Wamendiktisaintek Stella Soroti Pentingnya Pemetaan Kompetensi Lulusan di Era AI

Kabar

21 Oktober 2026 | 17.15 WIB

Wamendiktisaintek Stella Soroti Pentingnya Pemetaan Kompetensi Lulusan di Era AI

Malang - Perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) mendorong perguruan tinggi mengevaluasi peran pendidikan sekaligus mempersiapkan lulusan menghadapi perubahan dunia kerja. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, dalam orasi ilmiah di Universitas Brawijaya (UB), Senin (19/10).


Dalam orasinya, Wamen Stella menjelaskan bahwa perkembangan AI memiliki karakteristik eksponensial, yaitu perubahan yang pada awalnya tampak lambat, tetapi dapat berkembang dengan sangat cepat. Karakteristik ini perlu dipahami oleh perguruan tinggi agar dapat mengantisipasi perubahan teknologi sekaligus mengevaluasi peran pendidikan.


“Artificial Intelligence tidak bertumbuh secara linear, tetapi bertumbuh secara eksponensial. Pada awalnya, perkembangannya mungkin terlihat pelan, tetapi kemudian dapat berubah dengan sangat cepat,” ujar Wamen Stella.


Wamen Stella menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadapi perkembangan AI. Menurutnya, perguruan tinggi perlu memikirkan strategi untuk merespons perubahan teknologi, termasuk dengan mengevaluasi kembali perannya dalam pendidikan dan pengembangan pengetahuan.


“Menurut saya, yang paling mampu untuk menghadapi ini sebenarnya adalah universitas. Kenapa? AI ini lahir dari pertemuan di Dartmouth University pada 1956. Jadi, kalau AI lahir dari universitas, saya rasa universitas akan mampu menghadapi itu dengan strategi yang sama,” ungkap Wamen Stella.


Lebih lanjut, Wamen Stella mengajak perguruan tinggi mengevaluasi perannya dalam menciptakan, menyampaikan, dan mengkurasi pengetahuan agar mahasiswa tidak hanya mampu mengakses informasi melalui AI, tetapi juga memahami dan menghubungkannya untuk menjawab berbagai persoalan.


“Kita harus bersama-sama memikirkan peran bersama waktu kita menciptakan pengetahuan, tujuan kita mentransmisikan pengetahuan, dan masih mampukah kita mengurasi pengetahuan. Itulah hal yang sangat penting yang harus kita siapkan,” jelas Wamen Stella.


Pembahasan mengenai peran pendidikan tinggi di tengah perkembangan AI berlanjut dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang kesiapan talenta dan kebutuhan industri. Dalam diskusi tersebut, Wamen Stella menyoroti potensi berkurangnya pekerjaan tingkat pemula (entry-level jobs) karena sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh tenaga kerja baru berpotensi digantikan oleh AI dengan biaya lebih rendah.


Kondisi tersebut membuat pemetaan kebutuhan tenaga kerja dan kompetensi lulusan semakin penting. Pemetaan ini diperlukan untuk mengukur kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri. Selain itu, pemetaan membantu mengidentifikasi kompetensi yang perlu diperkuat dan ketimpangan jumlah lulusan dengan kebutuhan tenaga kerja.


Wamendiktiasaintek menekankan bahwa pemetaan tersebut perlu melibatkan perguruan tinggi dan memanfaatkan struktur yang sudah tersedia agar pengumpulan data dapat dilakukan secara lebih efisien.


“Saya rasa kita perlu menggandeng begitu banyak kampus, tetapi bagaimana caranya agar efisien? Di UB itu sudah ada career center, lalu juga sudah ada beberapa struktur. Kita bisa menggunakan struktur-struktur yang sudah ada agar bisa mendapatkan data yang lebih tepat,” tutur Wamen Stella.


Sebagai salah satu langkah yang dapat dilakukan, Wamen Stella mengusulkan penyusunan survei dengan pertanyaan seragam untuk memetakan kondisi sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Penyusunan survei tersebut dapat mempertimbangkan masukan dari studi-studi yang telah dilakukan sehingga pemetaan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.


“Tujuan jangka pendek kita adalah membuat satu survei yang seragam untuk seluruh perguruan tinggi untuk memetakan kondisi SDM. Pertanyaan-pertanyaannya bisa disusun oleh kementerian dengan masukan dari studi-studi yang sudah dilakukan. Dengan pertanyaan yang seragam, kita bisa memetakan kondisi SDM kita saat ini,” jelas Wamen Stella.


Dalam diskusi tersebut, perwakilan Universitas Brawijaya menyampaikan harapan agar dukungan kementerian dapat membantu perguruan tinggi memperkuat kompetensi lulusan. Kolaborasi dengan industri juga menjadi perhatian untuk menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.


Melalui orasi ilmiah dan diskusi bersama pemangku kepentingan tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi untuk terus mengevaluasi perannya di tengah perkembangan AI. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dan mempersiapkan lulusan menghadapi perubahan dunia kerja, selaras dengan semangat Diktisaintek Berdampak.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Ulas Sekarang