Depok—Masa sebagai mahasiswa merupakan periode penting, untuk membangun kapasitas diri. karena mahasiswa masih memiliki ruang untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar dari proses tersebut. Lingkungan perguruan tinggi juga menyediakan dosen, pembimbing, dan senior yang dapat menjadi tempat berdiskusi dan memperoleh perspektif sebelum mengambil keputusan.
Hal tersebut disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono dalam sesi bertajuk “Leading Transformation: Menjadi Pemimpin yang Future-Ready”, pada rangkaian Indonesia Future Leaders Summit (FLS) 2026, Kamis (8/10).
Di hadapan para mahasiswa pemimpin organisasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, Agung membagikan pengalaman kepemimpinannya di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, transportasi publik di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, kawasan industri Jababeka, hingga transformasi bisnis di Pertamina. Dirinya juga mengajak mahasiswa untuk melatih keberanian mengambil keputusan, membaca perubahan, serta menerjemahkan visi menjadi aksi nyata.
“Menjadi mahasiswa adalah salah satu kesempatan emas untuk belajar boleh salah. Belajar boleh mengambil risiko. Karena begitu Anda keluar dari kampus, Anda tidak lagi dalam posisi sebagai mahasiswa, ada tanggung jawab yang lebih besar, yang berdampak langsung, yang harus Anda perhatikan,” tegas Agung.
Agung menilai keberanian perlu dilatih sejak dini dan tidak dapat dilepaskan dari kemampuan untuk memahami risiko. Menurutnya, pemimpin tidak cukup hanya berani mengambil keputusan, tetapi juga perlu memiliki perhitungan, melakukan analisis, serta memahami konsekuensi dari setiap langkah yang diambil.
Mengubah Visi Menjadi Aksi
Dalam paparannya, Agung memperkenalkan lima prinsip yang menurutnya penting bagi seorang pemimpin transformasional, yaitu melihat perubahan yang akan datang, mengubah visi menjadi aksi, membangun keberanian dengan perhitungan, memanfaatkan keberagaman, serta membangun sistem yang dapat berkelanjutan.
Prinsip mengubah visi menjadi aksi menjadi salah satu penekanan dalam paparannya. Menurut Agung, gagasan mengenai masa depan tidak akan berarti apabila tidak diikuti dengan kemampuan untuk mengeksekusinya.
“Mengenai membentuk masa depan dan membentuk keberanian, memang harus dilatih dan didasari dengan eksekusi,” ujar Agung.
Pengalaman tersebut ia kaitkan dengan sejumlah transformasi yang pernah dijalankannya, termasuk pengembangan transportasi publik, pembangunan kawasan industri berkelanjutan, hingga transformasi bisnis di Pertamina. Dari berbagai pengalaman tersebut, ia menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan kemampuan untuk membaca kebutuhan masa depan sekaligus mengambil langkah konkret untuk mewujudkannya.
Salah satu contohnya adalah transformasi transportasi publik melalui Moda Raya Terpadu atau Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta serta Transjakarta. Agung menjelaskan bahwa membangun sistem tidak cukup hanya dengan menghadirkan infrastruktur dan teknologi, tetapi juga membutuhkan penguatan sumber daya manusia dan budaya organisasi agar perubahan dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Hal serupa, menurut Agung, juga berlaku dalam transformasi energi. Perubahan menuju energi yang lebih berkelanjutan membutuhkan visi jangka panjang, pengambilan keputusan yang baik, dan langkah konkret yang dilakukan secara bertahap. Dalam konteks tersebut, pemimpin dituntut untuk mampu membaca perubahan, mengelola perbedaan kepentingan, dan memastikan transformasi tetap berjalan.
Membentuk Masa Depan dari Sekarang
Agung juga mengingatkan mahasiswa bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh perubahan teknologi atau kebijakan, tetapi juga oleh keberanian generasi muda untuk mengambil peran di dalamnya.
“Kalau bicara masa depan, kalian semua yang di sinilah yang memiliki harapan dan kesempatan untuk membentuknya. Itu diawali dari sekarang,” ujar Agung.
Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis untuk membangun perubahan karena berada dalam fase ketika idealisme, pengetahuan, dan keberanian untuk mencoba sedang berkembang. Karena itu, idealisme perlu dipelihara sekaligus dibekali kemampuan untuk memahami kondisi dan menemukan cara yang tepat untuk mencapai tujuan.
“Ada kutipan yang mengatakan bahwa jika Anda bukan seorang idealis di usia 20 tahun, maka Anda tidak punya hati. Tetapi jika Anda tetap menjadi seorang idealis di usia 40 tahun, idealis tetapi tidak tahu cara untuk mencapai tujuan, maka Anda tidak punya otak,” tutur Agung.
Pesan tersebut menekankan pentingnya menjaga idealisme sekaligus membangun kemampuan untuk menerjemahkannya dalam tindakan. Bagi calon pemimpin, keberanian untuk membawa gagasan perubahan perlu berjalan bersama kemampuan membaca situasi, membangun kolaborasi, dan menentukan strategi yang dapat menghasilkan dampak.
Melalui FLS 2026, Kemdiktisaintek mempertemukan mahasiswa pemimpin organisasi dari berbagai wilayah untuk memperluas perspektif, membangun jejaring, dan mengembangkan gagasan yang dapat berkontribusi bagi masyarakat. Rangkaian ini merupakan kelanjutan dari Indonesia Future Leaders Camp (FLC) 2025 yang dilaksanakan di lima regional dan melibatkan 295 mahasiswa.
FLS 2026 menjadi ruang bagi peserta untuk melanjutkan pembelajaran kepemimpinan melalui diskusi, pertukaran gagasan, presentasi mini project, serta pengembangan jejaring lintas perguruan tinggi dan wilayah. Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada forum pembelajaran, tetapi mendorong peserta membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh ke dalam organisasi, lingkungan kampus, dan masyarakat.
Sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek terus mendorong perguruan tinggi untuk membangun ekosistem yang memungkinkan mahasiswa tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga penggerak gagasan, kolaborasi, dan perubahan. Regenerasi kepemimpinan menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi muda yang mampu membaca perubahan dan mengambil peran dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak





