Perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan meningkatnya kebutuhan pangan global mendorong pentingnya inovasi berbasis sains dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Di tengah tantangan tersebut, sektor maritim dinilai memiliki peran strategis dalam menopang ketahanan pangan sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Isu tersebut menjadi fokus dalam The 13th National and The 9th International Symposium on Marine and Fisheries (SYMARFISH) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Sabtu, 20 Juni 2026. Mengusung tema Science-driven Innovation in the Blue Economy: Achieving Food Security and the SDGs, forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat untuk membahas berbagai solusi berbasis riset di bidang kelautan dan perikanan.
Tingginya minat terhadap pengembangan ilmu kelautan dan perikanan tercermin dari partisipasi peserta yang mencapai 120 orang dengan 90 abstrak makalah terdaftar. Peserta berasal dari berbagai negara, menunjukkan semakin luasnya jejaring kolaborasi internasional dalam pengembangan riset sektor maritim.
Rektor Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa, menilai hasil-hasil pemikiran yang lahir dari forum ilmiah semacam ini penting sebagai masukan bagi para pengambil kebijakan. Menurut dia, besarnya potensi sumber daya laut Indonesia perlu diimbangi dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat agar mampu menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.
Penguatan sektor kelautan dan perikanan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir dan nelayan, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Karena itu, pengembangan ekonomi biru membutuhkan kesamaan visi antarpemangku kepentingan agar pemanfaatan sumber daya laut tetap memperhatikan aspek keberlanjutan.
SYMARFISH 2026 membahas berbagai isu strategis, mulai dari keanekaragaman hayati perairan, konservasi akuatik, oseanografi dan perubahan iklim, hingga bioteknologi kelautan dan perikanan. Topik lain yang turut menjadi perhatian meliputi akuakultur berkelanjutan, sistem informasi geografis kelautan, pencemaran perairan, pengolahan hasil perikanan, serta aspek sosial ekonomi masyarakat pesisir.
Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah pakar dari dalam dan luar negeri. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diwakili Zainal Arifin membawakan materi mengenai agenda riset kelautan Indonesia dalam mendukung ekonomi biru, kedaulatan pangan, dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Selain itu, sejumlah akademisi dari Turki, Malaysia, Tiongkok, serta berbagai perguruan tinggi di Indonesia turut berbagi hasil penelitian dan pengalaman pengelolaan sumber daya kelautan.
Setelah sesi pleno dan diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi paralel yang memberi kesempatan kepada peserta memaparkan hasil penelitian mereka. Melalui forum ini, Universitas Hasanuddin berharap penguatan riset dan inovasi dapat berkontribusi pada perumusan kebijakan serta pengelolaan sumber daya kelautan yang lebih berkelanjutan di masa depan.
Catatan Editor
SYMARFISH merupakan forum ilmiah rutin yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin untuk mempertemukan peneliti, akademisi, pemerintah, dan pelaku industri dalam membahas berbagai isu strategis sektor kelautan dan perikanan. Pada penyelenggaraan tahun 2026, forum ini menitikberatkan pada peran inovasi berbasis sains dalam mendukung ekonomi biru, ketahanan pangan, dan pencapaian SDGs.
Copywriter : Andi Muhammad Syafrizal
Editor : Ishak Rahman






