagi kebersihan lingkungan kampus, tetapi juga dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta SDG 15 tentang ekosistem daratan.
“Pengelolaan sampah organik menjadi kompos memiliki tujuan dan manfaat yang tidak hanya berdampak pada lingkungan kampus, tetapi juga mendukung implementasi dan pencapaian SDGs,” ujar Laily.
Menurutnya, hal yang tidak kalah penting adalah membangun kebiasaan seluruh sivitas akademika untuk menerapkan pola hidup yang lebih disiplin dan peduli terhadap lingkungan.
Sampah organik yang telah dikelola nantinya dapat dimanfaatkan menjadi kompos untuk kebutuhan taman, kebun, dan ruang terbuka hijau di lingkungan POLTERA. Dengan demikian, sampah yang sebelumnya berakhir sebagai limbah dapat kembali memberikan manfaat.
Program tersebut juga diharapkan dapat mengurangi potensi pencemaran akibat penumpukan sampah organik sekaligus menumbuhkan budaya peduli lingkungan di kalangan sivitas akademika. Dalam jangka panjang, pengelolaan lingkungan ini dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ketua Tim K3LH POLTERA, Astri Rino Okvitasari, menyebut inisiatif tersebut sebagai langkah awal sebelum POLTERA mengembangkan berbagai program Kampus Hijau lainnya.
“Inisiasi awal ini menjadi pondasi penting untuk membangun kebiasaan baru seluruh civitas akademika sebelum kita melangkah lebih jauh ke program-program Kampus Hijau berikutnya. Semoga POLTERA dapat secara konsisten mewujudkan lingkungan kampus yang bersih, asri, dan bebas dari pembakaran sampah,” kata Astri.
Melalui pengelolaan sampah organik menjadi kompos, POLTERA mendorong perubahan dari kebiasaan sederhana di lingkungan kampus. Pemilahan dan pengolahan sampah diharapkan menjadi bagian dari budaya bersama, sehingga upaya mewujudkan kampus yang bersih, asri, dan berkelanjutan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata.




