Berdialog dengan Peserta FLS, Wamendiktisaintek Tekankan Integritas pada Calon Pemimpin

News

12 Oktober 2026 | 08.15 WIB

Berdialog dengan Peserta FLS, Wamendiktisaintek Tekankan Integritas pada Calon Pemimpin

Depok—Kepemimpinan tidak cukup diukur dari posisi atau struktur yang dijalankan, tetapi perlu dilihat dari integritas, kemampuan mengevaluasi diri, dan keberanian menghadirkan perubahan. Calon pemimpin perlu memahami alasan dirinya dipercaya, manfaat yang dapat diberikan melalui peran tersebut, serta perubahan yang ingin diwujudkan bagi lingkungan dan masyarakat.


Pesan tersebut menjadi bagian dari dialog Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, bersama mahasiswa peserta Future Leaders Summit (FLS) 2026, Jumat (9/10). 


Berdasarkan data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tahun 2024, Indonesia berada pada angka 58,33, meningkat sebesar 9,66 poin dari tahun sebelumnya. Capaian dan kemajuan kelompok usia pemuda di Indonesia ini menunjukkan potensi besar generasi muda dalam mendorong pembangunan nasional.


Di FLS, Wamendiktisaintek mengajak mahasiswa merefleksikan pengalaman berorganisasi, mendengarkan pandangan mereka tentang kepemimpinan, serta mendiskusikan tantangan yang dihadapi calon pemimpin muda Indonesia. 


“Ini penting dalam proses menjadi seorang pemimpin. Kalau tidak evaluasi diri, itu berbahaya. Maka, saya meyakini Saudara-saudara sudah menjadi pemimpin di masing-masing perguruan tingginya,” jelas Wamen Fauzan.


Wamendiktisaintek membuka ruang bagi mahasiswa untuk berbagi pengalaman tentang proses mereka dipercaya memimpin, manfaat yang diperoleh dari organisasi, hingga persoalan yang mereka hadapi di kampus. Beragam pandangan tersebut menjadi bahan diskusi mengenai tanggung jawab seorang pemimpin, pentingnya integritas, dan keberlanjutan perubahan yang diupayakan.


Dalam dialog tersebut, Wamen Fauzan juga mengajak mahasiswa membedakan perubahan yang hanya terlihat dari luar dengan transformasi yang menyentuh cara berpikir dan substansi organisasi. Ia menggunakan analogi perubahan kulit ular untuk menggambarkan perubahan yang hanya mengubah bentuk, tanpa mengubah karakter dasarnya.


Menurut Wamendiktisaintek, calon pemimpin perlu melampaui pola kerja yang sekadar mengulang kebiasaan sebelumnya. Pemimpin harus mampu mengenali hal-hal yang perlu diperbaiki, mempelajari praktik baik dari pihak lain, lalu mengembangkannya menjadi gagasan dan pendekatan baru yang sesuai dengan kebutuhan organisasinya.


Wamendiktisaintek juga mendorong mahasiswa untuk berani menciptakan kebaruan atau “zero to one”, yakni menghasilkan gagasan dan inisiatif yang menghadirkan nilai baru. Dalam organisasi mahasiswa, hal tersebut dapat dimulai dengan memperluas orientasi kegiatan agar tidak hanya berfokus pada urusan internal, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat.


Salah satu caranya, menurut Wamendiktisaintek, yakni perguruan tinggi dapat mendekatkan kegiatan akademik dengan persoalan di sekitarnya. Kegiatan kampus dapat dikembangkan untuk mendukung potensi ekonomi masyarakat serta membantu menyelesaikan persoalan di tingkat lokal. Dengan demikian, organisasi dan perguruan tinggi memiliki ruang lebih luas untuk menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung.


Integritas Kepemimpinan


Selain inovasi, Wamendiktisaintek menekankan pentingnya integritas sebagai dasar kepemimpinan. Mahasiswa diingatkan agar tidak memaknai posisi pemimpin semata-mata sebagai akses, jaringan, atau peluang untuk memperluas pengaruh. Semua kesempatan tersebut perlu diiringi tanggung jawab dan komitmen untuk memberikan manfaat.


Wamen Fauzan juga mengapresiasi gagasan konstruktif yang disampaikan mahasiswa selama diskusi. Pandangan kritis yang disertai niat memperbaiki keadaan dinilai perlu dipelihara sebagai bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan. Masukan tersebut diharapkan dapat diteruskan untuk menjadi bahan evaluasi dan pengembangan program.


“Ke depan, kita ingin negara ini menjadi negara yang dibutuhkan. Bukan persoalan material saja, tetapi keunggulan pendidikan menjadi kunci dari segalanya. Maka, pendidikan sebagai sumber peradaban harus kita bangun sejak sekarang sehingga akan melahirkan alumni-alumni yang memiliki identitas di mana saja mereka berada,” tegas Wamen Fauzan.


Menutup dialog, Wamendiktisaintek mengingatkan para peserta bahwa mereka akan menghadapi persaingan sekaligus memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam perjalanan Indonesia ke depan. Ia berharap pengalaman dalam FLS dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk terus belajar, berkompetisi secara sehat, dan mengambil peran dalam perbaikan bangsa.


Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyelenggarakan rangkaian FLS sebagai ruang pembelajaran, pengembangan kapasitas, dan kolaborasi bagi mahasiswa pemimpin organisasi dari berbagai perguruan tinggi. Melalui FLS 2026, Kemdiktisaintek mendorong lahirnya calon pemimpin muda yang berintegritas, mampu berpikir kritis, serta berani menghadirkan inovasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat, sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak menuju Indonesia Emas 2045.


​​Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Rate Now