Kemdiktisaintek dan Jepang Jajaki Pengembangan Energi Terbarukan

News

27 Oktober 2026 | 19.45 WIB

Kemdiktisaintek dan Jepang Jajaki Pengembangan Energi Terbarukan

Jakarta — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjajaki peluang kerja sama dengan Jepang dalam pengembangan teknologi daur ulang limbah elektronik dan baterai bekas, serta bioetanol sebagai energi alternatif. Hal ini dibahas saat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menerima kunjungan Executive Director of the Technology and Innovation Strategy Center (TSC), New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO), Kikuo Kishimoto di kantor Kemdiktisaintek, Selasa (27/10).


Mendiktisaintek menyampaikan bahwa Indonesia tengah memiliki kebutuhan, untuk merespons tantangan di bidang energi. Hal ini membutuhkan dukungan teknologi dan keterlibatan mitra industri, agar hasil riset dapat dikembangkan menjadi solusi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.


“Kita harus berpikir cepat, Indonesia tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai negara untuk mengembangkan industri kita,” tegas Mendiktisaintek.


Dalam pertemuan ini, pembahasan mencakup peluang pengembangan teknologi daur ulang limbah elektronik dan baterai bekas. Teknologi ini berpotensi memulihkan material bernilai dari limbah, untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri.


Kikuo Kishimoto menjelaskan bahwa penelitian untuk memulihkan material dari baterai masih berada pada tahap awal. Ia menyampaikan keterbukaan terhadap pengembangan teknologi yang dapat mendukung kebutuhan Indonesia.


Pembahasan juga mencakup pengolahan limbah plastik melalui pendekatan upcycling, yaitu mengolah material bekas menjadi produk dengan nilai guna lebih tinggi. Salah satu contoh yang dibahas adalah pemanfaatan botol plastik bekas menjadi material yang dapat digunakan kembali dalam proses industri.


Selain pengolahan limbah, pertemuan tersebut membahas peluang pengembangan bioetanol sebagai energi alternatif. Pembahasan menyoroti kebutuhan teknologi yang kompetitif dari sisi harga serta kepastian pasar agar hasil produksi dapat dimanfaatkan oleh industri. Menteri Brian juga menyampaikan keinginan untuk menjajaki diskusi dengan perusahaan otomotif Jepang terkait potensi dukungan terhadap pengembangan bioetanol.


Pengembangan berbagai teknologi tersebut membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha. Perguruan tinggi dapat mendukung penelitian dan pengujian teknologi, sedangkan mitra industri berperan dalam mengkaji kebutuhan produksi serta potensi penerapannya.


Kemdiktisaintek mendorong agar penjajakan ini ditindaklanjuti melalui pemetaan kebutuhan riset, teknologi yang sesuai, dan potensi mitra industri. Dengan demikian, kolaborasi internasional dapat membuka peluang pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan Indonesia dan mendukung penguatan industri dalam negeri.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Rate Now