Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menghadiri Pembukaan Lomba Sains Berbasis STEAM dan Education Fair 2026 di SMA Kolese Gonzaga, Rabu (26/8). Mengangkat tema Sapientia Viridis atau kebijaksanaan hijau, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan pemikiran sains sekaligus melihat persoalan lingkungan melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM).
Membuka acara, Wamen Stella mendorong peserta didik membangun budaya sains sejak dini melalui rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan kemampuan menjawab pertanyaan berdasarkan data. Sains tidak hanya menjadi bidang studi, tetapi juga cara berpikir yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Sains itu untuk semua orang, yang sebenarnya saya tekankan adalah bukan hanya sainsnya, tetapi adalah pemikiran tentang logika dan riset,” ujar Wamen Stella.
Sains tidak selalu dimulai dari pertanyaan mengenai manfaat langsung. Wamen Stella mencontohkan perkembangan X-ray, GPS, dan Google untuk menunjukkan bahwa pertanyaan ilmiah dapat menemukan penerapannya jauh setelah penelitian dilakukan. Google, misalnya, berkembang dari riset akademik yang dituangkan dalam disertasi dan publikasi ilmiah.
Karena itu, rasa ingin tahu perlu diberi ruang. Pertanyaan yang muncul dari rasa ingin tahu dapat menjadi awal proses ilmiah, sementara penerapannya dapat ditemukan kemudian.
“Nomor satu tentang sains itu adalah yang kita biasa sebut pertanyaan dari rasa ingin tahu. Pertanyaan dari rasa ingin tahu, bukan pertanyaan melulu dari rasa untuk apa,” jelas Wamen Stella.
Kebiasaan tersebut dapat dilatih sejak sekolah. Peserta didik dapat mulai dari persoalan sederhana di lingkungan sekitar, kemudian mengubahnya menjadi pertanyaan yang dijawab secara sistematis dan berbasis data. Misalnya, sekolah dapat meneliti jumlah sampah yang dihasilkan atau jumlah makanan yang tersisa di kantin.
Cara berpikir tersebut juga relevan untuk melihat persoalan lingkungan. Persoalan lingkungan perlu didekati melalui riset karena setiap bagian di dalamnya saling berkaitan.
“Masalah lingkungan tentu saja adalah masalah kita bersama. Dan apapun bagian atau fase dari lingkungan itu memang harus selalu dilakukan dengan riset,” kata Wamen Stella.
Riset dan Potensi Indonesia
Dalam pemaparannya, Wamen Stella menunjukkan sejumlah contoh riset yang dilakukan di Indonesia. Salah satunya riset nilam di Aceh yang dikembangkan melalui Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala. Teknologi hasil riset tersebut digunakan untuk mendukung proses pengolahan atsiri sehingga dapat diterapkan melalui koperasi dan memberikan manfaat bagi petani. Minyak atsiri dari Aceh juga telah diekspor, antara lain ke Prancis.
Contoh lain adalah pemanfaatan tulang ikan tuna menjadi kolagen. Tulang dan kulit tuna yang sebelumnya dibuang dimanfaatkan peneliti Universitas Syiah Kuala untuk menghasilkan kolagen. Produk tersebut telah dibuat menjadi produk komersial, meskipun masih dalam skala kecil.
Dalam konteks tersebut, Stella menyebut peran Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk mendorong hasil-hasil riset agar dapat dikembangkan dan ditingkatkan skalanya.
Wamen Stella juga menyoroti rumput laut sebagai salah satu potensi Indonesia yang tengah dikembangkan melalui riset. Peneliti Universitas Mataram bersama Beijing Genomics Institute mulai melakukan pemetaan genom rumput laut. Pengembangan riset seperti ini perlu diikuti sinergi antara akademia dan industri agar hasil penelitian dapat dikembangkan lebih lanjut.
Publikasi ilmiah juga menjadi salah satu cara memperkenalkan kepakaran peneliti Indonesia kepada dunia dan membuka peluang kolaborasi. Wamen Stella mencontohkan kerja sama dengan Beijing Genomics Institute yang terbangun antara lain setelah lembaga tersebut melihat rekam publikasi peneliti Universitas Mataram.
“Riset adalah motor pertumbuhan ekonomi bangsa,” ujar Wamen Stella.
Hasil riset yang telah ada dapat dikembangkan lebih lanjut melalui proses scale-up. Pengembangan tersebut membutuhkan keterhubungan antara peneliti, perguruan tinggi, dan industri agar hasil penelitian dapat bergerak dari tahap riset menuju pemanfaatan yang lebih luas.
Menumbuhkan Budaya Riset Sejak Sekolah
Budaya riset yang diperkenalkan sejak sekolah menjadi ruang untuk mengasah cara berpikir peserta didik. Wamen Stella menekankan bahwa lomba sains tidak berarti setiap penelitian harus langsung diterapkan, melainkan menjadi kesempatan untuk mengasah kualitas berpikir, membangun budaya bertanya, serta membiasakan peserta didik menjawab pertanyaan secara sistematis dan berbasis data.
Upaya menumbuhkan budaya sains sejak sekolah sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak. Penguatan budaya bertanya, berpikir berbasis data, dan melakukan riset sejak dini menjadi bagian dari upaya membangun talenta serta ekosistem sains dan teknologi yang dapat terus berkembang untuk menjawab kebutuhan Indonesia.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#PentingSaintek
#KampusBerdampak






