UNTIRTA Perkuat Budaya Keselamatan Kerja UMKM Bengkel Kendaraan Listrik melalui Pelatihan K3 Pra-Produksi Battery Pack Electric Vehicle

Kampus Kita

28 Juli 2026 | 09.30 WIB

UNTIRTA Perkuat Budaya Keselamatan Kerja UMKM Bengkel Kendaraan Listrik melalui Pelatihan K3 Pra-Produksi Battery Pack Electric Vehicle

Serang, 23 Juli 2026 – Perkembangan industri kendaraan listrik di Indonesia membuka peluang baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, pertumbuhan tersebut juga menghadirkan tantangan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan budaya keselamatan kerja, khususnya pada penanganan baterai lithium sebagai komponen utama kendaraan listrik. Kesalahan dalam proses penanganan baterai berpotensi menimbulkan risiko kecelakaan kerja, kerusakan komponen, hingga kebakaran, sehingga penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan.

Sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat menyelenggarakan Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam Pra-Produksi Battery Pack Electric Vehicle (EV) di UMKM Oasis Teknik Electric Vehicle, Kampung Kubang Kemiri, Kelurahan Sukawana, Kecamatan Serang, Kota Serang, pada Kamis (23/7).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dengan judul "Pemberdayaan dan Transformasi UMKM Mikro Bengkel Kendaraan Listrik melalui Penguatan Pra-Produksi Battery Pack EV Berbasis SKKNI."

Program pengabdian dilaksanakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNTIRTA yang diketuai oleh Rusdi Febriyanto, S.Pd., M.Eng. dengan anggota Ananda Yhuto Wibisono Putra, M.Pd. dan Dwi Widyawati, S.Pd., M.Biomed. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Mitra kegiatan adalah UMKM Oasis Teknik Electric Vehicle yang dipimpin oleh Ibrahim Jaya Sasmita. Rangkaian kegiatan meliputi pembukaan, sambutan, penyampaian materi, diskusi interaktif, serta penyusunan rencana tindak lanjut bersama mitra.

Pelatihan K3 merupakan tahapan pertama dalam rangkaian program pemberdayaan yang dirancang secara bertahap. Pendekatan ini dipilih karena keselamatan kerja menjadi fondasi utama sebelum mitra memperoleh penguatan kompetensi teknis pada tahapan pra-produksi battery pack kendaraan listrik. Dengan demikian, peningkatan kompetensi yang akan diberikan pada tahap berikutnya dapat dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip keselamatan dan manajemen risiko.

Dalam sambutannya, Ketua Tim Pengabdian Rusdi Febriyanto menegaskan bahwa pengembangan industri kendaraan listrik tidak hanya memerlukan penguasaan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dalam menerapkan budaya keselamatan kerja.

"Perkembangan industri kendaraan listrik harus diikuti dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang memahami aspek keselamatan kerja. Oleh karena itu, pelatihan K3 kami tempatkan sebagai tahapan pertama dalam program pengabdian. Sebelum peserta mempelajari proses teknis pra-produksi battery pack, mereka perlu memiliki pemahaman yang kuat mengenai identifikasi bahaya, pengendalian risiko, serta prosedur kerja yang aman. Dengan demikian, kompetensi teknis yang dibangun pada tahapan berikutnya akan memiliki landasan keselamatan yang kuat," jelas Rusdi.

Materi pelatihan disampaikan oleh Dwi Widyawati, S.Pd., M.Biomed. bersama Devina Hermawati dengan fokus pada penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam penanganan baterai lithium kendaraan listrik. Peserta memperoleh pemahaman mengenai karakteristik baterai lithium-ion, potensi bahaya, mekanisme thermal runaway, identifikasi dan analisis risiko menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC), penerapan hierarki pengendalian risiko, penggunaan alat pelindung diri (APD), prosedur kerja aman, penyimpanan baterai, hingga langkah-langkah penanganan kondisi darurat apabila terjadi kebakaran baterai. Materi disampaikan melalui kombinasi ceramah, diskusi, dan studi kasus yang disesuaikan dengan aktivitas operasional bengkel sehingga peserta memperoleh pemahaman yang aplikatif.

Pelatihan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Berbagai pertanyaan dan pengalaman lapangan menjadi bahan diskusi, mulai dari penanganan baterai yang mengalami kerusakan, potensi bahaya akibat hubungan arus pendek (short circuit), overcharge, hingga pentingnya pemeriksaan kondisi baterai sebelum dilakukan proses perawatan maupun perakitan. Diskusi tersebut memperkuat pemahaman peserta mengenai pentingnya penerapan prosedur keselamatan sejak tahap awal pekerjaan sebagai upaya meminimalkan risiko kecelakaan kerja maupun kerusakan komponen.

Perwakilan UMKM Oasis Teknik Electric Vehicle, Ibrahim Jaya Sasmita, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pelaku usaha kendaraan listrik. Menurutnya, meningkatnya minat masyarakat terhadap sepeda listrik telah berdampak pada bertambahnya permintaan layanan perawatan, perbaikan, dan perakitan kendaraan listrik. Namun, pertumbuhan tersebut belum diimbangi oleh ketersediaan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.

"Permintaan terhadap layanan kendaraan listrik terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menjadi peluang bagi UMKM, tetapi sekaligus menjadi tantangan karena kami masih menghadapi keterbatasan tenaga kerja yang memahami teknologi kendaraan listrik. Kompetensi seperti perakitan battery pack, cell balancing, pengujian sistem baterai, hingga penerapan keselamatan kerja masih sangat dibutuhkan oleh industri," ungkap Ibrahim.

Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha dapat terus diperkuat dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia pada sektor kendaraan listrik.

"Kami berharap UNTIRTA dapat menjadi jembatan antara dunia pendidikan, pemerintah, dan industri sehingga lahir lebih banyak program pengembangan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. Ke depan, kami berharap semakin banyak lulusan pendidikan vokasi yang memiliki kompetensi di bidang kendaraan listrik sehingga kebutuhan tenaga kerja industri dapat terpenuhi dan mampu mendukung inovasi pada sektor kendaraan listrik," tambahnya.

Pelatihan K3 ini menjadi langkah awal dari rangkaian pemberdayaan yang telah disusun secara sistematis oleh tim pengabdian. Setelah peserta memperoleh penguatan mengenai aspek keselamatan kerja, kegiatan akan dilanjutkan dengan pelatihan kompetensi teknis pra-produksi battery pack kendaraan listrik, penguatan manajemen dan kewirausahaan bengkel, implementasi teknologi beserta penggunaan peralatan pendukung, hingga pendampingan penyusunan standar operasional sebagai upaya membangun UMKM yang mandiri, produktif, dan berdaya saing.

Melalui program ini, UNTIRTA menunjukkan komitmennya dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku UMKM. Pendekatan pemberdayaan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga pada pembentukan budaya keselamatan kerja sebagai fondasi pengembangan industri kendaraan listrik yang aman, produktif, dan berkelanjutan. Diharapkan program ini mampu meningkatkan kapasitas UMKM mitra sekaligus mendukung penguatan ekosistem kendaraan listrik di Provinsi Banten dan Indonesia secara berkelanjutan.

DiktisaintekBerdampak

Kampus Berdampak

Jawara Berdampak

Untirta Jawara

Untirta

/

5

Ulas Sekarang