Pontianak-Indonesia menghadapi tantangan dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045. Di satu sisi ada bonus demografi dengan dominasi penduduk usia produktif, namun masih terdapat persoalan ketimpangan akses pendidikan tinggi, dunia kerja, hingga tantangan menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi nasional baru mencapai 32,89 persen dan masih berada di bawah rata-rata dunia yang mencapai 40 persen. Sementara itu, Kalimantan Barat berada di posisi ke-34 dari 38 provinsi dengan APK perguruan tinggi sebesar 24,99%. Selain itu, angka pengangguran nasional masih berada di angka 4,76% dengan total 7,28 juta orang, termasuk sekitar 1,01 juta sarjana yang belum terserap sesuai bidang keahliannya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia Indonesia tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan akses pendidikan, tetapi juga harus memperkuat relevansi pendidikan, karakter kebangsaan, serta pelestarian budaya lokal sebagai fondasi peradaban bangsa.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan saat menghadiri Seminar Nasional Pekan Gawai Dayak 2026 bertajuk Pemberdayaan Masyarakat Dayak dalam Arus Globalisasi: Strategi Pembangunan Manusia Berbasis Pendidikan di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (19/5).
Dalam paparannya, Wamendiktisaintek menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi solusi atas persoalan bangsa.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara ilmu yang jauh dari realitas sosial, tetapi harus hadir sebagai solusi atas persoalan bangsa. Karena masa depan Indonesia sesungguhnya ditentukan oleh sejauh mana pendidikan mampu menghadirkan harapan bagi rakyatnya,” ujar Wamen Fauzan.
Sebagai langkah konkret membumikan peran perguruan tinggi, Wamen Fauzan mengungkapkan bahwa Kemdiktisaintek mendorong pembentukan konsorsium perguruan tinggi guna mengakselerasi pembangunan di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Barat. Konsep ini sebelumnya telah diuji coba melalui pilot project di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Di NTT, kami membentuk konsorsium yang melibatkan 27 perguruan tinggi untuk menangani persoalan disana, seperti angka stunting yang tinggi, kemiskinan, dan pengangguran. Salah satu program nyatanya ialah KKN Tematik berupa pendampingan stunting yang diterjunkan langsung ke daerah - daerah,” ungkap Wamendiktisaintek.
Melihat keberhasilan tersebut, Wamen Fauzan menegaskan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Rektor Universitas Tanjungpura (Untan) untuk mengkonsolidasikan 41 perguruan tinggi yang ada di Kalimantan Barat dalam sebuah wadah konsorsium serupa yang diharapkan dapat menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi.
Lebih lanjut, Wamen Fauzan juga menyoroti bonus demografi menuju Indonesia Emas tahun 2045. Menurutnya, bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan bangsa apabila ditopang oleh pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan. Namun demikian, Fauzan mengingatkan bahwa pemerataan akses pendidikan tinggi masih menjadi pekerjaan besar bersama, terutama di daerah-daerah tertentu.
Wamendiktisaintek juga menjelaskan pentingnya kesinambungan pendidikan dimulai dari lingkungan keluarga sampai masyarakat. Lingkungan keluarga berperan sebagai fondasi awal penanaman nilai dan karakter. Selanjutnya, sekolah berperan dalam pengembangan potensi, sementara lingkungan masyarakat menjadi ruang pengamalan ilmu dalam kehidupan nyata.
“Ketika ketiga pusat pendidikan ini bergerak bersama, maka lahirlah generasi yang kuat secara intelektual, matang secara emosional, dan tangguh secara sosial. Peradaban besar selalu lahir dari sinergi nilai, ilmu, dan pengalaman hidup yang berjalan seimbang,” ungkap Wamen Fauzan.
Dalam kesempatan tersebut, Wamen Fauzan juga menekankan pentingnya nilai budaya Dayak sebagai fondasi pembangunan manusia yang berkelanjutan. Salah satunya Filosofi Tri Harmoni Peradaban Dayak yang meliputi Huma Betang, Jaga Alam, dan Belom Bahadat mengandung nilai luhur yang relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Menurut Wamen Fauzan Huma Betang mengajarkan gotong royong dan hidup dalam keberagaman, Jaga Alam menanamkan kesadaran menjaga harmoni lingkungan, sedangkan Belom Bahadat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, perilaku terpuji, dan kemandirian.
“Kemajuan tidak harus meninggalkan tradisi, dan modernitas tidak harus menghilangkan identitas. Justru dari akar budaya yang kuat itulah lahir ketahanan sebuah peradaban,” ujar Wamendiktisaintek.
Menutup paparannya, Wamendiktisaintek berharap Seminar Nasional Pekan Gawai Dayak 2026 dapat menjadi ruang lahirnya gagasan dan kolaborasi dalam membangun manusia Indonesia yang lebih adil, beradab, dan berkelanjutan.
“Marilah kita jadikan pendidikan sebagai jalan memuliakan budaya, menjaga alam, dan menguatkan persatuan bangsa. Sebab masa depan Indonesia yang besar hanya dapat dibangun oleh manusia-manusia yang berilmu, berkarakter, dan berjiwa luhur,” pungkas Wamen Fauzan.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





