Pada 2022, sebuah tim dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa menginjakkan kaki di Desa Bandung untuk pertama kalinya. Bukan sebagai tamu biasa, melainkan sebagai pembina — menjadikan Untirta sebagai perguruan tinggi pertama yang hadir mendampingi desa tersebut. Di ujung rombongan itu ada Dr. Dodi Hermawan, dosen akuakultur yang sudah lama percaya pada satu hal: bahwa ilmu perikanan belum benar-benar bekerja sampai ia sampai ke tangan petambak, ibu rumah tangga, dan pelaku usaha di desa — sampai ada ikan yang tumbuh lebih baik, produk yang terjual lebih mahal, dan keluarga yang hidupnya sedikit lebih sejahtera.
Tiga Dekade di IPB, Satu Misi di Banten
Perjalanan akademik Dr. Dodi seluruhnya bertumpu pada satu institusi: Institut Pertanian Bogor. Dari S1 Budidaya Perikanan yang ia selesaikan pada 2000, S2 Budidaya Perikanan pada 2007, hingga doktorat Ilmu Akuakultur yang ia rampungkan pada 2022 — ketiganya lahir dari IPB. Disertasinya sendiri mengkaji pemanfaatan Corn Steep Powder sebagai bahan baku pakan ikan Nila — sebuah terobosan yang berawal dari pertanyaan sederhana: bisakah limbah industri jagung yang selama ini terbuang menjadi solusi pakan ikan yang murah dan efektif?
Pertanyaan itu tidak berhenti di disertasi. Ia terus berkembang menjadi serangkaian penelitian yang kini telah menghasilkan lebih dari 17 publikasi ilmiah di jurnal nasional dan internasional, dengan fokus konsisten pada nutrisi ikan, teknologi pakan berbasis bahan lokal, dan akuakultur berkelanjutan.
Ikan Mas Sinyonya: Dari Penelitian ke Pemberdayaan
Satu nama yang berulang kali muncul dalam jejak penelitian Dr. Dodi adalah Ikan Mas Sinyonya (Cyprinus carpio) — varietas lokal Banten yang ia tekuni secara khusus. Dari mengkaji pertumbuhan, sistem pemberian pakan berhormon, hingga pengembangan teknologi akuaponik yang memadukan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem, penelitian-penelitiannya secara konsisten diarahkan untuk meningkatkan produktivitas spesies lokal ini.
Dan hasilnya tidak ia simpan hanya di dalam jurnal. Tim Untirta yang dipimpin Dr. Dodi pertama kali menginjakkan kaki di Desa Bandung pada tahun 2022 — menjadi perguruan tinggi pertama yang hadir sebagai pembina di desa tersebut. Bukan tanpa alasan. Desa Bandung menyimpan potensi yang unik: ketersediaan Ikan Mas Sinyonya, ikan endemik khas Provinsi Banten yang memang bisa ditemukan secara alami di wilayah ini.
“Kami dari tim Untirta datang ke Desa Bandung sekitar tahun 2022. Kondisinya belum sebagus seperti ini. Yang menarik bagi kami datang ke Desa Bandung karena ketersediaan Ikan Mas Sinyonya yang merupakan salah satu ikan provinsi Banten — ikan mas endemik yang bisa kita temukan di provinsi Banten, khususnya di Desa Bandung ini.”
Dari awal, hubungan Untirta dengan Desa Bandung dibangun di atas fondasi yang formal dan berkomitmen. Sebuah MOU ditandatangani antara Desa Bandung dan Untirta, menjadikan desa ini secara resmi sebagai salah satu desa binaan Untirta. Pada 2025, komitmen itu menguat dengan dukungan hibah dari Kemendiktisaintek melalui program Pengembangan Kawasan Mandiri Pangan — yang mendanai serangkaian kegiatan pengabdian masyarakat dan penelitian yang kini sudah menyentuh tiga pilar penting desa: Pokdakan (kelompok pembudidaya ikan), BUMDes, dan Pokdarwis.
Dua Alasan Untirta Tak Pernah Pergi dari Desa Bandung
Ditanya apa yang paling membanggakan dari Desa Bandung hingga Untirta terus menjadikannya desa binaan, Dr. Dodi menjawab dengan dua hal yang ia pegang teguh.
Pertama adalah potensi sumber daya alam. Ikan Mas Sinyonya yang merupakan komoditas endemik Kabupaten Pandeglang menjadi keunggulan komparatif yang tidak dimiliki banyak desa lain. Potensi ini yang sejak awal menarik perhatian tim peneliti Untirta dan terus menjadi fokus pengembangan hingga hari ini.
“Potensi sumber daya alamnya — kebetulan di Desa Bandung memiliki komoditas Ikan Mas Sinyonya sebagai ikan endemik Kabupaten Pandeglang.”
Kedua, dan ini yang ia sebut paling menentukan, adalah manusia di balik desa itu sendiri. Komitmen dan motivasi seluruh elemen masyarakat Desa Bandung untuk terus belajar dan berkembang menjadi energi yang tidak pernah padam. Semangat itu diperkuat oleh kepemimpinan seorang Kepala Desa yang memiliki visi dan misi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.
“Komitmen dan motivasi dari seluruh elemen masyarakat di Desa Bandung yang mau bekerja sama dengan Untirta dan memiliki keinginan yang kuat untuk belajar hal-hal baru untuk mengembangkan wawasan dan keterampilan. Hal ini sangat didukung oleh Kepala Desa yang memiliki visi dan misi dalam mengembangkan kesejahteraan masyarakat di Desa Bandung.”
Perpaduan antara sumber daya alam yang kuat dan sumber daya manusia yang bersemangat inilah yang menjadi fondasi mengapa kolaborasi Untirta dan Desa Bandung bukan sekadar program jangka pendek — melainkan kemitraan yang dibangun untuk bertahan lama.
Suara dari Desa: "Apapun Jadikan Duit, Jangan Disia-siakan"
Dampak kehadiran Untirta di Desa Bandung tidak hanya terasa di atas kertas laporan pengabdian. Salah seorang warga Desa Bandung secara langsung mengonfirmasi perubahan yang ia rasakan sejak kehadiran tim Untirta di desanya.
Salah satu yang paling terasa adalah perubahan dalam hal pemasaran. Dulu, produk-produk lokal desa terhenti di tahap produksi karena keterbatasan akses pasar. Kehadiran tim Untirta dengan pelatihan digital marketing dan pengemasan membuka jalan baru.
“Kalau dulu tergantung ke pemasaran. Sehingga kampus masuk untuk bantu bagaimana melibatkan pemasaran. Alhamdulillah, ada kemajuan. Banyak-banyak kemajuan.”
Salah satu bukti nyata kemajuan itu adalah sistem budi daya Ikan Mas Sinyonya berbasis komunitas yang kini sudah berjalan secara mandiri. Sistem distribusi benih ini kini sudah berjalan di tingkat masyarakat — sebuah ekosistem ekonomi mikro yang memutar nilai langsung di dalam desa.
“Siapa yang punya sawah, mau ikan mas, ambil benihnya. Kalau sudah besar, dijual lagi. Benihnya dikasih, tapi kalau sudah besar, jual kembali.”
Di balik semua program yang berjalan, ada satu filosofi sederhana yang menjadi napas Desa Bandung hari ini — sebuah prinsip kemandirian yang diucapkan dengan penuh keyakinan oleh warga setempat.
“Desa Bandung itu harus mandiri. Bagaimanapun kita harus jadi diri kita sendiri. Nggak boleh ketergantungan sama orang lain. Apapun yang bisa diusahakan di Desa Bandung, bisa diusahakan. Apapun itu jadikan, jangan disia-siakan.”
Filosofi itulah yang kini menghidupkan kopi Bukit Sinyonya — kopi yang ditanam mandiri oleh warga dari lahan mereka sendiri, diolah di desa, dan dipasarkan dari desa. Sebuah rantai nilai yang utuh, dari hulu ke hilir, tanpa harus bergantung pada pihak luar.
Dari Desa ke 12 Negara: Kesaksian Ketua Pokdarwis
Jika warga Desa Bandung berbicara tentang perubahan sehari-hari, Asep Adam bicara tentang lompatan yang lebih besar. Sebagai Ketua Panitia Festival Bubur Suro sekaligus bagian dari ekosistem Pokdarwis Desa Bandung, ia menyaksikan langsung bagaimana pendampingan Untirta mengangkat UMKM desa ke level yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Festival Bubur Suro — perayaan memperingati 10 Muharram yang kini sudah memasuki tahun keempat — menjadi salah satu momentum terbesar kebangkitan ekonomi kreatif Desa Bandung. Festival ini bukan sekadar acara budaya, melainkan panggung bagi UMKM-UMKM binaan Untirta untuk tampil, naik kelas, dan memperkenalkan diri kepada dunia.
“Masyarakat yang awalnya hanya paham tentang bahan baku, sekarang lebih diproduksi, lebih naik kelas. Ada yang kreasinya lebih naik, ada digital marketing, bagaimana cara mengemas produk, dan bagaimana cara meningkatkan penjualan melalui sosial media. Jadi sangat berdampak sekali.”
Dampak paling mengejutkan adalah jangkauan pasar yang kini sudah melampaui batas daerah — bahkan melampaui batas negara. Produk-produk lokal Desa Bandung kini sudah dipasarkan ke luar negeri melalui platform digital. Dan pada 21 Juli mendatang, desa ini akan kedatangan tamu dari 12 negara — Polandia, Afganistan, Uzbekistan, Korea Selatan, India, Filipina, dan negara-negara lainnya — yang akan hadir langsung ke Desa Wisata Bandung Bukit Sinyonya.
“Penjualannya tidak hanya di dalam daerah sendiri. Alhamdulillah sampai saat ini kami sudah jual ke luar negeri juga. Bahkan nanti tanggal 21 Juli yang akan mendatang, kita akan ada kedatangan dari macam negara — sekitar 12 negara yang datang ke sini. Dan kami akan menjadikan ini momentum memperkenalkan produk lokal. Tentunya ini menjadi nilai jual yang sangat tinggi.”
Asep Adam juga secara khusus menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Untirta atas pelatihan penjualan produk secara online — yang menurutnya menjadi salah satu faktor terbesar perubahan di desanya.
“Saya ucapkan banyak terima kasih kepada Universitas Untirta yang telah hadir ke Desa Bandung, meningkatkan ekonomi masyarakat, dan terus memberikan pelatihan yang sangat berdampak. Alhamdulillah saat ini kami sudah bisa membuka produk melalui sosial media — mulai dari Shopee, TikTok — dan itu sangat berdampak sekali terhadap penjualan produk yang ada di Desa Bandung.”
“Nah dari situ, Desa Bandung ditentukan menjadi salah satu desa binaan Untirta. Dengan menjadi salah satu desa binaan Untirta, kami melaksanakan berbagai macam kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Bandung — mulai dari pelatihan budidaya ikan, pelatihan pengolahan hasil perikanan, pelatihan digital marketing, pelatihan packaging, pelatihan halal dan lain sebagainya yang sangat membantu kemajuan di Desa Bandung ini.”
10 Pelatihan, Satu Tujuan: Kemandirian Warga
Yang membedakan pendekatan Dr. Dodi dari sekadar penyuluhan biasa adalah keseriusannya membekali masyarakat dari hulu ke hilir — dari teknik budidaya hingga cara menjual produk. Bersama rekan sejawatnya, ia merancang dan menjalankan sepuluh jenis pelatihan yang mencakup seluruh rantai nilai perikanan.
Di sisi produksi, warga dilatih teknik kawin suntik ikan mas Sinyonya, budidaya pakan alami untuk larva ikan, dan pembuatan pakan buatan — tiga kompetensi teknis yang langsung berdampak pada keberhasilan budi daya di tingkat rumah tangga. Di sisi pengolahan, pelatihan pembuatan ikan asap, olahan ikan kaki naga, dan mie sobek berbahan baku ikan membuka peluang diversifikasi produk yang bernilai tambah tinggi.
Namun Dr. Dodi tidak berhenti di situ. Ia menyadari bahwa kemampuan teknis tanpa kemampuan bisnis tidak akan membawa perubahan yang berkelanjutan. Maka ia lengkapi rangkaian pelatihan dengan pengemasan produk, digital marketing, manajemen dan kepemimpinan, serta pengurusan izin usaha dan sertifikasi halal — memastikan bahwa produk yang dihasilkan warga tidak hanya berkualitas, tetapi juga siap bersaing di pasar modern.
Smart Salt Tunnel: Inovasi untuk Pesisir Selat Sunda
Kepedulian Dr. Dodi pada masyarakat pesisir Banten tidak hanya terwujud melalui budidaya ikan. Pada 2024, ia mengembangkan teknologi Smart Salt Tunnel — inovasi penggaraman yang dirancang khusus untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi garam di kawasan Pesisir Selat Sunda. Ini merupakan kelanjutan dari riset pergaraman yang telah ia rintis sejak 2016 bersama Balitbangda Provinsi Banten dan DKP Provinsi Banten.
Bagi petani garam yang selama ini bergantung pada cuaca dan cara tradisional, kehadiran teknologi ini membuka harapan baru — bahwa garam Banten bisa hadir dengan kualitas yang lebih baik dan nilai jual yang lebih tinggi.
Menggali Kearifan Lokal: Dari Baduy hingga Bahan Pakan Lokal
Salah satu dimensi penelitian Dr. Dodi yang paling unik adalah ketertarikannya pada kearifan dan sumber daya lokal Banten. Pada 2016, ia menginisiasi penelitian identifikasi dan karakterisasi bahan pangan lokal Etnis Baduy dalam rangka mendukung ketahanan pangan — sebuah upaya untuk memahami bagaimana komunitas adat yang hidup sederhana namun mandiri itu mengelola sumber pangan mereka.
Pendekatan berbasis lokalitas ini juga tercermin dalam penelitian pakan ikannya — dari pemanfaatan Corn Steep Liquor, Corn Gluten Meal sebagai hasil buangan pabrik jagung, hingga silase limbah sayuran sebagai bahan pakan ikan. Sebuah filosofi yang konsisten: sebelum mencari bahan dari luar, optimalkan dulu apa yang ada di sekitar kita.
Jejak Pengabdian yang Menyentuh Banyak Lapisan
Rekam jejak pengabdian masyarakat Dr. Dodi terbentang dari berbagai wilayah dan lapisan masyarakat di Banten. Ia memberikan bimbingan teknis pembuatan pakan ikan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lebak, mendiseminasikan teknologi budidaya udang vaname air tawar kepada Dinas Perikanan Provinsi Banten, hingga memperkenalkan teknologi akuaponik — sistem budidaya ikan dan tanaman terpadu — sebagai solusi produktif untuk pekarangan rumah warga Banten.
Semua kegiatan pengabdian ini mendapat dukungan dari berbagai sumber pendanaan — DIKTI, Kemendiktisaintek, IDB, Balitbangda, dan Dinas Kelautan dan Perikanan — yang mencerminkan kepercayaan berbagai institusi terhadap rekam jejaknya di lapangan.
Ilmu yang Baru Bekerja Ketika Sampai ke Masyarakat
Melihat keseluruhan perjalanan Dr. Dodi Hermawan — dari disertasi tentang limbah jagung sebagai pakan ikan, hingga pelatihan mie sobek berbahan ikan di desa — ada benang merah yang tidak pernah putus: keyakinan bahwa ilmu pengetahuan belum selesai bekerja sampai ia menghasilkan perubahan nyata di tangan orang-orang yang paling membutuhkannya.
Di tangan dosen seperti Dr. Dodi, laboratorium dan kolam penelitian bukan sekadar tempat menghasilkan paper — melainkan tempat merancang solusi yang kelak akan berjalan sendiri di desa, jauh setelah tim peneliti kembali ke kampus.
“Beberapa kegiatan terkait dengan hibah penelitian dari Kemendiktisaintek itu berhasil kita peroleh hibahnya — yang ada kaitannya dengan kemitraan di Desa Bandung, baik itu Pokdakan-nya, BUMDes-nya, bahkan Pokdarwis-nya. Sehingga bisa kita lihat sampai saat ini, Desa Bandung dengan kehadiran Untirta sudah cukup berkembang sebagai salah satu desa yang membanggakan bagi Provinsi Banten.”
“Ilmu yang tidak sampai ke masyarakat belum selesai bekerja.
Kunci keberhasilan bukan hanya pada riset yang kita hasilkan,
tetapi pada kemauan masyarakat untuk belajar dan berkembang bersama kita.”
— Dr. Dodi Hermawan, S.Pi., M.Si







