Peluang dan Tantangan Inovasi Digital

Jakarta- Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen digital, tetapi harus menjadi pemain, dan bahkan produsen digital. Kita tidak hanya menjadi pengguna, tetapi sebagai pencipta teknologinya dan kita harus akselerasi itu bersama-sama. Sebagian contoh, membangun ekosistem digital ini sudah mulai dirintis sejak 2008 oleh pemerintah, yaitu dengan mendorong perguruan tinggi untuk bisa melakukan metode pembelajaran daring dengan didukung oleh berbagai skema dan dana hibah, disaat pandemi ekosistem yang hampir matang tersebut terakselerasi secara cepat.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam dalam Live Instagram Dinamika & Peluang Inovasi Digital, yang dihadiri juga oleh Dionisius Nathaniel selaku CMO Halodoc, Achmad Aditya Maramis Tim Kerja Akselerasi Kampus Merdeka, dan Ruddy J.Suhatril selaku pakar IT Universitas Gunadarma, Jum’at (25/06).

Dalam kesempatan tersebut, Nizam menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini jelas berhubungan erat dengan dengan perkembangan digital yang terus bertransformasi. Oleh sebab itu kita perlu membangun ekosistem ini lebih kuat lagi.

Transformasi ekonomi digital di Indonesia termasuk sangat cepat, disebabkan jumlah startup di Indonesia adalah terbesar kelima di dunia. Ini menunjukkan adaptabilitas dan kreativitas anak-anak muda Indonesia luar biasa.

Baca Juga :  Konsorsium iHiLead Dukung Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka

“Jika ini ketemu dan kita membangun ekosistem itu secara tepat maka ini akan menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi. Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan transformasi digital ini untuk kemajuan ekonomi, dan ekonomi baru akan tercipta,” harap Nizam.

Lebih lanjut, Nizam mengatakan bahwa banyaknya startup yang gugur saat ini adalah sesuatu yang normal dan startup yang bertahan bukan yang paling dominan melainkan startup yang paling bisa beradaptasi dalam memanfaatkan dan mengambil angle yang tepat.

Nizam katakan dalam membangun ekosistem digital pada era revolusi industri 4.0 kuncinya adalah connecting dot bagaimana menghubungkan simpul-simpul yang menimbulkan jaringan antara Akademisi, Bisnis, Komunitas, Finance, Pemerintah, dan Media (ABCFGM) dengan kolaborasi pentahelix sehingga menimbulkan jejaring yang kuat untuk membangun ekonomi yang kokoh.

Hal senada disampaikan oleh Ruddy J.Suhatril pakar IT dari Universitas Gunadarma yang mengatakan dalam menyiapkan ekosistem digital itu ada banyak aspek yang perlu disiapkan yang pertama adalah sumber daya manusianya, soft skill dari SDM itu sendiri, hard skill, kerja sama,  berkomunikasi, dan harus bisa bekerja keras. Selain itu, peran perguruan tinggi yang juga penting itu adalah bagaimana dosen bisa beradaptasi dengan literasi-literasi yang baru.

Baca Juga :  Kampus Mengajar, Pengabdian Penuh Semangat Untuk Belajar Mengajar

Dionisius Nathaniel CMO Halodoc mengatakan bahwa peluang untuk membangun ekosistem digital saat ini masih terbuka sangat besar, karena Indonesia masih banyak permasalahan yang belum selesai dan membutuhkan solusi yang baik dan bermanfaat untuk masyarakat.

“Hal ini merupakan sebuah peluang karena kebutuhan tersebut masih tinggi. Oleh sebab itu, startup baru akan terus bermunculan dari anak-anak muda Indonesia dan kita juga harus membantu serta membangun ekosistem digital itu sendiri,” ungkap Dionisius.
(YH/DZI/FH/DH/NH/SH)

Humas dan Tim Akselerasi Kampus Merdeka Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman : www.dikti.kemdikbud.go.id
FB Fanpage : @ditjen.dikti
Instagram : @ditjen.dikti
Twitter : @ditjendikti
Youtube : Ditjen Dikti
E-Magz Google Play : G-Magz
Tiktok : Ditjen Dikti

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
2222 Views

Terimakasih telah mengunjungi laman Dikti, silahkan mengisi survei di bawah untuk meningkatkan kinerja kami

Berikan penilaian sesuai kriteria berikut :

  • 1 = Sangat Kurang
  • 2 = Kurang
  • 3 = Cukup
  • 4 = Baik
  • 5 = Sangat Baik
x